web analytics
  

Menghadapi Stigma Sosial terhadap Pasien Covid-19

Selasa, 20 Oktober 2020 15:57 WIB Andres Fatubun
Umum - Nasional, Menghadapi Stigma Sosial terhadap Pasien Covid-19 , Satgas Covid-19,Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo,Stigma Covid-19

Ilustrasi pasien Covid-19 (Mufid Majnun/Unsplash)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kurangnya informasi soal Covid-19 menimbulkan persepsi yang keliru terhadap orang yang terpapar virus Corona. Sekalipun sudah dinyatakan sembuh stigma tetap melekat.

Hal tersebut mengemuka dalam takshow "Penguatan Sistem Sosial Penanganan Penyintas Covid-19" dari Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB Jakarta, Selasa (20/10/2020).

Ketua Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI), Dr. dr Irmansyah, mengatakan stigma itu adalah keliru yang negatif. 

"Dalam konteks pasien Covid-19, orang yang terstigma dipandang sebagai penderita, harus dijauhi, menimbulkan masalah dan ketidaknyamanan. Akibatnya masyarakat akan bertindak negatif juga," katanya. 

Hal ini menyebabkan penanganan terhadap pasien Covid-19 terhambat.

Ia menjelaskan lebih lanjut, bisa saja seseorang yang mengalami gejala-gejala Covid-19 pada akhirnya menyembunyikan dan enggan memeriksakan dirinya. Dia takut karena merasa akan dijauhi masyarakat. 

"Jadi mereka ini mengalami double burden, sudah sakit dijauhi pula," tutur Irmansyah.

Lalu apa yang harus dilakukan menghadpi stigma sosial ini?

Tim Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Urip Purwono, menjelaskan WHO sudah memiliki panduan mengelola stigma ini. 

Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah menyebarluaskan fakta-fakta soal Covid-19. Misalnya apa itu virus corona, bagaimana cara penularannya, bagaimana bila terpapar Covid-19, apa yang harus dilakukan dan sebagainya. Informasi tersebut sudah tersedia di situs Satgas Covid-19 dan situs penanganan Covid-19 di setiap pemerintahan daerah. Dengan mengetahui faktanya yang sebenarnya, diharapkan persepsi yang sebelumnya salah bisa dikoreksi. 

Urip pun menyinggung peran media. Ia mengatakan media sangat berperan menyebarluaskan atau menggaungkan tentang kisah penyintas Covid-19 selama menjalani perawatannya hingga dinyatakan sembuh.

"Kisah penyintas ini bisa memberikan inspirasi," katanya

Media pun dapat mengangkat kisah kearifan lokal seperti sikap gotong royong yang dinilainya kurang diekspos selama masa pandemi oleh media massa. 

Selain itu peran publik figur atau influencer yang berhubungan dengan penanganan Covid-19 dapat memperkuat pesan untuk mengurangi stigma.

Peran tokoh lokal dan bahasa daerah juga bisa menyasar golongan masyarakat tertentu yang kesulitan mengakses informasi Covid-19.

Pada akhirnya kunci menghadapi stigma sosial ini adalah kebersamaan karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial.

Kisah Bankir Penyintas Covid-19
Bankir dan pengusaha Arwin Rasyid tak menyangka bahwa ia akan terpapar virus corona yang membuatnya harus dirawat di Rumah Sakit Medistra Gatot Subroto. 

"Saya ini merasa terkecoh. Tanggal 11 Oktober, waktu itu saya merasakan demam setelah bermain golf di Bali. Saya pikir ini demam biasa, karena tidak terasa gejala covid seperti batuk atau sesak nafas," katanya dalam talkshow "Perjuangan Penyintas Melawan Covid-19" dari Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB Jakarta, Senin (19/10/2020).

Tanggal 14 September ia kembali ke Jakarta. Sebelumnya ia menjalani rapid test di Bali dengan hasil negatif. 

Namun setelah di Jakarta, demamnya tak kunjung sembuh sehingga ia memutuskan melakukan tes darah untuk DBD dan tipes. 

Hasilnya diluar dugaan, ternyata dia positif terpapar Covid-19.

"Bagaimana ini bisa terjadi, sebelumnya saya sudah dinyatakan negatif. Tapi itu kenyataan. Teman saya yang golf di Bali itu semuanya juga kena Covid. Dua masuk rumah sakit dan empat isolasi," tutur Arwin yang pernah menjabat Direktur Utama (Dirut) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Bank CIMB Niaga.

Arwin kemudian dirawat di Medistra. Pada awalnya dia enggan menerima kenyataan ini. Dia mengatakan menyesal karena sudah berbuat lalai. Lalai yang ia maksudkan adalah pengalaman makan bersama dengan teman-temannya tanpa menggunakan masker dan dalam jarak yang berdekatan. 

"Jadi selama dua sampai tiga hari di rumah sakit itu saya menyesal dan merasa cemas. Tapi buat apa terus menyesali, toh saya ingin segera sembuh. Pada hari ketiga baru rasa optimis itu muncul. Jangan menyalahkan diri sendiri atau orang lain, lebih baik kita bangkit," kata Arwin.

Dengan sikap optimis dan dukungan dari istri serta anak-anaknya akhirnya ia bisa sembuh. 

Setelah sembuh, Arwin membagikan pengalamannya ini.

"Ada tiga hal yang ingin saya sharingnya," katanya. 

Pertama, gejala Covid-19 itu datang dalam berbagai bentuk. "Seperti saya cuma demam, tapi buat orang lain mungkin beda," katanya. 

Kedua, kepada pasien Covid-19 ia meminta jangan bersikap panik. Tenang saja dan hadapi dengan rasa optimis. 

Ketiga, terimalah kenyataan terpapar Covid-19 dengan lapang dada. "Ini memang tidak gampang, tapi kita harus menerimanya dulu kemudian bangkit," ujar Arwin.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers