web analytics
  

UMKM: Tulang Punggung yang Harus Diperkuat

Jumat, 9 Oktober 2020 11:31 WIB Netizen Gilang Alip Utama
Netizen, UMKM: Tulang Punggung yang Harus Diperkuat, UMKM,Dampak Corona,Dampak Pandemi Covid-19,Ekonomi Indonesia,Badan Pusat Statistik (BPS)

[Ilustrasi] UMKM. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Gilang Alip Utama

Fungsional Statistisi di Badan Pusat Statistik

AYOBANDUNG.COM -- Dampak ekonomi akibat eskalasi pandemi corona di Indonesia kini semakin jelas terasa. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) awal agustus 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ke-2 mengalami kontraksi sebesar 5,31 persen (y-on-y) atau yang terburuk sejak tahun 1999. Angka ini merupakan representasi bahwa perekonomian Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Menyikapi situasi tersebut, berbagai upaya telah digencarkan oleh pemerintah. Guna menjaga daya beli masyarakat, mulai Juli 2020 pemerintah telah menyalurkan bantuan dan jaring pengaman sosial terhadap kelompok masyarakat yang rentan terdampak. Melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), alokasi dana sekitar 695 triliun rupiah (atau setara dengan 6,34 persen PDB) pun siap dikucurkan. Program ini juga menyasar sektor korporasi, perbankan, dan khususnya UMKM sebagai sektor prioritas program.

Tidak berhenti sampai di situ, upaya di atas juga diiringi dengan intervensi moneter seperti penurunan suku bunga acuan.

Melalui Bank Indonesia (BI), pemerintah hingga saat ini masih mempertahankan suku bunga acuan BI di angka 4,00 persen. Harapannya, sejumlah stimulus seperti subsidi bunga, penjaminan kredit modal kerja, insentif pajak, suku bunga kredit yang rendah, hingga penempatan dana di perbankan yang terdampak untuk restrukturisasi pinjaman, mampu menopang sektor-sektor produktif dan menjaga iklim investasi di tengah ketidakpastian pasar yang masih berlangsung.

Sayangnya, langkah extraordinary yang telah dilakukan tersebut tampaknya belum mampu mengatrol perekonomian Indonesia secara signifikan, setidaknya sampai kuartal tiga ini berjalan. Beberapa indikator menunjukkan bahwa jalannya roda perekonomian masih tergopoh-gopoh.

BPS mencatat bahwa inflasi pada Agustus 2020 sebesar 1,32 persen (y-on-y), lebih rendah dibandingkan batas bawah target BI sebesar 2 persen. Rilis terbaru BI juga menunjukkan bahwa pada Juli 2020 ini retail sales index masih terkontraksi sebesar 12,3 persen (y-on-y) dan diprediksi kembali mengalami kontraksi pada Agustus 2020. Rendahnya tren inflasi dan penjualan ritel tersebut mengindikasikan masih lemahnya permintaan dan daya beli masyarakat karena sejumlah pembatasan aktivitas sosial yang diberlakukan.

Belum lagi efisiensi dan beragam penyesuaian yang terpaksa harus dilakukan sejumlah perusahaan bahkan perusahaan yang harus gulung tikar sehingga berdampak pada jumlah pengangguran yang kian meningkat. Hitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) memperkirakan bahwa jumlah pengangguran bertambah 3,7 juta orang. Gelombang resesi pun sudah di depan mata.

Kondisi force majeure seperti saat ini menjadikan resesi ekonomi adalah hal normal. Sejumlah ekonom meyakini bahwa saat ini Indonesia telah memasuki fase resesi ekonomi. Menyusul negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Nada serupa juga diungkapkan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani yang memproyeksikan bahwa kuartal ke-3 pertumbuhan ekonomi tanah air minus hingga 2,9 persen. Lebih dalam dari kalkulasi proyeksi sebelumnya.

Lalu bagaimana agar perekonomian Indonesia tak hanyut dalam arus resesi? Belajar dari pengalaman saat krisis 1998-1999, salah satu solusi agar Indonesia mampu bertahan saat resesi adalah memperkuat eksistensi sektor UMKM. Faktanya, sekitar 99 persen struktur ekonomi Indonesia saat ini didominasi oleh UMKM. Hal ini merupakan bukti bahwa UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian tanah air.

Kajian BPS terbaru (Analisis Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha) menyebutkan bahwa 84,20 persen Usaha Mikro Kecil (UMK) mengalami penurunan pendapatan. Sektor usaha yang paling banyak merasakan merosotnya pendapatan adalah usaha akomodasi dan penyediaan makan minum, usaha transportasi, dan usaha jasa-jasa lainnya.

Selain itu, kajian BPS tersebut juga menerangkan bahwa hampir 70 persen UMK mengaku membutuhkan bantuan modal sebagai hal yang paling mereka perlukan saat ini. Bagi usaha kecil, sekalipun jumlahnya tidak besar, suntikan modal ini dapat menjadi oase di tengah-tengah kondisi yang serba sulit.

Bak gayung bersambut, melalui program PEN pemerintah telah menggelontorkan bantuan produktif senilai 2,4 juta rupiah per usaha mikro yang di targetkan hingga 12 juta pelaku usaha mikro yang memenuhi syarat. Ditambah lagi dengan berbagai kemudahan plus subsidi bunga kredit yang diperuntukkan bagi usaha kecil.

Namun, penting untuk menggarisbawahi bahwa selain realisasi yang cepat, pengawasan terhadap bantuan tersebut juga menjadi kunci agar penyaluran bantuan tepat sasaran. Pemerintah melalui Kementerian/Lembaga terkait juga perlu untuk terus meningkatkan pembinaan terhadap UMKM agar bantuan tersebut dapat digunakan pada upaya-upaya adaptasi dan inovasi sehingga manfaat bantuan semakin nyata. Misalnya, dengan mengembangkan pemasaran produk melalui media digital atau internet agar target pangsa pasar yang dijangkau semakin luas.

Terakhir, seberapa lama pemulihan ekonomi di Indonesia tergantung dengan seberapa lama kita bergelut dengan penyebaran Covid-19. Resesi ekonomi bukanlah jalan buntu, tapi justru menjadi momen bagi kita semua untuk berkembang dan berinovasi. Sebagai bangsa pejuang, sejarah berbicara bahwa Indonesia memiliki modal yang tangguh untuk keluar dari jerat resesi.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita bersama agar dapat saling bersinergi untuk tetap produktif dengan tetap menjalankan 4M tanpa tawar menawar: memakai masker dengan benar, mencuci tangan dengan rutin, menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Jangan sampai pilihan pemerintah untuk tetap membuka keran aktivitas ekonomi di tengah pandemi menjadi bumerang karena kita lalai meningkatkan kedisiplinan dalam mematuhi protokol kesehatan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers