web analytics
  

Si Penyelamat Pendidikan Anak Usia Dini saat Pandemi

Selasa, 13 Oktober 2020 12:09 WIB Netizen Yoggi Bagus Christianto
Netizen, Si Penyelamat Pendidikan Anak Usia Dini saat Pandemi, Belajar Jarak Jauh,pembelajaran jarak jauh (PJJ)

Yuanita Kristiani saat mengajar anak usia dini kala pandemi. (Yoggi Bagus Christianto)

Yoggi Bagus Christianto

Mahasiswa FKIP UNS

AYOBANDUNG.COM -- Pendidikan menjadi penopang untuk berdirinya suatu bangsa. Pendidikan dilakukan secara sadar yang diharapkan seorang anak dapat memiliki kebijaksaan dan pengetahuan.

Saat pandemi Covid-19, tidak sedikit orang tua yang mengorbankan banyak keringatnya demi fasilitas sekolah anak kesayangannya. Tak hanya itu, mereka yang seharusnya menjadi ibu rumah tangga juga berperan sebagai ibu guru di dalam sekolah keluarga.

Tampaknya, pendidikan jarak jauh belum efektif bagi sejumlah pihak. Ada guru yang hanya memberikan tugas memberatkan, dituntut selalu online school, dan ditambah tidak adanya teman belajar menjadikan siswa tidak minat bersekolah.

Bahkan Sekretaris Dinas Pendidikan Surakarta Dwi Aryatno mengatakan, “suasana rumah, suasana libur,” dalam diskusi Pekan Pendidikan (19/9/2020).

Tuntutan pendidikan di masa pandemi ini dapat membuktikan ketidaksiapan masyarakat Indonesia, tidak hanya tugas pemerintah dan guru saja melainkan semua kalangan mayarakat.

Namun hal tidak menjadi halangan untuk datangnya sang “penyelamat” di masa kekurangan ini. UNS menggelar kegiatan KKN di rumah, lantas datangnya seorang mahasiswi FKIP Pendidikan Anak Usia Dini, Yuanita Kristiani, menjadi “penyelamat” bagi anak-anak yang menantikannya, terutama di sekitar Laweyan, Pajang, dan Sumber.

“Mereka benar-benar antusias, lebih ceria, dan lebih termotivasi untuk belajar daripada melakukan pembelajaran secara daring. Orang tua mendukung pembelajaran home visit daripada online learning melalui WhatsApp,” ujarnya, (21/9/2020).

Tidak sedikit yang menantikan penyelamat pendidikan, terutama orang tua yang senang karena tanggung jawabnya diringankan Yuan. “Orang tua merasa kesal karena tanggung jawabnya bertambah dan menyalahkan guru yang memberikan tugas terlalu banyak, namun di satu sisi orang tua memahami jika menjadi guru itu juga susah,” kata Yuan.

Namun kondisi pandemi tidak membuat para orang tua hanya diam menerima ujian. “Orang tua memberikan inisiatif agar sekolah diadakan secara offline meskipun dengan waktu terbatas atau home visit ini mereka senang karena meringankan pekerjaan orang tua dalam mendidik anak,” kata Yuan.

Belajar dari Yuan, guru tidak boleh hanya menuntut anak didiknya untuk menjadi pandai, namun juga dibarengi tuntunan agar setiap anak didik merasa nyaman.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers