web analytics
  

Dari Iseng, Siwang Binih Asal Indramayu Ini Melanglang Buana ke Luar Negeri

Sabtu, 10 Oktober 2020 18:27 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Dari Iseng, Siwang Binih Asal Indramayu Ini Melanglang Buana ke Luar Negeri, siwang binih,indramayu,Bawang Merah,terasi,luar negeri,oleh oleh indramayu,makanan khas indramayu,UMKM

Ika Julia menunjukkan produk Siwang Binih hasil kreasinya bersama kaum ibu di desanya di Kabupaten Indramayu. ((Erika/Ayocirebon) )

INDRAMAYU, AYOBANDUNG.COM -- Bermula dari sekedar iseng, olahan terasi dan bawang (siwang) asal Kabupaten Indramayu, Siwang Binih, kini melanglang buana ke belahan lain bumi.

Siwang Binih merupakan produk UMKM yang dikreasikan seorang perempuan Indramayu, Ika Julia (30), warga Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu.

Berdasarkan pengalaman masa kecilnya yang kerap memakan siwang, pada 2017, Ika bersama kaum ibu di sekitar rumah membuat olahan terasi dan bawang goreng ini.

"Dulu saya kalau makan, nasinya ditambah siwang dan rasanya jadi gurih. Kemudian, saya ajak ibu-ibu sini (sekitar rumah tinggalnya) memproduksi siwang," ungkapnya.

Mengingat pembuatnya merupakan kaum ibu atau istri, muncullah ide menambahkan kata 'Binih' pada produk olahan mereka. Mengambil kata bini yang dalam bahasa Betawi berarti istri, mereka mengimbuhkan huruf "H" di akhir kata agar lebih enak kala diucapkan.

Siwang Binih semula hanya ditawarkan kepada teman-teman mereka sendiri maupun dengan mendatangi langsung pembelinya. Perlahan namun pasti, permintaan meningkat.

Sejak itu, produksi pun dilakukan besar-besaran dan lantas membuka penawaran secara daring. Dalam sebulan, Ika dan rekan-rekannya memproduksi 5 kuintal bawang merah

"Produksi sebenarnya masih manual, mulai dari menyisir bawang sampai packing (pengemasan)," ujar ibu 2 anak ini.

Namun, untuk proses lain semisal mixing, pressing, dan labeling masa kedaluwarsa, mereka memanfaatkan tenaga mesin.

Pasca penawaran secara daring, imbuhnya, permintaan Siwang Binih semakin meningkat. Tak hanya dari daerah sekitar Indramayu, permintaan pun datang dari daerah lain di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa.

"Ada juga konsumen dari luar negeri. Kebanyakan orang-orang yang bekerja di luar negeri, yang kangen rasa asli Indonesia," tuturnya.

Tak hanya saat berada di luar negeri, para pekerja migran Indonesia itu bahkan kerap membekali diri ketika hendak kembali berangkat ke luar negeri.

Untuk memudahkan konsumen, Siwang Binih menggunakan kemasan ziplock. Ika meyakinkan, selain praktis, kemasan ini pula memungkinkan produk di dalamnya awet hingga lebih dari setahun.

Siwang Binih pun menarik minat 2 perusahaan ritel yang memajangnya pada gerai mereka masing-masing. Saat ini, Siwang Binih hadir dalam 4 varian rasa, yaitu teri pedas, original, spicy, dan jengkol pedas dengan kisaran harga Rp15.000-Rp28.000.

Berkat usaha keras, produk ini bahkan pernah meraih penghargaan, salah satunya sebagai UMKM terbaik Jabar 2019.

Sekalipun begitu, Siwang Binih tetap mempromosikan dirinya dalam pameran-pameran, termasuk expo di luar negeri. Tak heran, produk ini pun kini dilirik pasar internasional, salah satunya Jepang.

"Rencananya diekspor ke Jepang sebanyak 15.000 pcs untuk dimasukkan ke dalam supermarket di sana," katanya.

Bagi Ika sendiri, permintaan itu berarti berkah. Di masa pandemi, dia terpaksa harus mengurangi jumlah produksi dan hanya memprioritaskan produk berdasarkan pesanan.

Namun, permintaan dari Jepang dikatakannya telah membangkitkan kembali semangat mereka. Dia pun berharap Siwang Bijih dapat diekpor ke negara lain.

Editor: Arditya Pramono

artikel terkait

dewanpers