web analytics
  

Kaleng Khong Guan isi Ranginang

Jumat, 16 Oktober 2020 17:45 WIB Netizen Dias Ashari
Netizen, Kaleng Khong Guan isi Ranginang, Tahun Tanpa Tuhan,Sanghyang Mughni Pancaniti,review buku

Kaleng Khong Guan isi Ranginang. (Alif.id)

Dias Ashari

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Berbicara soal kaleng khong guan berisi ranginang mungkin saja sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat kita. Biasanya momen ini terjadi setelah Lebaran Idulfitri habis. Sebagai masyarakat Sunda biasanya, ibu-ibu akan memanfaatkan kaleng tersebut untuk menyimpan jenis makanan lain, salah satunya ranginang.

Namun kali ini penulis tidak akan membahas terkait dua makanan tersebut. Kaleng khong guan isi ranginang ini dimaksudkan penulis sebagai sebuah peribahasa. Penulis menemukan kata tersebut setelah membaca buku yang berjudul Tahun Tanpa Tuhan karangan Sanghyang Mughni Pancaniti.

Dalam buku tersebut menceritakan luka yang pernah dialami oleh Mughni sebagai penulis. Kemudian luka itu menjelma menjadi sebuah huruf yang dirangkai menjadi kata, kalimat, paragraf hingga menjadi sebuah karya.

Satu hal yang menarik dari buku Tahun Tanpa Tuhan pembaca diajak untuk berargumen atau menyimpulkan sendiri siapa peran antagonis, protagonis, maupun peran pembantu dalam tokoh yang dibuatnya. Penulis buku ini seperti membagi-bagikan kisah hidupnya pada setiap tokoh sehingga tidak ada peran yang terlihat dominan dan semuanya saling melengkapi kisah dalam novel tersebut.

Karakter dari setiap tokoh pun dibuat berbeda dari kebanyakan novel pada umumnya. Dengan membaca buku ini, pembaca dibawa pada realita kehidupan yang dialaminya sehari-hari. Manusia dinilai sebagai makhluk yang paling sempurna. Namun tetap saja jika dikaitkan dengan ahlak, manusia tetap saja sebagai tempatnya salah dan dosa.

Ketika hal tersebut dikolerasikan dengan para tokoh yang ada dalam buku tersebut, manusia tidak bisa dinilai atau bahkan dihakimi hanya dari penampilan luarnya saja. Buktinya tokoh Maula yang lulusan pesantren dan paham betul dengan agama ternyata melalaikan perintah Tuhan hanya karena sebuah cinta.

Kemudian tokoh Salma yang penampilannya merepresentasikan muslimah yang saleh dan terjaga kesuciannya, malah berlaku sebaliknya. Ada juga tokoh Nenden yang secara penampilan tidak berhijab tapi pandai menjaga dirinya.

Satu tokoh lagi yaitu Mang Dorman yang penampilannya terlihat urakan dan tingkahnya seperti bukan orang waras namun ternyata dirinya adalah seorang ulama.

Dari novel ini kita belajar bahwa tidak semestinya kita menghakimi seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Setiap manusia baik, pasti memiliki ketidakbaikan karena dia bukan malaikat. Begitupun dengan manusia yang tidak baik, pasti memiliki kebaikan karena dia bukan iblis/setan.

Di sisi lain ada manusia yang berpenampilan dan berhati baik dan ada juga manusia yang berpenampilan dan berhati buruk. Kita perlu memahaminya dengan baik jangan salah dalam menilai.

Sehingga dari novel ini munculah sebuah kalimat, “akan banyak kaleng biskuit khong guan yang isinya ternyata ranginang. Dan banyak pula kaleng ranginang yang berisi biskuat khong guan. Tapi tidak sedikit kaleng khong guan yang berisi khong guan juga. Namun tak kalah banyaknya kaleng ranginang yang berisi ranginang. Lihatlah dengan teliti, pahami, berhati-hatilah dalam memilihnya.”

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers