web analytics
  

Budayawan Tasik: Wacana Perubahan Nama Provinsi Jabar Bermuatan Politik

Kamis, 15 Oktober 2020 16:54 WIB Heru Rukanda
Umum - Regional, Budayawan Tasik: Wacana Perubahan Nama Provinsi Jabar Bermuatan Politik, Budayawan Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah,Perubahan Nama Provinsi Jawa Barat,Provinsi Sunda,Provinsi Tatar Sunda

Budayawan Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah. (dok. Pribadi)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Seniman yang juga Budayawan Kota Tasikmalaya Ashmansyah Timutiah menilai, wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi Provinsi Sunda cenderung bermuatan politik, Kamis, (15/10/2020). Wacana tersebut cenderung hadir ketika memasuki masa pilkada.

"Kalau di Kabupaten Tasik itu biasanya ada wacana tenyang Tasik Selatan (Tasela) ketika mau masuk masa pilkada. Jadi  cenderung ke wilayah politik," ujar Ashmansyah.

Menurutnya, perubahan nama tidak begitu penting terhadap wilayah kesejahteraan masyarakat. "Ada yang lebih penting dari soal perubahan nama, yakni tentang kesejahteraan masyarakat, pembangunan, sosial dan yang lainnya," ucap Ashmansyah.

Budayawan yang akrab disapa Kang Acong ini menegaskan, kalau pun memang mau diubah, ada beberapa daerah yang sensitif pada wilayah sunda seperti Cirebon.

"Kan Cirebon sempat mengancam akan mendirikan provinsi tersendiri. Jadi memang perlu komunukasi yang lebih terhadap daerah-daerah di luar Priangan Timur," ungkap Ashmansyah.

Menurutnya, kalau wilayah Priangan Timur tidak begitu sensitif terhadap perubahan tersebut. Bahkan beberapa daerah lain di Jawa Barat seperti Bekasi dan Depok sempat ingin bergabung ke DKI Jakarta.

Lebih jauh Ashmansyah menjelaskan, Banten itu secara kesundaan lebih sunda padahal itu berada di luar daerah Jawa Barat.

"Makanya kalau sudah masuk ke wilayah kesundaan itu akan lebih luas karena Sunda itu adalah sebuah sistem kemasyarakatan, sebuah aturan adat, tentang kebudayaan masyarakat, beda dengan teritorial pemerintahan yang namanya Jawa Barat," jelas Ashmansyah.

Selain itu, perubahan nama Provinsi Jabar menjadi Provinsi Sunda dikhawatirkan akan memicu munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang berbasih etnis.

"Seperti di Jakarta muncul Betawi Rempug dan di Sunda serta lainnya, sehingga berisiko juga terhadap etnis lain yang ada di Jawa Barat ini. Bahkan dengan perubahan nama dikhawatirkan terjadi perpecahan dan diskriminasi serta gesekan dengan etnis di luar Jawa Barat," ucap Ashmansyah.

Ashmansyah berharap para inohong yang ada di atas lebih mementingkan kesejahteraan masyarakat ketimbang mengubah nama provinsi.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers