web analytics
  

Kelaparan di Rancaekek Tahun 1923

Sabtu, 17 Oktober 2020 13:42 WIB Netizen Hafidz Azhar
Netizen, Kelaparan di Rancaekek Tahun 1923, Kelaparan,Rancaekek,Sejarah Rancaekek,Sapoe Djagat

Rancaekek tahun 1928. (Dokumentasi KITLV)

Hafidz Azhar

Penulis lepas, alumnus pascasarjana Kajian Budaya Unpad, Redaktur situmang.com

AYOBANDUNG.COM -- Menjelang tahun 1924, areal persawahan di Rancaekek habis dibabad hama. Tikus-tikus  merusak padi, hingga sawah tidak dapat tumbuh dengan subur. Para petani kebingungan, karena sawahnya harus menjadi korban. Kala itu, nasi adalah makanan paling utama. Maka, jika kekurangan padi, masyarakat juga terkena imbasnya. Mereka mengalami kelaparan hebat lantaran minimnya pasokan pangan. Tidak seperti sekarang, Rancaekek pada masa kolonial mayoritas penggarap sawah. Dari timur ke barat, terbentang lahan persawahan yang dialiri air. Sayangnya, meski persawahan tampak luas membentang, hasilnya, tetap saja dinikmati sedikit.

Sebelum tahun 1923, beberapa wilayah di Priangan memang pernah terjangkit kelaparan. Kelaparan ini selain dirusak hama, diakibatkan pula oleh wabah dan kegagalan panen karena kekeringan. Dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 disebutkan, bahwa merebaknya wabah kolera tahun 1822, mengakibatkan produksi beras menurun drastis. Harga beras melonjak naik yang juga berimplikasi pada kekurangan pangan bagi masyarakat Priangan. Para penduduk harus memakan buah-buahan dan umbi-umbian selama berbulan-bulan. Saking minimnya makanan untuk dikonsumsi, mereka terpaksa harus memakan pohon dan daun pisang. 

Tahun 1890, kelaparan terjadi karena imbas dari ledakan penduduk dan gagal panen akibat kekeringan. Dalam Peristiwa Cimareme: Perlawanan H. Hasan terhadap Peraturan Pembelian Padi, Chusnul Hayati mencatat, untuk mengatasi minimnya makanan pokok itu, beras diimpor dari negara-negara Cina, Birma, Thailand, dan negara Indo Cina, yang waktu itu negara-negara tersebut telah meningkatkan padinya untuk diekspor. Hal ini terjadi sejak tahun 1870, meski pada 1911-1912, terjadi kegagalan panen besar-besaran di seluruh Asia bagian utara. Bahkan, Chusnul menambahkan, jika pada 1918-1919 keadaan itu berulang kembali, hingga menyebabkan kondisi pangan kian memburuk seperti yang terjadi di wilayah Garut sebelum terjadi konflik berdarah di Cimareme.

Sementara itu, pada akhir 1923 sebagian kawasan Bandung juga mengalami kelaparan. Kali ini, Rancaekek dan Cicalengka terkena imbasnya. Pada 16 Desember 1923, Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Islam Merah di Bandung, mengadakan vergadeering untuk membicarakan kelaparan yang melanda Rancaekek dan Jerman. Laporan ini diberitakan pada surat kabar Sapoe Djagat, edisi 23, 29 Desember 1923.

Di situ disebutkan, bahwa rapat dihadiri oleh sekitar 700 orang yang terdiri dari berbagai elemen. Di antaranya, perwakilan dari VSTP (Vereenigingvan Spoor-en Tramweg Personel), Postel, P.P.P.B (Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra), B.T.D.W. dan beberapa anggota Sarekat Islam. Dari perkumpulan ini, dibentuklah sebuah komite yang fokus pada masalah kelaparan. Dengan dipimpin oleh para anggota dari kelompok merah yaitu, A. Winanta sebagai ketua, Achmad Basscha selaku sekretaris dan beberapa orang lainnya, seperti Darmoprawiro, Soepradja dan Soemirat. Komite ini, di samping untuk menggali masalah kelaparan, juga untuk mengingatkan pemerintah agar melek atas penderitaan rakyatnya. Terbukti, satu anggota PKI bersama dua jurnalis Sapoe Djagat besutan Tjipto Mangoenkoesoemo, terjun langsung ke lapangan. Untuk mengusut sejauh mana kelaparan ini menimpa masyarakat Rancaekek, hingga memuatnya sebagai pemberitaan di kemudian hari.

Berdasarkan hasil reportase yang ditunjukan surat kabar Sapoe Djagat, mayoritas penduduk menyebut kelaparan ini lantaran kurangnya garapan sawah akibat habis dirusak tikus. Meski sawah dalam kondisi memprihatinkan, pemerintah tetap mewajibkan pengelolanya untuk taat membayar pajak. Tidak ada makanan pokok selain membelinya dari kampung sebelah. Penduduk Rancaekek kian berkurang. Puluhan orang terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah-rumah mereka untuk memperoleh makanan yang bisa dimakan. Dalam Sapoe Djagat nomor 21 tercatat, bahwa mereka yang terkena dampak dari kelaparan itu tidak mendapatkan santunan dari pemerintah setempat. Adapun bantuan yang diberikan, hanya sekadar pinjaman dari kalangan menak yang masih sangat kurang jumlahnya. Bahkan, seorang perempuan bernama Nyai Saiti, mati, karena selama dua bulan ia hanya makan sebanyak tiga kali. Sebagaimana jawaban H. Sulaiman saat ditanya oleh wartawan Sapoe Djagat pada edisi 21 29 Desember 1923.

“Saihapi, orang kampoeng di sini djoega, kasih taoe pada saja, tempo Nji Saiti djatoh pingsan di loear roemahnja badannja lemas sekali, tapi ia taoe bahwa itoe orang beloem mati dan teroes ditjoba Saihapi mintaken nasi ditetangganja dan itoe nasi ditaro didalem batok kelapa ditjampoer aer teroes ditetesken dimoeloetnja Nji Saiti, hingga Nji Saiti bangoen kembali, serta ditanja oleh Saihapi itoe ia mendjawab saja boekan lemas karena sakit aken tetapi lemas karena didalem 2 boelan jang pasti mendapet nasi hanja tiga kali sadja”.

Sementara itu, kampung Bobodolan, Ciluncat, Rancabango dan Bugel, merupakan wilayah yang terkena imbas paling parah. Bahkan terdapat warga Ciluncat yang memakan onggok (ampas singkong) dan tike (umbi rumput), karena pasokan makanan yang sangat sulit ditemui. Meski mendapat laporan dari warga, pemerintah setempat dinilai tak acuh dengan adanya kelaparan tersebut. Malah, dengan entengnya, seorang camat menyebut jika penduduk yang terkena imbas kelaparan itu, masih terlihat gemuk dan mengenakan pakaian layak. Seperti diberitakan Sapoe Djagad nomor 21 5 Januari 1924.

“Adalah seorang jang bernama Rapei bersama anak bininja memberi tahoe pada tjamat jang ia ada kekoerangan makan. Tetapi permintaan itoe ditolak, sebab ia dipandang misih gemoek dan seorang lagi bernama Madkasim oleh karena ia memakai potongan, tida dikasihnja. Malah ia poenja badjoe aken dibeli setalen oleh Tjamat itoe”.

Dukungan dan bantuan pun datang berbondong-bondong dari berbagai pihak. Salah satunya, muncul dari seseorang bernama Soeriakanta. Melalui sebuah catatan dalam surat kabar Soerapati edisi 20 Januari 1924 yang tertera pada Overzicht van de Inlandsche en Malaisch-Chineesche Pers, Soeriakanta menyebutkan, bahwa korban mati akibat kelaparan di Rancaekek diperkirakan mencapai dua sampai tiga orang. Itupun berdasarkan perkiraan anggota Sarekat Islam Cicalengka, yang masih bertambah jumlahnya.

Dengan rasa empati yang begitu tinggi, Soeriakanta juga menyindir kelompok nasionalis seperti Paguyuban Pasundan, agar turut saling menolong sesamanya, ketimbang bermain kesenian yang tidak bisa membuat orang mengisi perutnya. Ia mengimbau kepada Paguyuban Pasundan agar membentuk panitia kemanusiaan untuk musibah kelaparan itu. Sindiran itu juga ditujukan kepada Bupati Bandung, Muharam Wiranatakoesoemah, sekalipun ia mendapat serangan dari kelompok SI Merah dan Komunis, hingga terjadi polemik berkepanjangan yang membuat para pengikut Wiranatakoesoemah pun turun membantu melancarkan serangan balik kepada pihak Komunis.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers