web analytics
  

Membangun Solidaritas Baru Pascapandemi

Sabtu, 17 Oktober 2020 16:59 WIB Netizen Willfridus Demetrius S
Netizen, Membangun Solidaritas Baru Pascapandemi, Dampak Corona,Dampak Pandemi Covid-19,Solidaritas

Program setiap Jumat para biarawari SSCC membagikan susu kepada anak-anak warga sekitar Blok Beas, Bandung. (Ignatius Yunanto)

Willfridus Demetrius S

Dosen Fakultas Filsafat–Lembaga Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Aktif sebagai pengajar, penulis, dan peneliti ilmu-ilmu humaniora.

AYOBANDUNG.COM -- Pandemi membuat kita merefleksikan banyak hal: degradasi mental, keterpurukan ekonomi, kerusakan ekologi, moralitas, dinamika politik, konspirasi kapitalis, tubuh yang rapuh diserang virus, tawaran antivirus, dan bahkan geliat untuk terus mendefinisikan secara baru hubungan antarpersonal. Semua bentuk refleksi itu bermuara pada satu pertanyaan: solidaritas seperti apa yang perlu dibangun bersama pascapandemi?

Survei Litbang Kompas (14/06/2020) menyebut solidaritas telah menjadi identitas bangsa sehingga perlu terus dipelihara. Hasil survei menunjukkan hampir 60 persen memberikan bantuan pada warga terdampak secara ekonomi. Cara memberikan sumbangan pun beragam. Sebanyak 35 persen memberikan bahan pokok langsung kepada keluarga yang terdampak. Sementara 12 persen lainnya memberikan donasi secara tidak langsung melalui media cetak/elektronik, serta situs penggalangan dana. Bantuan juga diberikan kepada petugas medis, bahkan ada warga memanfaatkan waktu mereka dengan menjadi sukarelawan.

Tindakan solidaritas lain yang luar biasa datang dari warga Kelurahan Cipageran, Kota Cimahi. Gerakan ‘sasaji’ (Sarebu Satu Jiwa – Salametkeun Sakabeh Jiwa) menjadi bukti bahwa masih ada harapan dan tindakan nyata untuk membangun solidaritas berdasarkan kebersamaan dan gotong-royong. Upaya itu selalu tumbuh dari bawah (warga).

Kita sepakat bahwa solidaritas diciptakan 'dari bawah', dibentuk dan diprakarsai oleh kelompok dan aktor biasa (baca: warga). Para aktor ini mengeksplorasi kesadaran baru untuk merangsang dan memperkuat solidaritas. Jika dilihat dari perspektif kebangsaan, solidaritas menjadi bukti bela negara yang mewujud dalam tindakan menolong tetangga atau saudara terdekat. Keseluruhan nilai, termasuk yang terkandung dalam Pancasila, dipahami sebagai ‘kata kerja’ yang menggerakkan orang untuk mewujudkan ritual sosial yang menyejahterahkan (common good).

Ruang publik (polis dalam istilah Yunani) hendaknya dilihat sebagai hasil kegiatan untuk menggalang solidaritas warga yang disebut ‘bertindak’ (Budi Hardiman, 2010). Kata ‘bertindak’ dalam konteks ini dilihat sebagai kegiatan warga untuk warga dalam ruang publik yang memberi peluang bagi komunikasi dan kemajemukan identitas.

Komitmen

Fenomena-fenomena yang dipertontonkan bangsa ini, bahkan jauh sebelum pandemi, menempatkan kita dalam krisis ‘mengalami’ solidaritas. Individu-individu yang mengalami kerancuan identitas tercerabut dari komunitas budaya lokal. Hukum survival of the fittest-nya Darwin menjadi aturan rutin yang menyingkirkan sikap saling pengertian, empati, keterbukaan, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Namun, kita juga bisa bersepakat bahwa pandemi ini kemudian menjadi momen yang menyatukan masyarakat, membangun sebuah kesadaran baru (kenormalan baru), cara bertindak yang bermakna, dan bukan sebaliknya mencerai-beraikan. Kesalingtergantungan membangun solidaritas kolektif, kerja sama, kepercayaan, dan saling membutuhkan melalui interaksi, hendaknya menjadi sebuah tindakan repetisi sosial yang hidup. Solidaritas seperti inilah yang disebut sebagai solidaritas dalam kedekatan (Putnam, 2017).

Solidaritas hanya mungkin terjadi melalui integrasi moral ke dalam komunitas dan komitmen bersama untuk mewujudkannya. Sebagai negara yang memiliki indeks modal sosial tinggi, Indonesia harus memandang korelasi berjejaring sebagai sumber utama solidaritas dalam masyarakat. Keberagaman yang diyakini sebagai given (yang terberikan) hendaknya mendorong kita untuk menerima perbedaan sebagai bagian dari "kita" (Rorty, 1989).

Praktik solidaritas mestinya menghasilkan bentuk-bentuk identifikasi yang menilai keberagaman bukan lagi sebagai persaingan dan dominasi tetapi sebagai hasil hati nurani yang memandang dan memperlakukan sesama sebagai subjek, bukan sebagai objek fungsional. Menerima orang lain sebagai “kita” menjadi langkah awal untuk menciptakan rasa solidaritas yang lebih luas. Bangsa sebagai sebuah sistem tidak dapat berfungsi tanpa kesetiaan massal dan komitmen untuk memperluas lingkaran empati setiap warganya.

Mampertahankan Kebertubuhan

Selama seabad terakhir teknologi telah menjauhkan kita dari tubuh kita sendiri. Kita telah kehilangan kemampuan untuk memperhatikan apa yang kita cium dan cicipi. Sebaliknya, kita dihisap masuk ke dalam ponsel dan komputer cerdas. Kita lebih tertarik dengan apa yang terjadi di dunia maya dari pada apa yang terjadi di jalanan. Interaksi yang dimediasi oleh kontak indrawi teralihkan oleh setiap perangkat telepon pintar.

Harari (2018) menyebut, jika media sosial sekarang bertujuan untuk menghasut revolusi global, ia harus melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik dalam menjembatani kesenjangan antara daring dan luring. Media sosial cenderung melihat manusia sebagai hewan audiovisual–sepasang mata dan telinga yang terhubung ke sepuluh jari, layar, dan kartu kredit. Dari tengah pergeseran seperti ini, bagaimana kita mempertahankan kebertubuhan, individualitas, keanekaragaman, dan rasa solidaritas kita?

Meski pengalaman berteknologi menggiring kita untuk meyakini bahwa daring (dalam jaringan, online) datang dengan mengorbankan luring (luar jaringan, offline), kita toh tetap percaya bahwa komunitas fisik memiliki kedalaman yang tidak bisa ditandingi oleh komunitas virtual. Setidaknya sampai saat ini.

Manusia memiliki tubuh. Langkah penting untuk menghargai manusia adalah menghargai bahwa manusia memiliki tubuh. Semakin canggih teknologi digital, semakin besar kebutuhan untuk merasakan sentuhan indrawi melalui perjumpaan dan koneksi sosial. Kita, baik secara individu maupun kolektif, bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kita dilayani, dan bukannya diperbudak, oleh teknologi.

Kegelisahan atas teknologi ini cukup beralasan karena posisinya yang bias dalam komitmen etis mencapai solidaritas manusia. Jika kita tidak berhati-hati menyikapi teknologi yang berkelindan lekat dengan kapitaslime, menurut Harari, kita akan berakhir sebagai manusia yang turun level (downgraded human) yang menyalahgunakan komputer yang naik level (upgraded computer) untuk mengacaukan diri sendiri dan dunia.

Pembebasan Sosial

Perubahan cepat sosial-ekonomi, yang telah melemahkan atau menghancurkan komunitas-komunitas mapan, bisa juga dilihat sebagai peluang untuk memperluas makna solidaritas. Solidaritas jenis baru diprediksi akan muncul dalam bentuk gerakan sosial baru, khususnya yang terkait ekologi, feminisme, dan keadilan global.

Tantangan utama kita saat ini adalah mengembangkan budaya dengan karakter yang berbeda dari berbagai tatanan sosial yang sudah ada. Dibutuhkan sebuah inisiatif pembebasan sosial yang memungkinkan setiap warga negara memperoleh kembali esensi kediriannya, sebagai pelaku (aktor), dalam setiap interaksi sosial. Jangan lagi energi sosial bangsa ini terkuras oleh konflik yang terjadi sebelum pandemi, selama pandemi, dan mungkin saja pascapandemi.

Kołtan (2016) mengingatkan, krisis saat ini sedang mengarahkan kita pada imitated solidarity (solidaritas yang ditiru). Pascapandemi, kita diajak untuk menjadi saksi bagi cara-cara baru untuk mengekspresikan solidaritas. Gerakan-gerakan yang berpotensi memperkuat kerja sama dan mobilisasi antara individu dan kelompok harus diolah dengan baik.

Sekaranglah saatnya kita membangun solidaritas baru!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers