web analytics
  

Membiasakan Belajar Daring Selama Pandemi Covid-19

Selasa, 13 Oktober 2020 18:31 WIB Rizma Riyandi
Umum - Nasional, Membiasakan Belajar Daring Selama Pandemi Covid-19, Belajar Online,tips belajar online,Belajar Daring,Belajar di Rumah,Ubah Laku,Jurnalisme Ubah Laku

Ilustrasi belajar daring. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

BOJONGSOANG, AYOBANDUNG.COM -- Farli tampak sedang menyimak dosennya berbicara melalui Google Meet. Ia mencatat beberapa poin penting yang disampaikan sang dosen untuk mata kuliah teknik lingkungan.

Mahasiswa D3 Jurusan Teknik Mesin IST Akprind Yogyakarta itu terpaksa menjalani kuliah daring pada semester 3 lantaran saat ini pandemi Covid-19 masih berlangsung. Ia masih belum tahu, kapan tepatnya bisa kembali ke Yogyakarta untuk menjalani kuliah tatap muka.

"Katanya sih Januari sudah bisa mulai kuliah tatap muka. Tapi itu juga baru katanya. Jadi masih belum tahu, apa masih online atau bisa kuliah tatap muka nanti Januari," katanya pada Ayobandung.com, Selasa (13/10/2020).

Farli mengaku agak kesulitan saat menjalani kuliah online. Apalagi saat praktikum. Pasalnya praktikum seharusnya dilakukan dengan melakukan praktik simulasi langsung. Seperti memotong lempeng baja dan merangkai unit mesin.

Lantaran harus dilakukan secara online, ia jadi tidak begitu paham bagaimana cara mengoperasikan mesin simulator yang sebenarnya. Hal ini akhirnya berpengaruh pada nilai di akhir semester.

"Ya nilainya jadi kecil. Semua teman saya juga mengalami hal yang sama. Soalnya belajar online memang lebih sulit dimengerti daripada belajar langsung," ujar Farli.

Konsekuensi dari belajar online adalah harus menyediakan biaya kuota internet yang lebih besar. Menurutnya satu kali kuliah, kurang lebih selama dua jam, bisa menghabiskan kuota internet sekitar 1 GB.

"Apalagi kalau kuliahnya pakai Google Meet. Itu boros banget," ujar Farli.

Saat ini pemerintah sudah mengeluarkan bantuan kuota paket internet gratis untuk mahasiswa. Namun Farli sama sekali belum mendapatkannya.

Pihak kampus Farli sendiri sudah melakukan pendataan untuk mahasiswa yang berhak mendapatkan bantuan kuota internet gratis. Namun hingga kini bantuan tersebut belum ia terima.

"Teman-teman saya juga sudah didata. Semua nomor kami sudah didata oleh kampus. Tapi sampai sekarang belum ada yang dapat bantuan kuota internet gratis," katanya.

Selain itu, ada biaya tambahan lain yang harus disiapkan saat ada tugas tambahan yang harus dikirim ke dosen. Tak jarang Farli dan teman-temannya mesti mengirim berkas via jasa pengiriman.

"Saya sih masih mending ngirim berkas dari Jawa Barat ke Yogyakarta. Tapi teman-teman saya yang beda pulau biayanya lebih besar. Apalagi teman-teman yang di Timor Leste, kan itu beda negara," ujar Farli.

Jika harus keluar rumah untuk mengirim berkas, Farli pun tak lupa menerapkan protokol kesehatan. Antara lain dengan memakai masker, membawa hand sanitizer untuk cuci tangan, dan menjaga jarak.

Meski diakuinya, merepotkan. Farli tetap berusaha untuk mengikuti semua perkuliahan secara online. Pemuda kelahiran 2001 itu berharap kondisi dapat kembali normal, sehingga ia bisa menjalani kuliah dengan tatap muka. 

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers