web analytics
  

Cegah Kanker Hati saat Pandemi Covid-19

Sabtu, 17 Oktober 2020 12:10 WIB Adi Ginanjar Maulana
Bandung Raya - Bandung, Cegah Kanker Hati saat Pandemi Covid-19, CISC,Kanker Hati,dahlan iskan,Hepatoselular karsinoma

Instagram live “Semangatku, Semangatmu Mengalahkan Kanker Hati” Pentingnya Deteksi dan Penanganan Sejak Dini oleh CISC. (instagram/@cancerclubcisc)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 menjadikan setiap orang khawatir terkena berbagai macam penyakit terutama kanker hati.

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)  Dr. dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM mengatakan, saat pandemi Covid-19 sebenarnya pemicu kanker hati tidak akan membuat prevalensi pasien hepatitis di Indonesia menjadi meningkat.

Kendati demikian, pemicu kanker hati berbeda-beda antara hepatitis A, B, dan C.

"Seperti hepatitis A itu penularanya kebanyakan dari makanan. Dengan pandemi justru banyak orang makan makanan bersih di rumah," katanya saat talkshow "Pahami Gejala, Faktor Risiko dan Penanganan Kanker Hati dalam Masa Pandemi Covid-19" yang digelar Cancer Information & Support Center (CISC), Sabtu (17/10/2020).

Adapun, penularan virus hepatitis B dan C disebut secara vertikal dan horizontal. Penularan horizontal bisa melalui transfusi darah atau hubungan seksual. Selanjutnya vertikal melalui ibu ke anak. Cara agar penularan secara vertikal bisa memberikan vaksinasi kepada bayi.

Menurutnya, agar pasien penderita kanker hati tidak mudah stres maka seorang dokter harus membicarakannya secara bertahap. "Kalau ke pasien bagaimana cara ngomongnya bertahap. Misalnya ngomong, bapak kanker hati stadium lanjut, harapan hidup tidak ada lagi. Itu salah," katanya.

Justru yang harus dilakukan yakni selalu mendukung penderita atau penyitas agar harap untuk hidup lebih lama bisa terjadi. Sehingga hal ini bisa memacu kualitas dan kenyamanan hidup bisa terjaga dengan baik.

Sementara itu, penyitas kanker hati, Dahlan Iskan, mengakui semua penderita kanker awalnya tidak bisa menerima. "Itu manusiawi, tapi sikap tidak menerima akan stres. Stres itu memperparah (penyakit). Setelah kena kanker ya sudah takdir, pasrah dan pikiran harus tenang," ujarnya.

Adapun, ke depannya harus melakukan pilihan pengobatan. Harapannya, kualitas hidup menjadi baik atau tidak.

"Waktu tahu saya mengidap kanker hati memilih transplantasi pilihan yang paling cukup baik," katanya.

Dahlan sendiri menjalani operasi transplantasi hati di Tianjin First Center Hospitan, China, pada 6 Agustus 2007. Operasi itu dilakukan untuk mengganti organ hatinya yang sudah terkena sirosis dan kanker hati. Usai operasi yang berlangsung 18 jam, fungsi hatinya mulai membaik.

"Memegang kunci kesuksesan dalam pengobatan itu lebih baik. Selain itu, penderita jangan ada di lingkungan yang beracun. Selalu menjaga kesehatan yang utama," ujarnya.

Dalam laporan Global Cancer Incidence, Mortality and Prevalence (GLOBOCAN) 2018 dipaparkan bahwa di Indonesia, kanker hati secara keseluruhan memiliki angka insidensi sebesar 18.468 kasus.

Hepatoselular karsinoma merupakan salah satu tipe kanker hati primer yang paling umum dengan prognosis dan luaran yang sangat buruk.

Pada publikasi yang dilakukan secara retrospektif antara Januari 2015 hingga November 2017 tercatat 282 pasien di Indonesia terdiagnosis hepatoselular karsinoma dengan tingkat mortalitas sebesar 48,2% dan 23,4% pasien meninggal dalam rentang waktu 6 bulan.

CISC sebagai komunitas kanker ingin turut berperan serta dalam melakukan edukasi seputar kanker serta memberi dukungan motivasi melalui saluran media sosial yang terbukti lebih efektif menjangkau masyarakat luas, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers