web analytics
  

Upacara Khitanan Era Menak Priangan

Selasa, 13 Oktober 2020 09:16 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Baheula - Baheula, Upacara Khitanan Era Menak Priangan, Upacara Khitanan,Menak,Priangan,Upacara Khitanan Menak Priangan,Sejarawan Nina Lubis

Ilustrasi. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Semasa penjajahan pada abad 19, Pemerintah Hindia Belanda mendelegasikan kuasa pemerintahan daerah. Pemerintahan di setiap kabupaten Priangan saat itu dijalankan oleh klan aristokrasi lokal.

Klan aristokrasi itu disebut kaum menak.

Kaum menak terdiri atas bupati, bawahan bupati, dan sanak kerabat mereka. Ada yang memang sudah dari dulu keturunan bangsawan raja-raja, ada yang karena jasa besar bisa mengangkat status sosial keluarganya.

Salah satu cara kaum menak menunjukkan kekuasaan dan kekayaannya ialah upacara-upacara perayaan.

Upacara-upacara perayaan itu beragam. Ada yang merayakan kemajuan karier, ada pula yang merayakan peristiwa-peristiwa penting hidup. Salah satu peristiwa hidup yang dirayakan meriah adalah khitanan anak laki-laki.

Bagaimana prosedur upacara khitanan saat itu?

Anak laki-laki menak disunat saat menginjak usia 7 atau 8 tahun. Bisa juga mereka disunat saat sudah tamat Al-Quran.

Kemeriahan pesta merupakan salah satu inti upacara khitanan yang paling diingat. Menurut Babad Sukapura IIbalandongan (tarub) dipasang sebagai tempat pertunjukan dan para tamu yang akan hadir.

Dikisahkan Bupati Sukapura Raden Tanuwangsa akan mengkhitankan cucunya. Ia memberitahu wedananya. Lalu, pejabat bawahan bupati dan rakyat umum berlomba-lomba menyumbangkan lauk pauk, sayur, buah, ternak, dan kayu bakar untuk acara ini.

Bupati juga menyuruh 2 orang Jawa mengantar surat ke Sultan Kasepuhan dan Bupati Cirebon, ingin meminjam ronggeng untuk memeriahkan pesta. Dua orang itu diberi bekal uang dan 40.000 sarang burung.

Sarang burung itu untuk dijual di Cirebon. Hasilnya akan digunakan untuk membiayai pesta khitanan sang cucu bupati.

Pentingnya kemeriahan cucu Bupati Sukapura pada tahun 1835–1854 ini disebabkan pula oleh posisi orang tuanya. Cucu ini merupakan anak dari putri Bupati Sukapura dan putra Bupati Garut.

Bupati Sukapura pun mengirim surat ke Bupati Ciamis, meminjam orang-orang ahli permainan atau kesenian agar lebih meriah lagi.

Selain balandongan, dibangun pula ubrugUbrug adalah bangunan yang terbuat dari bilik (anyaman irisan tipis bambu). Bangunan ini digunakan untuk memasak, menyiapkan hidangan, dan lain-lain.

Ada pula pajagalan (tempat memotong ternak), candoli (tempat wanita pengurus bahan makanan), pabeasan (tempat menaruh beras), dan tempat mengkhitan anak.

Menurut adat istiadat Sunda dahulu, sebelum upacara harus disediakan sesajen dari bermacam-macam makanan yang akan dihidangkan nanti. Setelahnya, dilakukan jampi-jampi memohon izin ke leluhur sambil membakar kemenyan.

Pada hari yang ditentukan, sang cucu dilulur (dibalur bedak dingin), dimandikan, lalu dikenakan baju bagus. Sang cucu kemudian ziarah ke makam leluhur bupati Sukapura sambil membawa bunga rampai, kemenyan, kendi, dan kayu cendana yang dibungkus.

Lima atau 7 hari kemudian, dimulailah pemukulan lesung, angklung, dan bunyi-bunyian lainnya, serta menembakkan senapan. Ini namanya ngaleunggeuh atau pemanggilan roh-roh halus. Tindakan ini juga berfungsi untuk mengundang orang lain.

Sang cucu kemudian dibawa ke tempat lesung, dipayungi. Ia menumbuk padi 4 atau 5 kali sambil didampingi orang tua.

Setelahnya, ia dibawa ke kolam pemandian dan dimandikan dengan air bunga, air beras, dan air kembang kelapa. Ia pun akan disawer dengan beras kuning bercampur uang logam di pintu masuk rumah. Uang itu diperebutkan anak-anak yang menonton.

Gigi sang cucu dipangur oleh dukun bayi dan wajahnya dirias ahli rias Cirebon. Acara siang itu ditutup dengan arak-arakan pelaminan dengan sang anak duduk di atasnya.

Malam harinya, diadakan pesta meriah. Permainan dan kesenian digelar di alun-alun. Tamu-tamu kalangan menak dan Belanda menikmati tari pergaulan bersama ronggeng pilihan Cirebon: Nyi Rara Pucuk, Nyi Dewi Melok, dan Nyi Bokar.

Pesta itu berjalan semalaman dan sebagian besar orang dewasa akan mabuk karena minuman keras yang disajikan.

Di sisi lain, sang cucu akan dimanjakan orang tua dengan jampi-jampi agar terbebas dari bencana.

Esok paginya, sang anak dibawa berendam di pemandian, lalu disunat oleh dukun sunat.

Setelah Disunat

Perayaan pun belum selesai sampai situ. Setelah disunat, sang anak diberikan hadiah uang oleh para tamu. Tamu-tamu pun dijamu dengan berbagai hidangan yang sudah matang dipersiapkan.

Mengingat sang cucu adalah anak menak, ia akan mendapatkan nama baru yang diambil dari nama leluhur berderajat tinggi juga mudah rezeki. Dia mendapatkan nama baru sambil dinyanyikan (tembang) dan dinasihati di hadapan saudara-saudaranya.

Apabila ada anak kerabat dekat bupati yang juga hadir, tidak jarang dia boleh ikut disunat bersama anak atau cucu bupati penyelenggara.

Setelahnya, Bupati Sukapura mengirim 4 kerbau untuk Sultan Kasepuhan sebagai ucapan terima kasih. Para pelayan dan rakyat pun dihadiahkan pakaian sesuai dengan jabatan masing-masing dan jamuan makan kabupaten. (Farah Tifa Aghnia)

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers