web analytics
  

Melawan Pandemi Covid-19 dengan Data

Minggu, 11 Oktober 2020 20:41 WIB Netizen Maulana MS Aji, SST., M.Sc
Netizen, Melawan Pandemi Covid-19 dengan Data, Pemulihan Ekonomi,Pandemi Corona,Badan Pusat Statistik (BPS)

Ilustrasi (Pixabay)

Maulana MS Aji, SST., M.Sc

Pemerhati Sosial Ekonomi Indonesia

AYOBANDUNG.COM -- Beberapa negara di Asia pernah mengalami masa-masa sulit bahkan diambang kehancuran. Negara-negara tersebut mampu bertahan dan bangkit dari keterpurukan hanya bermodalkan data-data sederhana. Kombinasi pemimpin yang tangguh didukung data yang akurat menjadi kunci kebangkitan negara-negara tersebut.

Salah satu negara yang bangkit dari kehancuran adalah Jepang. Bom Hiroshima dan Nagasaki pada akhir perang dunia kedua sangat meluluhlantahkan Jepang pada saat itu. Bom yang memiliki julukan little boy tersebut mengubah peta kekuasaan dunia. Pemerintah Jepang memilih menyerah kepada sekutu dari segala bentuk penjajahan yang sudah dilakukan. Kaisar Hirohito sebagai pemimpin Jepang pada saat itu lebih memilih fokus memulihkan keadaan dalam negerinya ketimbang urusan penjajahannya.

Langkah besar yang diambil Kaisar Hirohito dalam rangka membangun kembali Jepang adalah dengan cara mengumpulkan data jumlah guru yang tersisa di Jepang. Data jumlah guru memang sederhana namun Kaisar Hirohito memiliki misi tersendiri dengan data tersebut.

Data jumlah guru pada saat itu dipandang Kaisar Hirohito sebagai data jumlah pejuang yang akan membangun kembali perekonomian Jepang. Setelah perang dunia kedua berakhir, Jepang menyulap guru-guru mereka yang berjumlah sekitar 45.000 orang menjadi garda terdepan pembangunan. Sebagai langkah awal, guru-guru di Jepang pada saat itu dikirim ke luar negeri untuk menuntut ilmu. Sekembalinya dari luar negeri, guru-guru tersebut dituntut harus bisa menularkan ilmunya ke murid-muridnya. Ilmu yang diajarkan juga harus berkaitan dengan terapan industri.

Langkah inilah yang membuat Jepang berubah menjadi negara industri setelah perang dunia kedua. Pelan tapi pasti, industri elektronik dan otomotif di Jepang bisa mengimbangi eropa di pasar dunia. Langkah yang diambil Kaisar Hirohito terbukti berdampak sangat baik bagi Jepang di era perdamaian pasca perang dunia kedua. Jepang tetap menjadi negara yang berkuasa di mata dunia, berkuasa dalam bidang ekonomi.

Menilik ilustrasi bangkitnya Jepang setelah perang dunia kedua bisa menjadi contoh Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Langkah-langkah kongkret keluar dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19 harus segera disiapkan.

Langkah kongkret yang pertama harus diselesaikan adalah Indonesia harus bebas dari Covid-19 lebih dahulu dibandingkan negara-negara lain. Berkaca dari sejarah krisis ekonomi dunia, negara yang lebih dahulu keluar dari kondisi krisis akan berkembang menjadi negara yang maju. Sebagai contoh adalah sejak krisis ekonomi 1998, beberapa negara justru terlahir kembali dengan cepat dan berkembang menjadi negara maju.

Sebut saja Taiwan dan Cina yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sejak krisis 1998. Saat ini Taiwan dan Cina berubah menjadi negara maju setara dengan negara tetangganya yaitu Korea dan Jepang yang sudah lebih dahulu menjadi negara maju. Kekuatan dari Taiwan dan Cina adalah mereka bangkit dari krisis ekonomi 1998 lebih cepat dibandingkan negara lain.

Sama halnya dengan krisis ekonomi 1998, kondisi perekonomian yang porak poranda akibat pandemi Covid-19 hampir dirasakan seluruh negara di dunia. Kondisi ini bisa menjadi peluang Indonesia menjadi negara yang maju jika bisa bangkit lebih dahulu dibandingkan negara lainnya. Tentu saja kebangkitan ekonomi Indonesia harus melalui fase terbebasnya Indonesia dari Covid-19 secara nyata, tidak hanya berdasarkan klaim sepihak dari pemerintah. Klaim terbebasnya Indonesia dari Covid-19 harus berdasarkan data-data yang terpercaya dan terverifikasi pihak luar. Hal ini penting untuk mewujudkan kepercayaan dunia kepada Indonesia. Mengingat saat ini sudah 59 negara menolak kedatangan Warga Negara Indonesia masuk ke dalam negaranya.

Seperti halnya Kaisar Hirohito yang hanya membutuhkan data jumlah guru untuk membangun kembali Jepang, pemerintah Indonesia juga membutuhkan data-data pendukung sebagai modal kebangkitan perekonomian menghadapi pandemi Covid-19. Data jumlah tenaga medis, ketersediaan ruang isolasi dan persediaan obat-obatan harus lengkap setiap daerah.

Terukurnya data-data tersebut sangat membantu Indonesia dalam menangani Covid-19. Mengingat Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas. Kebutuhan logistik obat-obatan dan dokter tidak boleh menumpuk disuatu wilayah saja. Logistik kesehatan harus tersebar secara proporsional.

Tantangan lainnya adalah Indonesia tidak hanya harus terdepan dalam hal menangani Covid-19, Indonesia juga harus mampu membuat vaksin Covid-19. Jika Indonesia hanya mengandalkan impor vaksin Covid-19 dari negara lain maka peluang untuk menjadi negara maju pada kesempatan pandemi ini akan terlewatkan.

Namun jika Indonesia mampu membuat vaksin Covid-19, Indonesia yang diwakili oleh perusahaan-perusahaan obat seperti Kalbe, Indofarma, dan Kimi Farma akan berkembang menjadi perusahaan multinasional yang berkelas. Dengan demikian fokus anggaran pemerintah dimasa pandemi Covid-19 adalah untuk kesehatan dan riset vaksin.

Layaknya orang tua yang akan membereskan rumah berantakan akibat ulah anak-anaknya yang sedang bermain, maka orang tua akan menunggu anak-anaknya selesai dulu bermain.

Orang tua tidak akan membereskan rumahnya jika anak-anakknya belum berhenti bermain. Karena menjadi kegiatan yang sia-sia dibersihkan jika anak-anak mereka masih bermain. Pastinya rumah akan berantakan kembali meskipun orang tuanya sudah membereskan rumah.

Hal ini sama dengan kondisi Covid-19 yang melanda Indonesia. Anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk pemulihan ekonomi menjadi sia-sia. Stimulus ekonomi yang dinahkodai oleh para ekonom kawakan seperti Sri Mulyani dan Erlangga Hartato tidak berjalan sesuai teori. Data pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada awal Bulan Agustus 2020 menunjukkan perekonomian Indonesia mengalami kontraksi sebesar -5,32 persen jika dibandingkan triwulan II tahun 2019. Stimulus ekonomi lebih tepat dan optimal dilakukan jika kondisi Indonesia sudah normal dari Covid-19.

Data-data lain yang disediakan BPS seperti tingkat pengangguran, persentase penduduk miskin, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan lain-lain selalu siap menjadi bahan evaluasi dan monitoring keadaan Indonesia setiap periodenya.

Pemerintah Indonesia bisa menggunakan senjata-senjata berupa data-data tersebut sebagai modal melawan Covid-19 yang mulai menggerogoti perekonomian Indonesia. Semoga para pemimpin Indonesia diberikan kesehatan dan kekuatan inovasi seperti Kaisar Hirohito, sehingga akhir dari pandemi Covid-19 bagi Indonesia adalah awal kebangkitan perekonomian Indonesia menjadi negara yang maju.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers