web analytics
  

BANDUNG HARI INI: Apa Kabar Program Mapag Hujan?

Jumat, 9 Oktober 2020 18:52 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Raya - Bandung, BANDUNG HARI INI: Apa Kabar Program Mapag Hujan?, Mapag Hujan,Bandung,Antisipasi Banjir di Bandung

Hujan lebat mulai sering mengguyur Kota Bandung. (Ryan Suherlan)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Banjir masih menjadi salah satu bencana paling mengancam warga Kota Bandung. Tumbuh di sekitaran dasar mangkuk raksasa Cekungan Bandung, kota dengan 2,5 juta penduduk ini bukan saja rentan akan genangan tapi juga banjir bandang. Dalam berbagai survei tentang Bandung, banjir selalu tampil dalam puncak daftar masalah, bersama macet, yang dikeluhkan warga.

Silih-berganti wali kota yang menjabat menggulirkan bermacam program penanggulangan dan penanganan banjir. Ada yang menanam pohon di sepanjang perbatasan dengan daerah tetangga. Yang lain membangun kolam retensi.

Pada 9 Oktober 2019, tepat pada hari ini setahun lalu, Pemerintah Kota Bandung mulai mengerjakan program Mapag Hujan. Arti harafiahnya: menyambut hujan.

Tiga Minggu Penuh

Mapag Hujan merupakan program penanggulangan banjir yang dilakukan secara serentak selama tiga pekan mulai 9 Oktober hingga 31 Oktober 2019. Kerja utamanya adalah mengangkat sedimentasi di saluran drainase kota, mulai dari parit, gorong-gorong, hingga sungai.

“Sedimen dan sampah sudah ada di sungai. Dalam jangka pendek kita akan beberesih sungai secara massif sebelum musim hujan tiba. Jadi badan sungai berfungsi optimal,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Didi Ruswandi, Kamis (3/10/2019).

Menurut Didi, sekitar 2.000-an orang unsur Pemerintah Kota terlibat dalam program ini. Selain 360-an personel Dinas Pekerjaan Umum, ada juga 10 petugas di tiap kecamatan. Mereka turun pertama untuk menjadi contoh bagi komunitas dan warga.

"Sambil berjalan, komunitas-komunitas diharapkan terlibat juga. Kita harapkan dengan partisipasi publik sekitar 2.500-an (orang terlibat Mapag Hujan),” ujar Didi.

Pada November 2019, Pemerintah Kota Bandung mengumumkan 4 ribu meter kubik sedimen terangkat berkat gerakan serentak Mapag Hujan.

Tidak Diteruskan

Tahun ini belum terdengar ada rencana pengguliran lagi program Mapag Hujan. Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan mengingatkan agar Pemerintah Kota Bandung secepatnya mengerjakan program-program antisipasi banjir dan longsor menjelang musim penghujan. Ia mempertanyakan ketidakberlanjutan program Mapag Hujan.

“Kerja penanganan pandemi Covid-19 harus jalan terus, tapi jangan lupakan juga kerja mengantisipasi potensi bencana banjir dan longsor. Musim penghujan sudah datang, tapi belum terlihat kerja signifikan di lapangan,” tutur Tedy Selasa (22/9/2020).

Salah satu bencana banjir bandang terbesar di Kota Bandung terjadi pada pertengahan Maret 2018 lalu. Gelontoran air dari utara merusak kawasan Cicaheum dan menimbulkan kerugian materi yang tidak sedikit.

Menurut Tedy, program ‘Mapag Hujan” yang digulirkan tahun lalu lalu terbuktif relatif efektif mengantisipasi bencana banjir dan longsor sepanjang musim penghujan. Ia berharap Pemkot dapat menerapkan kebijakan serupa, atau bahkan bisa lebih sigap lagi.

“Koordinasi dengan kewilayahan harus lebih kuat lagi. Pembersihan drainase dan gorong-gorong secara rutin jadi prioritas setiap hari,” katanya.

Tedy menyatakan, DPRD Kota Bandung sudah mendorong sekaligus mendukung percepatan program antisipasi banjir lewat pengalokasian ulang APBD Perubahan 2020. Dana senilai Rp 8 miliar disiapkan untuk program-program antisipasi banjir.

“Memang dana sejumlah itu dibagi-bagi ke dalam beberapa program, termasuk perawatan jalan dan penerangan jalan umum (PJU). Namun, penanganan banjir tetap jadi prioritasnya,” katanya.

Jangka Pendek

Meski berhasil membersihkan saluran drainase dari sekian banyak sedimen, Mapag Hujan merupakan jenis program jangka pendek. Pemerintah Kota Bandung pun mengakui hal itu.

Pengangkatan sedimen bisa membuat fungsi gorong-gorong dan sungai kembali optimal, namun ia tidak dapat menuntaskan persamalahan serius yang menjadi akar penyebab sedimentasi itu, yakni kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan yang semakin cepat lajunya di kawasan hulu.

Didi Ruswandi mengungkapkan, solusi jangka panjang untuk mengantisipasi banjir saat musim hujan tiba adalah pengelolaan air dengan membuat resapan. Langkah ini dibarengi dengan keseriusan memperluas lahan terbuka hijau (RTH).

“Untuk penanganan atau tata kelola air hujan jangka panjangnya, kita harus meresapkan di RTH. Kalau memungkinkan membangun retensi. Kalau di ruang yang sudah terbangun kita usahakan fungsi retensi masih ada,” ucapnya.

Bandung telah membangun beberapa infrastruktur penanganan banjir. Ada tiga tol, selain delapan kolam retensi yang siap menjadi lahan parkir air di beberapa titik.

Bandung juga memiliki 13 rumah pompa yang disimpan di tempat-tempat potensial tergenang ‘cileuncang’. Rumah pompa yang selalu dijaga oleh petugas itu akan melakukan penyedotan air dan dialirkan lebih cepat ke sungai-sungai dengan debit air lebih sedikit.

Editor: Tri Joko Her Riadi

artikel terkait

dewanpers