web analytics
  

Walkot Cirebon: Perubahan Nama Provinsi Jawa Barat Tidak Nasionalis

Kamis, 15 Oktober 2020 11:56 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Walkot Cirebon: Perubahan Nama Provinsi Jawa Barat Tidak Nasionalis, Provinsi Sunda,Provinsi Tatar Sunda,Perubahan Nama Provinsi Jawa Barat

Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis menilai perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda tidak nasionalis.

Dia mengkhawatirkan perubahan nama provinsi justru akan membuat entitas-entitas di luar Sunda terpisahkan. Bahkan, pada gilirannya hal itu akan memicu pendirian provinsi lain di luar Provinsi Sunda.

"Perlu saya sampaikan, kita ini Indonesia. Jangan mengeluarkan istilah-istilah yang bakal memisah-misahkan Indonesia," ungkapnya, Kamis (15/10/2020).

Jabar, kata dia, tetaplah Jabar. Bila berubah nama menjadi Provinsi Sunda, dia mencemaskan kelak akan kembali muncul pemikiran dari masyarakat di kawasan pantai utara (Pantura), seperti Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, maupun Kabupaten Indramayu, yang notabene dominan Jawa Cirebon, merasa tak dianggap sebagai warga provinsi yang sama.

Azis merujuk pada salah satu komponen budaya yang membedakan Sunda dan Jawa Cirebon pada bahasa yang digunakan masyarakatnya sehari-hari.

"Kan banyak kota dan kabupaten di Jabar yang bahasanya berbeda dengan Sunda. Ada kota dan kabupaten yang posisinya di Pantura," katanya.

Karena itu, dia dengan tegas menolak perubahan nama Provinsi Jabar menjadi Provinsi Sunda. Baginya, perubahan itu akan melahirkan pengistimewaan bagi kelompok-kelompok kota dan kabupaten di Jabar.

"Saya tidak setuju kalau berubah nama jadi Provinsi Sunda," tegasnya.

Dia menambahkan, nama Provinsi Jabar dipilih sebagaimana letak geografisnya dan bukan mengacu pada entitas tertentu, sekalipun mayoritas. Penggunaan nama Jabar karena posisinya berada di Pulau Jawa bagian barat.

"Kalau disebut Provinsi Sunda, terus kita di Pantura ini apa?" ungkapnya.

Bila wacana itu terus mengemuka, ujarnya, dikhawatirkan akan memicu tumbuhnya keinginan mendirikan provinsi baru di luar Provinsi Sunda. Padahal, pendirian provinsi baru belum tentu lebih menyejahterakan ketimbang tetap bersama Provinsi Jabar.

"(Nama) Provinsi Jabar lebih nasionalis, lebih keren. Sudahlah, para Inohong di Jabar perlu memikirkan lagi (wacana Provinsi Sunda)," tutur Azis.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers