web analytics
  

Pemerintah Masih Tunggu Uji Klinis Keamanan Vaksin Covid-19 Sinovac

Selasa, 20 Oktober 2020 19:03 WIB Aini Tartinia
Umum - Nasional, Pemerintah Masih Tunggu Uji Klinis Keamanan Vaksin Covid-19 Sinovac, vaksin Covid-19 Sinovac,Uji klinis vaksin Covid-19,Menristek Bambang Brodjonegoro

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro. (istekbrin.go.id)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah masih menunggu hasil uji klinis vaksin Covid-19 asal China, Sinovac. Uji klinis ini untuk mengetahui khasiat hingga kemanan vaksin saat diberikan ke masyarakat.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro, memastikan hingga saat ini belum ada hasil apakah vaksin tersebut aman bagi kelompok usia tertentu, seperti anak-anak, lansia, dan penderita komorbid.

Hal ini menurut Bambang, masih menunggu hasil akhir uji klinis yang diperkirakan rampung pada akhir 2020.

“Ya, memang di tahap awal vaksin itu akan difokuskan pada usia 18 tahun hingga 59 tahun itu standar di seluruh dunia dan untuk vaksin anak-anak maupun vaksin lansia ditambah yang punya penyakit komorbid itu, memang nanti akan tergantung kepada hasil uji klinis,” ujar Bambang dalam webinar Nasional Upaya Pencarian Vaksin, Obat, dan Inovasi Penanggulangan Covid-19, Selasa (20/10/20).

Dari hasil uji klinis vaksin itu, kata Bambang, dapat diketahui pula pemberian dosis dan penanganan vaksinasi bagi kelompok usia tertentu, sehingga tidak ada efek samping yang signifikan.

“Intinya vaksinnya sama, tetapi mungkin harus diperhatikan apakah dosisnya, apakah ada treatment khusus untuk kategori tadi kategori anak-anak, lansia, maupun kategori
yang punya penyakit bawaan,” ucapnya.

Bambang melanjutkan, dari uji klinis ini nantinya tenaga medis atau tenaga kesehatan (nakes) memetakan kelebihan dan kekurangan vaksinasi ke kelompok usia tertentu. Termasuk efek samping yang muncul setelah vaksin diberikan.

“Intinya semuanya akan mendapatkan vaksin tapi istilahnya tahapan awal ketika masih uji coba itu adalah untuk kelompok yang 18 tahun hingga 59 tahun,” kata Bambang.

“Tapi setelah melalui uji klinis setelah diketahui bagaimana kelebihan kekurangannya baru kemudian disesuaikan untuk kelompok yang saya katakan tadi anak, lansia, dan penyakit bawaan," pungkasnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers