web analytics
  

OTG Covid-19 Belum Tentu Aman, Waspada Happy Hypoxia

Senin, 19 Oktober 2020 21:36 WIB Nur Khansa Ranawati
Gaya Hidup - Sehat, OTG Covid-19 Belum Tentu Aman, Waspada Happy Hypoxia, Orang Tanpa Gejala (OTG),OTG Covid-19,Happy Hypoxia

dr. Rahmat Arif (kanan) dalam talkshow "Ayo #IngatPesanIbu" yang diselenggarakan Ayobandung.com di kantor PT Ayo Media Network, Senin (19/10/2020). (Nur Khansa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Orang yang dinyatakan positif Covid-19 bisa memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang mengidap sejumlah gejala dalam skala ringan, ada yang mengalami gangguan pernapasan akut, namun ada pula yang nampak sehat dan tidak merasakan apapun.

Kondisi yang terakhir banyak dikenal dengan istilah OTG atau Orang Tanpa Gejala. Meski dinyatakan positif terpapar Covid-19, seorang OTG bisa tetap beraktivitas dengan normal tanpa mengalami gangguan kesehatan sedikitpun.

Namun, meski tanpa gejala, terdapat situasi khusus yang dapat menjadikan seorang OTG masuk ke dalam fase kritis. Kondisi tersebut dinamai sindrom Happy Hypoxia.

"Biasanya orang yang terkena Covid-19 kan dikenal punya gejala batuk, demam, atau sakit tenggorokan. Sekarang tidak harus ada kondisi-kondisi tersebut," ungkap dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung, dr. Rahmat Arif ketika memberi penjelasan dalam talkshow "Ayo #IngatPesanIbu" yang diselenggarakan Ayobandung.com, Senin (19/10/2020).

Ia mengatakan, dalam kasus Covid-19, seseorang yang mengalami Happy Hypoxia bisa jadi tidak memiliki gejala klinis apapun. Namun, tiba-tiba orang tersebut mengalami sesak hingga meninggal dunia.

"Sekarang ada kondisi baru, happy hypoxia. Dimana pasien baik-baik saja, tidak ada gejala. Tapi tiba-tiba dia sesak, dan ya sudah saja, tergeletak. Ketika dicek, saturasi oksigen sudah turun banget," ungkapnya.

Idealnya, ia mengatakan, saturasi oksigen seseorang berada di atas 90%, yakni dalam rentang 95%-100%. Angka tersebut setara dengan 75-100mmHg. Ketika kadar oksigen dalam darah berkurang sehingga mencapai di bawah angka tersebut, tubuh akan kekurangan oksigen. Kondisi inilah yang dinamai "Hypoxia".

Pada kasus tertentu, orang yang mengalami hypoxia juga tidak merasakan apapun, dan kondisi tersebut baru diketahui ketika orang yang bersangkutan menjalani pemeriksaan saturasi oksigen. Kondisi hypoxia tanpa tanda-tanda ini dinamai "Happy Hypoxia" dan diduga dapat terjadi pada penderita Covid-19.

Oleh karenanya, ia menyarankan, seseorang yang masih rutin berkegiatan di luar rumah selama masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dapat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Bila khawatir terpapar Covid-19, ia mengimbau agar masyarakat dapat melakukan tes mandiri.

"Tapi kalau rapid test itu akurasinya hanya 30%. Dia hanya mengecek antibodi saja dan orang yang suda terinfeksi pun (ketika dites rapid) antibodi-nya belum tentu muncul. Yang akurat itu tes swab," ungkapnya.

"Bila seseorang masih banyak aktivitas di luar rumah dan ingin melakukan skrining dini,  silakan lakukan tes. Saat ini sudah banyak tes mandiri yang bisa diakses," lanjutnya.

Ia mengatakan, hingga saat ini para peneliti pun masih terus berupaya mengenali SARS-CoV-2 atau virus penyebab Covid-19. Pasalnya, gejala yang ditimbulkan dalam pasien positif Covid-19 pun masih berkembang.

"Karena ini masih baru, jadi masih berada dalam tahap penelitian untuk mengenal. Sampai sekarang manifestasinya bisa macam-macam, banyak banget. Bahkan ada yang sampai bikin kulit bentol-bentol. Jadi tidak bisa dianggap remeh," jelasnya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers