web analytics
  

Antre Beli Vaksin dan Beli Odading Tak Beda!

Sabtu, 17 Oktober 2020 12:29 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Antre Beli Vaksin dan Beli Odading Tak Beda!, Vaksin Covid-19,vaksin corona,Odading,WHO

[Ilustrasi] Vaksin Covid-19. (Pixabay)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Di tengah kerepotan menghadapi wabah CoVID-19 dan menemukan vaksin yang efektif, masih saja ada yang berpikiran di luar aspek kesehatan. Sejumlah kalangan di negara-negara Barat mengkhawatirkan Cina memanfaatkan vaksin untuk memperluas ruang pengaruh. Sebaliknya, negara-negara berkembang khawatir negara maju bakal lebih dulu memperoleh vaksin karena banyak duit.

750 juta orang terinfeksi

Badan Kesehatan Dunia memperkirakan satu dari sepuluh orang penduduk dunia terinfeksi virus corona atau CoVID-19. Angka itu lebih dari 20 kali lipat dari yang diumumkan atau sekitar 750 juta orang.

Mike Ryan, Ketua Operasi Darurat WHO, mengingatkan virus Corona masih merebak ke mana-mana. Meningkat di beberapa negara Asia Tenggara, Eropa, dan Timur Tengah. Kita masih menghadapi situasi yang sulit.

Perkiraan WHO dan antrean panjang memerlukan vaksin, barangkali menjadi dasar kebijaksanaan pemerintah untuk buru-buru memesan vaksin dari Inggris, Qatar dan membuat sendiri di dalam negeri bersama perusahaan-perusahaan China.

Menneg BUMN Erick Thohir dan Menlu Retno Marsudi sudah bertolak ke Inggris untuk pre order dari Astra Zeneca 100 juta dosis. Uni Emirat Arab, G42 Healthcare Holdings, menyediakan lebih dari 30 juta dosis pada kuartal 2020 dan dari dalam negeri puluhan juta dosis. 

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan, pemerintah menyediakan uang panjar Rp3,3 triliun. Total anggaran pemerintah untuk memenuhi kebutuhan vaksin berjumlah Rp37 triliun.

Sekalian upaya pemerintah memberi harapan wabah akan segera lenyap. Apalagi berita-berita tentang siapa yang akan divaksin terlebih dahulu sudah merebak ke seluruh penjuru negeri. Sejumlah 1,5 juta para medis bakal duluan divaksinasi sebab mereka yang kemudian akan memvaksinasi seluruh rakyat.

Erick Thohir memperkirakan vaksinasi akan dimulai Januari tahun depan. Bahkan mungkin bisa dimulai akhir tahun ini.

Bukan Seperti Buat Odading

WHO telah menghimpun 80 negara untuk memastikan mereka akan memperoleh vaksin pada giliran pertama. WHO juga menyebutkan lebih dari 100 kandidat vaksin sedang dalam pengembangan. Beberapa di antaranya sudah disuntikkan ke para relawan.

Kabarnya, percobaan berlangsung sampai tiga kali dan memerlukan waktu paling tidak enam bulan untuk mengamati dampaknya. Namun bila berpaling kepada wabah yang lain, perlu waktu tahunan untuk mendapatkan vaksin yang benar-benar efektif.

Belakangan tersiar kabar, uji klinis vaksin yang dikembangkan AstraZeneca dan Universitas Oxford ditunda setelah seorang relawan mengalami reaksi yang mengkhawatirkan.

Perusahaan farmasi Johnson & Johnson Amerika Serikat juga menghentikan uji klinis tahap ketiga terhadap 60 ribu relawan. Perusahaan itu memberitahukan, seorang relawan penderita penyakit yang tidak bisa dijelaskan sesudah mengikuti uji klinis tahap dua.

Menurut prosedur, uji klinis tahap pertama diikuti sedikit sukarelawan. Relawan, makin bertambah banyak pada tahap kedua. Puluhan ribu di tahap ketiga.

WHO mengingatkan kemungkinan vaksin baru bisa digunakan akhir 2021. Tampaknya pendapat WHO itu akan diabaikan karena situasi sudah mendesak.

Sinovac dan Bio Pharma juga sudah melakukan uji klinis langsung ke tahap ketiga, karena vaksin Sinovac sudah diuji klinis tahap dua di Bangladesh, Turki, Cili, Cina dan Brazil. Bila uji ketiga berjalan lancar, maka vaksin akan di registrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM). Setelah itu, Bio Pharma boleh memproduksi vaksin sekitar enam bulan mendatang.

WHO mengingatkan kemungkinan vaksin baru bisa digunakan akhir 2021. Tampaknya pendapat WHO itu akan diabaikan karena situasi sudah mendesak.

Keadaan Mencemaskan

Wabah CoVID-19 secara efektif melakukan penghancuran. Singapore Airlines terpaksa memanfaatkan A-380 sebagai restoran. Thai Airways menjual gorengan. Presiden Donald Trump diisolasi.

Puluhan juta orang di seluruh dunia akan mengalami kemiskinan ekstrem. Padahal menurut catatan WHO, jumlah penduduk kurang gizi sudah mencapai 690 juta. Lantaran CoVID-19, jumlahnya akan bertambah menjadi 132 juta pada akhir tahun ini.

Di Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik, hingga Maret 2020 berjumlah 26,42 juta, naik 1,63 juta dibandingkan dengan September 2019. Adapun Kementerian Keuangan memperkirakan jumlah penduduk miskin bertambah 5 juta pada 2021.

IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tahun ini minus 1,5%, sedangkan tahun depan tumbuh 6,1%, sedang menurut Bank Dunia tahun ini nol persen dan 4.8%. Bank Pembangunan Asia minus satu persen dan tahun depan tumbuh 4,8%. Perkiraan ketiganya patut disyukuri, tetapi juga perlu diingat, ketiganya berkepentingan supaya Indonesia mampu membayar cicilan dan pokok pinjaman.

Berdasarkan data Bank Indonesia per April tahun 2020. Utang ke IMF mencapai US$1,713 miliar. Bank Pembangunan Asia US$10,620 miliar dan Bank Dunia US$17, 725. Total utang Indonesia ke lembaga kreditor maupun negara berjumlah Rp 6.300.000.000.000 atau 35,9 % dari Produk Domestik Bruto Indonesia.

Kemerosotan ekonomi dan jumlah penduduk miskin dunia maupun Indonesia terhadap disebabkan wabah CoVID-19 dan lockdown yang membuat masyarakat tidak dapat memiliki cukup uang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari termasuk makanan bergizi.

Di negara antah berantah, kemerosotan ekonomi sebelumnya didahului korupsi dan penumpukan harta pada segolongan kecil orang. Mereka ini malas berbagi dalam bentuk pajak atau memberi langsung kepada penduduk miskin apalagi anak-yatim.

Dalam kondisi yang serba-kepepet, banyak pemerintah yang berupaya mengatasi kesulitan sebelum akhir tahun. Memesan vaksin dan mengendurkan atau meniadakan lockdown supaya ekonomi bergerak.

Di Indonesia, tanda pemulihan sudah terlihat. Di tengah malam, pesawat-pesawat terbang beranjak ke berbagai kota. Padahal biasanya masih murungkut!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers