web analytics
  

Demo yang Bikin Happy?

Sabtu, 10 Oktober 2020 15:51 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Demo yang Bikin Happy? , demo,Demo Tolak Omnibuslaw,Demo UU Cipta Kerja,demo buruh,demo mahasiswa

Sejumlah massa aksi bentrok saling melempar batu dengan aparat saat unjuk rasa penolakan Omnibus Law di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (08/10/2020). (Ayobandung.com/Ryan Suherlan/magang)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kaum buruh, dan juga para mahasiswa, di sejumlah kota, turun ke jalan melakukan demonstrasi, baru-baru ini. Sebagian kalangan menyambut positif aksi tersebut. Mereka menyebut apa yang dilakukan kaum buruh dan para mahasiswa itu sebagai heroik demi mengawal keadilan dan tegaknya demokrasi di negeri ini.

Namun di sisi lain, ada juga yang kurang hepi dengan aksi demonstrasi mereka, terutama ketika demonstrasi tersebut berujung dengan rusuh dan jatuhnya korban, baik yang menimpa pendemo, petugas keamanan, jurnalis maupun masyarakat umum, serta terjadinya pula pengrusakan berbagai fasilitas publik.

Demonstrasi merupakan hak setiap warga negara. Ia merupakan salah satu bagian dari kebebasan berekspresi dan menyalurkan pendapat maupun aspirasi di muka publik, yang dijamin oleh undang-undang. Siapa saja boleh melakukan unjuk rasa, terkait persoalan apa pun. Tapi, tentu ada aturan-aturan yang wajib dipenuhi

Ada yang melempar gagasan ihwal perlunya disediakan sebuah ruang/tempat khusus yang diperuntukkan bagi masyarakat yang hendak menyalurkan pendapat/aspirasi mereka lewat cara unjuk rasa.

Diharapkan dengan adanya ruang khusus untuk berdemonstrasi ini nantinya tidak ada lagi gangguan publik saat sekelompok elemen masyarakat sedang melakukan aksi demonstrasi mereka.

Memang, dalam menyatakan pendapat lewat aktivitas demonstrasi, siapa pun sama sekali tidak boleh sampai menggangu kepentingan publik dan mengganggu hak-hak individu. Artinya, demonstrasi boleh tetap berjalan sepanjang kepentingan publik dan hak-hak individu tetap terpelihara.

Faktanya, tidak jarang tatkala demonstrasi berlangsung dengan melibatkan jumlah massa yang demikian besar, yang paling mengemuka kemudian adalah dampak-dampak negatif dari aksi demonstrasi itu seperti kemacetan lalu-lintas, meningkatnya kebisingan, menumpuknya sampah, hingga pengrusakan sejumlah fasilitas publik dan jatuhnya korban -- ketika aksi demonstrasi semakin besar,  semakin tidak terkendali dan berakhir dengan rusuh.

Lontaran gagasan soal perlunya disediakan ruang publik khusus untuk ajang demonstrasi adalah sebuah hal yang baik, yang mungkin pula perlu dipikirkan dan diwujudkan. Akan tetapi, apakah nanti jika ruang khusus untuk berdemonstrasi itu benar-benar tersedia, bakal ada jaminan bahwa semua elemen masyarakat yang berdemonstrasi sepenuhnya patuh hanya akan berdemostrasi di ruang yang telah disediakan? Juga apakah ada jaminan sebelum dan sesudah melakukan demonstrasi di ruang khusus itu para demonstran tidak akan menyebabkan gangguan bagi kepentingan publik dan gangguan terhadap hak-hak individu?

Persoalannya mungkin saja bukan pada ada atau tidak adanya ruang khusus untuk berdemonstrasi. Tetapi, tampaknya lebih pada tersedianya kanal-kanal lain yang mampu menjamin aspirasi elemen-elemen masyarakat untuk lebih didengar, lebih dipahami dan lebih diperjuangkan.

Bisa jadi, sebagian masyarakat selama ini lebih memilih cara untuk beramai-ramai turun ke jalan untuk berdemonstrasi dan melakukan pressure terhadap pemerintah maupun parlemen atas sejumlah isu karena mereka tidak memiliki kanal-kanal yang mereka anggap terpercaya untuk mereka jadikan ajang penyalur aspirasi-aspirasi mereka.

Sesungguhnya, sepanjang aktivitas demonstrasi tidak mengganggu kepentingan publik dan hak-hak individu lainnya, demonstrasi di ruang publik mana pun, boleh-boleh saja. Namun, begitu ada kepentingan publik dan hak-hak individu yang terganggu, pihak keamanan negara, atas nama hukum, berhak menertibkannya.

Di sisi lain, demonstrasi yang mengganggu hak-hak publik dan hak-hak individu, apalagi berujung rusuh, chaos dan anarkistis, bakal menjadi kontraproduktif dan akhirnya tidak akan mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat. Siapa pun, yang akan turun ke jalan untuk berdemo, perlu mengkalkulasi hal tersebut.

Mereka perlu senantiasa menjaga agar aksi-aksi parlemen jalanan yang mereka lakukan berlangsung tertib, aman dan damai -- tanpa membuat kerusakan dan menimbulkan korban, sekecil apa pun. Jika bisa begitu, demo niscaya berbuah happy ending.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Arditya Pramono

terbaru

Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai

Netizen Sabtu, 6 Maret 2021 | 20:13 WIB

Akhir-akhir ini di berbagai daerah, masyarakat mengeluhkan melambungnya harga cabai rawit merah hingga Rp.120.000, samp...

Netizen, Penyebab Makin Pedasnya Harga Cabai, Harga Cabai Naik,Harga Cabai Tanjung Naik,BPS

Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi

Netizen Jumat, 5 Maret 2021 | 09:25 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia genap berusia setahun. Sejak ditemukan kasus perdana di awal Maret tahun 2020, h...

Netizen, Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi, Infokom,COVID-19,PSBB

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun

artikel terkait

dewanpers