web analytics
  

Mengemas Pelajaran Sejarah agar Menarik Minat Siswa

Selasa, 20 Oktober 2020 02:07 WIB Netizen Sam Edy Yuswanto
Netizen, Mengemas Pelajaran Sejarah agar Menarik Minat Siswa, sejarah,Mata pelajaran sejarah,Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Ilustrasi (Pixabay)

Sam Edy Yuswanto

Penulis lepas, tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.

AYOBANDUNG.COM – Mata pelajaran sejarah saat ini mungkin bagi sejumlah siswa kurang menarik. Salah satu alasannya metode belajar ceramah.

Terkait pelajaran sejarah yang membosankan juga diakui oleh Husni Nilawati S.Pd Ing, Guru SMP Islam Purbolinggo Lampung Timur. Menurutnya, dalam pembelajaran mata pelajaran sejarah peserta didik kerap jenuh, ngantuk, dan masih ada sejuta alasan lain bagi mereka untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Bila ditelisik, salah satu alasan yang membuat siswa bosan karena guru cenderung menggunakan metode ceramah, sehingga secara hal ini akan membunuh rasa keingintahuan dalam diri anak, karena pembelajaran lebih didominasi guru, sementara anak hanya pendengar setia (Republika.co.id, 16/03/2013). 

Mata pelajaran sejarah menjadi hal penting untuk dipelajari para generasi bangsa-- salah satunya--agar mereka tahu betapa keras perjuangan para leluhur memperjuangkan negeri ini.

Nadiem Makarim, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah berusaha meningkatkan penyajian mata pelajaran sejarah agar lebih menarik dan relevan. Sebagaimana dilansir laman Ayobandung.com (20/09/2020) bahwa dia berencana menggunakan media yang menarik dan relevan untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda. Identitas generasi baru yang nasionalis hanya bisa terbentuk dari suatu kolektif memori yang membanggakan dan menginspirasi.

Menurut pandangan saya, salah satu media yang sangat bagus untuk mengajarkan mata pelajaran sejarah kepada para siswa adalah dengan media cerita. Misalnya, kisah tentang perjuangan seorang tokoh kemerdekaan, dikemas menjadi sebuah cerita pendek atau novel dengan bahasa yang ringan dan tak berbelit-belit.

Melalui cerita pendek dan novel, diharapkan para siswa dapat lebih merenungi makna sejarah dan kelak bisa menghargai jasa para pejuang kemerdekaan sekaligus meniru semangat mereka dalam membela tanah air tercinta ini.

Metode lain yang bisa digunakan agar pelajaran sejarah menarik perhatian siswa adalah dengan melalui pementasan drama yang dimainkan oleh para siswa. Hal ini sebagaimana disarankan Husni Nilawati S.Pd Ing, bahwa ketika anak memerankan tokoh pahlawan, di sinilah tugas kita membimbing mereka tidak hanya membayangkan sifat arif, bijaksana, dan tegas, tetapi juga harus dapat mempraktikannya (Republika.co.id, 16/03/2013). 

Jangan Sampai Pelajaran Sejarah Ditiadakan

Sebelumnya berembus kabar pihak Kemendikbud konon ingin meniadakan mata pelajaran sejarah dari kurikulum nasional. Nadiem Makarim mengklarifikasi isu tersebut. Dia membantah informasi yang mengatakan Kemendikbud berencana menghapus mata pelajaran (mapel) sejarah dari kurikulum. Ia menegaskan bahwa tidak pernah ada keinginan atau rencana menghapus mapel sejarah.

Menurutnya, isu ini muncul setelah beredarnya presentasi internal tentang per mutasi penyederhanaan kurikulum. Ia mengakui, memang banyak usulan versi penyederhanaan kurikulum yang sedang melalui FGD maupun uji publik, namun kesemua itu belum final. Ia juga memastikan, penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan sampai 2022. Sementara pada tahun 2021 sekali pun akan dilakukan prototype, hanya di sekolah penggerak yang terpilih dan bukan dalam skala nasional (AyoBandung.com, 20/09/2020).

Klarifikasi yang sudah disampaikan oleh Nadiem Makarim paling tidak bisa melegakan semua pihak, terutama para pemangku pendidikan, bahwa tidak perlu ada lagi yang dikhawatirkan tentang ditiadakannya mapel sejarah. Karena semua itu hanya isu yang bisa jadi sengaja disebarkan oleh orang-orang yang ingin memecahbelah kerukunan umat manusia di negeri ini.

Setiap orang saya yakin sepakat bila pelajaran sejarah harus tetap ada dan terus dipelajari oleh anak-anak muda yang akan menjadi penerus perjuangan negeri ini. Ada begitu banyak manfaat yang akan kita peroleh dari belajar tentang sejarah.

Wibi Adi dalam laman IDN Times (17/07/2019) menuliskan lima manfaat belajar sejarah, yakni: membuka pandangan kita lebih luas terhadap dunia, melatih diri menjadi lebih kritis terhadap sesuatu, sejarah sebagai sumber inspirasi, jadi lebih menghargai masa lalu, dan tak hanya mendapatkan materi semata.

Maksud dari tak hanya mendapat materi semata, sebagaimana dijelaskan oleh Wibi Adi, adalah bahwa pelajaran sejarah di sekolah tak hanya sebagai materi biasa yang memberikan kita konsumsi pada otak, namun sejarah mampu dijadikan sebagai sarana rekreasi yang pas dalam bidang akademis.

Ketika seorang guru menceritakan kisah sejarah, otomatis kita akan diajak untuk berfantasi dan masuk ke dalam ruang di masa lampau. Selanjutnya, otak kita pun akan secara otomatis menggambarkan peristiwa yang diceritakan oleh guru dan kita sebagai orang yang mengamati jalannya peristiwa tersebut.

Akhirnya, kita tentu sangat berharap, dengan belajar sejarah maka para generasi muda akan lebih menghargai jasa para pahlawan. Selain itu, mereka akan terlecut semangat untuk membangun dan memakmurkan negeri ini. Kita juga sangat berharap, semoga Nadiem Makarim benar-benar merealisasikan iktikad baiknya yang ingin meningkatkan kualitas mapel sejarah dengan menggunakan media yang menarik dan relevan untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda saat ini.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers