web analytics
  

Dituding Aniaya Polisi Saat Unjuk Rasa, Mahasiswa Ungkap Kondisi Sebaliknya

Senin, 12 Oktober 2020 16:22 WIB Fichri Hakiim
Bandung Raya - Bandung, Dituding Aniaya Polisi Saat Unjuk Rasa, Mahasiswa Ungkap Kondisi Sebaliknya, Penganiayaan polisi Bandung,Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law di Bandung,Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law,Unjuk Rasa Tolak UU Cipta Kerja

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Jawa Barat melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/10/2020). Mahasiswa dari berbagai kampus tersebut menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang sudah disahkan oleh Pemerintah dan DPR RI. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Ratusan mahasiswa melakukan unjuk rasa menuntut pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan Kantor DPRD Provinsi Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (6/10/2020) hingga Kamis (8/10/2020). Dalam aksi itu, sejumlah mahasiswa dituding melakukan penganiayaan terhadap anggota kepolisian.

Mantan Wakil Presiden Mahasiswa Unisba, Sulton Arif Mauludi mengaku, saat itu dia mengikuti unjuk rasa hingga malam hari. Namun, ia membantah terkait adanya kabar penganiayaan petugas kepolisian dan justru mengungkap kondisi sebaliknya.

"Gini, setau saya yang ketika hari Rabu dan Kamis ikut turun ke lapangan, ke titik aksi di gedung DPRD itu tidak ada penganiayaan ataupun pengeroyokan terhadap oknum polisi dari massa. Yang ada adalah pengeroyokan atau pemukulan yang dilakukan aparat atau oknum polisi, terhadap massa aksi yang kemarin melakukan aksi demonstrasi secara besar besaran itu yang pertama," jelas Sulton, Senin (12/10/2020).

Ia menceritakan, saat menjelang malam hari, petugas kepolisian membubarkan massa aksi yang saat itu masih berada di depan Gedung DPRD Provinsi Jabar.

"Jadi begini, kronologis sewaktu aksi di depan gedung DPRD ya, menjelang malam sekitar jam 18.00 itu dari aparat kepolisian itu membubarkan massa dengan menggunakan gas air mata dan water cannon ke arah kerumunan massa. Pada akhirnya, massa yang berkerumun itu langsung membubarkan diri karena perih dengan gas air mata. Massa ada yang lari ke arah Unisba, Dago, ada juga yang ke arah Dukomsel, ataupun ke arah jalan Diponegoro Gedung Sate, itu banyak yang melarikan diri," katanya.

Saat itu, lanjut Sulton, ada beberapa oknum massa aksi yang mencoba melawan petugas kepolisian dengan cara melempar batu.

"Tapi ada beberapa oknum massa yang melawan polisi dengan melemparkan batu, botol minuman, ataupun dengan melemparkan bom molotov ada yang seperti itu. Cuma itu tidak berpengaruh besar terhadap aparat kepolisian, nah aparat bringas membubarkan massa hingga memukul mundur ke arah Unisba, ke Taman Radio, sampai ke pertigaan Taman Radio, itu sampai masuk ke kampus juga," ujar Sulton.

Kemudian, ketika ditanya mengenai adanya penganiayaan terhadap petugas kepolisian di salah satu posko Jalan Sultan Agung, ia tidak mengetahui hal itu. "Saya kurang tahu kalau perihal info adanya penganiayaan terhadap petugas yang di Sultan Agung," ucapnya.

"Kalau misalkan pengeroyokan terhadap kepolisian dari oknum massa itu sama sekali tidak benar. Saya tidak menemukan itu di lapangan, barangkali itu di luar sepengetahuan saya," kata Sulton.

Sementara itu, Polda Jabar menetapkan tujuh orang tersangka terkait unjuk rasa berujung ricuh yang dilakukan di Gedung DPRD Provinsi Jabar dan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (8/10/2020) lalu.

Setelah kericuhan tersebut, sejumlah oknum massa dituding melakukan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang petugas kepolisian dengan pangkat Brigadir berinisial A.

Dirreskrimum Polda Jabar Kombes Pol Chuzaini Patoppoi menjelaskan, penyelidikan terus dilakukan guna mengungkap pelaku lain.

"Sementara masih tiga orang yang ditahan, mungkin akan ada pengembangan lain nanti. Masih kita upayakan untuk pengungkapan, itu merupakan posko relawan, di mana pada saat itu di posko disiapkan untuk mendukung logistik dan kesehatan terhadap massa unjuk rasa," ujarnya di Polda Jabar, Senin (12/10/2020).

Patoppoi menambahkan, dari 7 tersangka yang diamankan, 3 orang berinisial DR, DH, dan CH ditahan di Polda Jabar, sedangkan satu lainnya ditahan di Polres Karawang. Oknum massa melakukan penganiayaan terhadap anggota kepolisian ketika berada di posko unjuk rasa.

"Begitu anggota melakukan pengecekan ke dalam posko, di posko tersebut terjadilah penganiayaan terhadap anggota kita. Mungkin karena kesal dan segala macam, tapi faktanya ketika anggota mau keluar, itu pintunya ditutup lalu dilakukan penganiayaan. Jadi anggota yang masuk posko ini berpakaian biasa lalu dianiaya," jelas Patoppoi.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers