web analytics
  

Privasi dan Persepsi Negatif Remaja di Media Sosial

Kamis, 15 Oktober 2020 12:18 WIB Netizen Cicin Yulianti
Netizen, Privasi dan Persepsi Negatif Remaja di Media Sosial, Media Sosial,privasi media sosial,Kesehatan remaja,Kesehatan Mental

[Ilustrasi] Kecanduan media sosial. (Elitedaily)

AYOBANDUNG.COM -- Perkembangan teknologi di era digital ini mendorong masyarakat semakin gemar beraktivitas di media sosial. Tidak sedikit dari mereka menggunakan media sosial sebagai wadah untuk menunjukkan eksistensi diri, membangun jejaring sosial ataupun sekadar untuk mencari hiburan. Dilansir dari katadata.co.id, masyarakat Indonesia dalam rentang usia 16-24 tahun menghabiskan waktu 3 jam 26 menit per hari untuk berselancar di media sosial.

Jika dilihat dari pengguna terbanyak media sosial yang ada dalam rentang usia 16-24 tahun, maka bisa dikategorikan ke dalam usia remaja dan dewasa. Begitu pula berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO) yang meyebutkan usia remaja ada dalam rentang 10-19 tahun dan dewasa dalam rentang 20-26 tahun. Usia tersebut memang identik dengan masa pencarian jati diri, menjalin pertemanan seluas-luasnya, dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.

Media sosial sebagai wahana praktik-praktik tersebut tentunya dipilih oleh remaja karena fitur-fiturnya yang menarik. Mulai dari pemanfaatan personal chat sampai stories mereka gunakan untuk memberi tahu info terkini soal dirinya kepada publik. Khususnya lewat stories di beberapa media sosial menjadi jalan bagi mereka untuk unjuk diri. Setiap hari bahkan jam, mereka bisa membagikan gambar atau video melalui fitur tersebut tanpa batas. Adapun 5 media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia berdasarkan survey We Are Social, 2020 di antaranya Youtube, Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Twitter.

Di sisi lain, batas antara eksistensi dan privasi menjadi semakin tipis. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya remaja yang memasang status soal kehidupan pribadinya. Bahkan, tidak jarang juga dari mereka yang berbincang soal cerita pribadi mereka di kolom komentar. Media sosial artinya tidak lagi hanya digunakan sebagai wadah dalam menunjukkan self disclosure (pengungkapan diri) saja, melainkan sudah merambat ke hal-hal lain yang bisa dikatakan pribadi. Self disclosure adalah konsep pengungkapan diri kita, di mana informasi yang biasa dibagikan sebelumnya disembunyikan (Devito, 2010). Adapun kasus yang terjadi sekarang ini adalah pemanfaatan media sosial yang berlebihan dalam mengungkapkan informasi pribadi.

Pengungkapan soal seberapa banyak mereka memiliki teman, seberapa kaya seseorang ataupun hal-hal lain yang menunjukkan eksistensinya terkadang bisa menjadi titik lemah bagi mereka yang mengalami depresi. Adanya media sosial bisa jadi semakin memperparah kondisi mereka. Apa yang mereka pikirkan tentang kebahagiaan orang lain bisa disalah asumsikan sebagai kekurangan dirinya. Selain itu, setiap pengguna media sosial pun bisa berkemungkinan mendapatkan cyber bullying (penindasan dunia maya).

Untuk contoh kasusnya, di tahun 2019, terjadi kasus bunuh diri yang menggegerkan industri hiburan di Korea Selatan dan tentunya mengejutkan masyarakat Indonesia. Seperti sudah kita ketahui, bintang K-Pop yakni Sulli, Goo Hara, dan Kim Jonghyun dikabarkan bunuh diri. Media saat itu banyak mengabarkan jika ketiga kasus tersebut rata-rata terjadi karena depresi yang diakibatkan oleh tekanan pekerjaan dan komentar pedas netizen di media sosial (cyber bullying). Dengan mudahnya, beberapa netizen melemparkan ejekkan bahkan kata-kata sarkasme kepada mereka.

Bisa dilihat dari kasus yang terjadi pada bintang K-Pop tersebut, bahwa popularitas dan eksistensi sekali pun tak menjamin keselamatan jiwa mereka. Semua kembali kepada kondisi mental setiap orang yang tidak bisa disama ratakan. Biasanya pada level depresi, seseorang sudah merasa putus asa terhadap hidupnya.

Dilansir dari www.sehatq.com, depresi merupakan penyakit yang paling berdampak buruk bagi orang yang mengalaminya. Depresi bisa menyebabkan seseorang selalu gundah akan suasana hatinya, mudah lelah, kehilangan motivasi hidup bahkan bisa sampai bunuh diri.

Apa yang ditunjukkan orang lain di media sosial tidak selalu menggambarkan seperti apa mereka sebenarnya, melainkan hanya beberapa bahkan sebagian kecil dari hidup mereka. Sehingga dalam menyikapi perihal kesehatan mental remaja saat ini, setiap orang perlu lebih bijak dalam mempersepsikan informasi supaya tidak lantas menjadi persepsi negatif. Dari sana kita kembali perlu untuk melihat batasan tentang diri atau privasi serta lebih bijak dalam menafsirkan persepsi.

Privasi

Berbicara tentang privasi pengguna media sosial, maka ada kaitannya dengan kebijakan dan perlindungan. Setiap platform media sosial memiliki tujuan tertentu dengan pengadaan kebijakan privasi. Bahkan, privasi termasuk ke dalam hak setiap pengguna dengan dasar sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights, 1948). Dari sana bisa dikatakan bahwa penyedia platform media sosial sangat mengerti soal kebijakan privasi bagi penggunanya. Maka demikian, sebagai pengguna tentunya kita lebih tahu perihal masalah pribadi dan batasan pribadi yang tidak semestinya kita bagikan di media sosial.

Setiap orang pasti membutuhkan privasi untuk membuat dirinya merasa aman dan terhindar dari ancaman cyber bullying. Termasuk ketika tengah menyelami dunia media sosial, yang banyak orang akan menonton semua tingkah kita. Informasi yang secara umum masih normal untuk dibagikan kepada publik memang tidak menjadi masalah untuk diinformasikan. Namun beda ceritanya ketika kita mencoba membagikan hal-hal yang terhitung masalah pribadi. Contohnya seperti kabar putusnya hubungan kita dengan kekasih, keluhan-keluhan kita yang tak seberapa, atau kebencian kita terhadap seseorang. Jika hal-hal tersebut terus dibagikan, maka kita bisa menjadi toxic people bagi orang lain.

Persepsi Negatif

Apa yang kita lihat tentang orang lain di media sosial tidaklah secara menyeluruh. Terdapat bias pada informasi-informasi yang kemudian kita terjemahkan menjadi sebuah persepsi negatif. Persepsi adalah di mana kita memilih, mengatur, dan menerjemahkan masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang berarti (Kotler (2013:179). Adapun realitas yang kita peroleh dari media sosial bisa jadi berbeda dengan sebenarnya. Ketika dihadapkan dengan unggahan seorang teman yang sedang makan di restoran berbintang, selintas kita berpikir bahwa dia memiliki banyak uang sehingga bisa makan di sana.

Di sisi lain, kita tidak menyadari bahwa bisa saja dia makan karena ditraktir oleh temannya. Bingkai yang kita lihat di media sosial tentang orang lain memanglah sempit. Oleh karena itu, tidak jarang seseorang bisa terkena depresi karena terus-menerus dihadapkan dengan gambaran unggahan mereka yang membingkai bahwa dirinya memiliki segalanya.

Hal yang kemudian perlu diluruskan adalah soal bagaimana kita mengolah persepsi kita tentang orang lain, supaya ke depannya tidak akan terjadi sebuah ketimpangan informasi yang akhirnya malah mengundang depresi. Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menghindari kesalahan persepsi di antaranya; 1) Memberi sedikit jeda dalam menafsirkan informasi yang orang lain bagikan di media sosial, dengan kata lain jangan mudah mempercayainya. 2) Komunikasikan apa yang menjadi pertanyaan. Jangan sampai terjebak ke dalam persepsi negatif. 3) Tidak mudah menganggap orang lain lebih mengetahui dan memiliki segalanya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers