web analytics
  

Ketika Wedding Organizer Harus Berkutat dengan Protokol Kesehatan

Kamis, 15 Oktober 2020 11:32 WIB Adi Ginanjar Maulana
Bandung Raya - Bandung, Ketika Wedding Organizer Harus Berkutat dengan Protokol Kesehatan, pernikahan masa AKB,Pernikahan saat Pandemi Covid-19,wedding organizer (WO),Ubah Laku,Jurnalisme Ubah Laku

Aktivitas simulasi pernikahan di HIS Kolgdam Grand Ballroom, Jalan Aceh, Kota Bandung, Minggu (28/6/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

ANTAPANI, AYOBANDUNG.COM -- Pernikahan merupakan momen yang indah bagi banyak orang. Tak pelak, sebagian besar orang menginginkan pesta mewah pada ritual sakral itu.

Namun, kemewahan tersebut saat ini harus dibatasi gara-gara pandemi Covid-19. Wedding organizer (WO) harus memutar otak untuk menawarkan paket pernikahan yang tidak mengurangi nilai dari rasa kemewahan dan sakral bagi para calon pengantin.

Momen pernikahan tentunya akan terasa berbeda di masa pandemi. Sebab, pesta pernikahan dibatasi oleh aturan protokol kesehatan. Hal itu sesuai dengan Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 37 tahun 2020 tentang pedoman pelaksanaan AKB dalam rangka pencegahan dan pengendalian Covid-19

"Selama pandemi Covid-19, dalam rangka pelaksanaan AKB khusus untuk kegiatan/aktivitas usaha tertentu harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Wali Kota selaku Ketua Umum Gugus Tugas Tingkat Kota," demikian bunyi Bab III Pasal 24 Perwal tersebut.

Kegiatan/aktivitas tertentu sebagaimana dimaksud yaitu penyelenggaraan acara terdiri atas khitanan dan pernikahan yang dilaksanakan di hotel atau gedung.

Pemilik WO Yunas Organizer, Rio Ramadhan mengatakan, bisnis WO di masa pandemi ini, banyak penyesuaian terlebih kapasitas normal menjadi 30% - 50%. Pihaknya tetap mengedepankan protokol kesehatan dalam membantu klien menggelar resepsi pernikahan. 

"Meski berjalan, tapi sedikit terhambat karena regulasi," ujarnya kepada Ayobandung.com, Kamis (15/10/2020).

Regulasi yang ditempuh antara lain kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bandung dan kepolisian setempat.

Untuk pencegahan Covid pada pengantin, biasanya dalam masa persiapan pihaknya menawarkan untuk melakukan rapid test ataupun swab

Tamu biasanya di beberapa titik sebelum masuk dan sesudah masuk ke area akad disediakan hand sanitizer, selalu menghimbau berjaga jarak, menggunakan masker. 

"Jika di area akad tamu hanya bisa salam hormat saja tanpa adanya kontak fisik. Selain itu, jika dilakukan resepsi biasanya kami bagi dalam dua shift agar tidak terjadi penumpukan di suatu acaranya," ujarnya.

Beberapa hal di atas sesuai arahan saat disampaikan ketika simulasi new normal wedding bersama Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana belum lama ini. "Seperti pemakaian masker, hand sanitizer, dan pengecekan suhu tubuh wajib dilakukan," ujarnya.

Aktivitas simulasi pernikahan di HIS Kolgdam Grand Ballroom, Jalan Aceh, Kota Bandung, Minggu (28/6/2020). Kegiatan tersebut digelar guna memberikan arahan dalam menggelar pesta pernikahan di gedung pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Untuk menghindari penyebaran Covid-19, pihaknya melakukan banyak persiapan acara pernikahan secara virtual  melalui Zoom ataupun aplikasi meeting lainnya.

"Ini relatif murah dengan penambahan budget untuk peralatan penunjang protokol kesehatan.  Ini lebih baik, ketika pandemi terjadi memang membuat bisnis ini menjadi mati, akan tetapi ketika memasuki era new normal ataupun AKB memulai kembali Agustus," paparnya.

Sediakan Virtual bagi Tamu

Untuk menghindari penyebaran Covid-19, pihaknya menyediakan virtual Youtube untuk para tamu. Sehingga mereka tidak perlu datang ke tempat resepsi, tinggal duduk manis di rumah sembari menyaksikan pernikahan.

"Hikmah yang bisa didapatkan, sepertinya membuat orang untuk melakukan pernikahan tidak dengan mengeluarkan budget yang tinggi. Jadi banyak pengeluaran seperti pembelian alat penunjang protokol kesehatan," katanya.

Untuk standar pernikahan dengan WO dan katering sewaan, seluruh protokol tersebut akan dipenuhi oleh para vendor. Sehingga, tarif penyelenggaraan resepsi pun akan naik.

"Akan ada kebaikan biaya," ungkap Ketua Forum Aspirasi Pengusaha Jasa Pernikahan (FAPJP) Kota Bandung Aries Ismullah Ardiansyah beberapa waktu lalu.

Dia juga mengimbau agar para vendor jasa pernikahan untuk segera bergabung dengan asosiasi masing-masing agar lebih mudah terpantau.

"Harus masuk organisasi masing-masing, seperti organisasi katering atau dekorasi. Nanti pihak kami (FAPJP) akan merekomendasi siapa aja vendor-vendor yang siap beroperasi," ungkapnya.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers