web analytics
  

Rangkaian Upacara Kematian Menak Priangan

Kamis, 15 Oktober 2020 12:33 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Baheula - Baheula, Rangkaian Upacara Kematian Menak Priangan, Pangeran Sugih,pengajian,Menak Priangan,Sejarawan Nina Lubis

[Ilustrasi] Menak Priangan. (Arsip Nasional Belanda/Gahetna)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Kaum aristrokat di Jawa Barat yang dikenal dengan sebutan menak kerap melakukan beragam upacara yang menunjukkan posisinya saat itu. Dikutip dari buku sejarawan Prof Nina Lubis Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942, upacara-upacara yang dilakukan melambangkan makna hidup, kekuasaan, kekayaan, dan kewibawaan.

Kaum Menak akan menonjolkan derajat dan status untuk menjaga kewibawaan mereka, termasuk dalam upacara kematian. Dirangkum dari buku yang sama, berikut kisah upacara kematian Menak Priangan.

Saat seorang menak meninggal, para pejabat, baik pribumi maupun Belanda berdatangan melayat. Seperti yang terjadi saat kematian Pangeran Sugih.

“Ribuan rakyat dari berbagai pelosok kabupaten ikut berkumpul di alun-alun dan mengantarkan kepergian tuannya ke makam,” tulis Nina.

Rangkaian kematian disesuaikan dengana adat Sunda. Selama 7 malam diadakan pengajian (tahlil). Sedekah diadakan pada hari ke-3 (tiluna), hari ke-7 (tujuhna), hari ke-40 (matang puluh), hari ke-100 (natus), ulang tahun pertama (mendak taun), dan hari keseribu (néwu). Pada hari ke-7 dan ke-40, sedekah dilakukan secara besar-besaran.

Tidak hanya rangkaian peringatan kematian yang dilakukan besar-besaran, dibuat pula lingga (monumen) sebagai penghormatan seorang Menak berjasa. Salah satunya untuk Pangeran Suria Atmaja, Bupati Sumedang yang wafat tanggal 1 Juni 1921 di Mekah selagi menunaikan ibadah haji.

“Bupati ini dianggap amat berjasa, bukan saja di kalangan rakyat biasa, melainkan juga di mata Pemerintah Hindia Belanda,” tulis Nina.

Tanggal 1 April 1922 menjadi hari bersejarah saat peresmian lingga tersebut dihadiri Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Residen Priangan, para asisten residen, para pejabat Belanda lainnya, juga para bupati Priangan. Tidak ketinggalan kaum Menak Sumedang di bawah bupati beserta kerabatnya.

Para petinggi Belanda, termasuk Gubernur Jenderal D Fock, Residen Priangan Eijken, Ajudan Gubernur Jenderal Cranwinckel, dan Algemene Secretaris Welter disambut baik dengan letusan meriam dan pemukulan beduk.

Iringan lagu kebangsaan Belanda mewarnai proses peresmian dari pembukaan hingga akhir. Acara kemudian dilanjutkan dengan resepsi di kabupaten.

Menak Memiliki Kompleks Pemakaman Khusus

Kaum Menak biasanya memiliki kompleks pemakaman khusus untuk keluarganya. Dilansir dari Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942, kaum Menak Bandung memiliki kompleks makam di Karanganyar, Dalem Kaum, dan Dayeuh Kolot.

Menak Sumedang memiliki kompleks makam di Gunung Puyuh, Dayeuh Luhur, dan Gunung Ciung. Menak Cianjur memiliki kompleks makam di Pasarean Agung, Pamoyanan, Pasir Hayam Babakan Jati, Cibeber, Sarampad, dan Cibalagung. Menak Sukapura memiliki kompleks makam di Pamijahan, Gunung Tanjungmalaya, Cipeujeuh, Baganjing, Manonjaya, dan lain-lain.

Makam kaum Menak juga tidak berbentuk biasa. Terkait dengan pengaruh besar dan martabat tinggi para Menak, kondisi itu pun tercermin dalam bentuk makam. Makam biasanya dibuat megah dengan atap dan pemasangan pagar besi di sekelilingnya.

“Beberapa makam bupati ada yang dikeramatkan orang sehingga sekeliling makam dibenahi untuk tempat menginap orang-orang yang mencari berkah dari makam,” tulis Nina. (Ventriana Berlyanti)

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers