web analytics
  

Si Kecil yang Berdampak Besar dan Langkah Kecil untuk Mengatasinya

Senin, 5 Oktober 2020 16:50 WIB Netizen Siska Hermayaningsih
Netizen, Si Kecil yang Berdampak Besar dan Langkah Kecil untuk Mengatasinya, Sampah Plastik,Tas Belanja Ramah Lingkungan,totebag,masalah plastik

Membungkus belanjaan dengan dus bekas yang disediakan pihak peritel. (Siska Hermayaningsih)

Siska Hermayaningsih

Entrepreneur, Penyuka travelling.

AYOBANDUNG.COM -- Isu sampah plastik telah berhembus sejak lama. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah daerah di Indonesia telah mengeluarkan Perda guna mengatur masalah sampah. Tak ketinggalan para stakeholders, seperti mal-mal, swalayan, dan restoran yang mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengurangi penggunaan plastik.

Sejumlah restoran cepat saji telah meniadakan sedotan plastik di restorannya. Sebagai gantinya, pelanggan bisa menggunakan reusable straw (sedotan aluminium) yang telah banyak dijual di pasar. Selain itu, salah satu kedai kopi multinasional pun telah mengalakkan penggunaan reusable cup.

Plastik, si bahan serba guna telah menjadi ancaman bagi polusi dunia sejak 1960-an. Ketika timbunan plastik pertama kali teramati mengapung di lautan, plastik telah menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi polusi dunia karena sifatnya yang tidak mudah terurai. Dibutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk mengurai plastik karena rantai karbonnya yang sangat panjang.

Dikutip dari indiantimes.com, Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar di dunia kedua setelah Tiongkok. Setiap tahunnya, Indonesia menghasilkan 3,2 juta ton sampah plastik. Tumpukan sampah yang tak terolah ini kemudian hanyut ke laut dan mengendap.

Sampah plastik yang hanyut di laut ini berbahaya bagi biota laut. November 2018 lalu, seekor paus ditemukan mati mengambang di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Di dalam perut paus ini ditemukan 6 kilogram sampah plastik. Menurut halaman BBC News, ditemukan 115 gelas plastik, 4 botol plastik, 25 kantung plastik dan sepasang sandal jepit.

Plastik telah membunuh hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan juga ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya setiap tahun. Banyak Penyu di Kepulauan Seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, salah satu makanan kesukaan Penyu.

Bali yang kita banggakan karena keindahan pantainya pun tak lepas dari persoalan sampah plastik. The Telegraph menyebut, setiap harinya terdapat 100 ton sampah plsatik yang dibersihkan dari Kuta, Jimbaran dan Seminyak. Indonesia sendiri menyumbang 10 persen dari total pencemaran laut global.

Melihat fakta-fakta di atas, bisa dikatakan bahwa Indonesia sedang mengalami darurat sampah plastik. Menanggapi hal tersebut, Bandung melalui Perda Nomor 9 tahun 2018 tentang pengelolaan sampah, bab 15 tentang perbuatan dan tindakan yang dikenakan sanksi administratif uang paksa, pada pasal 51 disebutkan sanksi bervariasi mulai dari penarikan uang paksa dari Rp500.000 hingga Rp5.000.000.

Perda ini mengatur agar masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarang. Namun masalah sampah bukan hanya tentang membuang sampah sembarangan. Tingginya penggunaan plastik adalah inti dari masalah sampah plastik. Terutama kantong plastik yang biasa dipakai untuk wadah belanjaan. Kecil, tapi sangat signifikan berkontribusi terhadap timbunan sampah plastik di Indonesia.

Dikutip dari cnnindonesia.com lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya. Dan 50 persen dari kantong plastik tersebut hanya dipakai sekali lalu langsung dibuang. Hanya 5 persen dari jumlah tersebut yang benar-benar didaur ulang. Maka Pemerintah lalu menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar. Kebijakan ini dinilai tidak efektif karena harga yang ditetapkan terlalu murah.

Saya sendiri mengakui bahwa kebijakan ini tidak mempengaruhi saya. Meski saya memiliki beberapa kantong belanja, saya sering lupa membawanya. Karena kantong plastik berbayar selalu tersedia. Hingga pada suatu hari ketika saya berbelanja di salah sau minimarket di Tasikmalaya. Ketika membayar di kasir, saya panik sendiri karena tidak disediakan kantong plastik di sana seperti biasa. Yang ada hanya kantong belanja dengan harga Rp8.000. Harga yang cukup mahal mengingat saya sudah punya beberapa kantong belanja di rumah. Saat membayar, petugas kasir memberi tahu saya bahwa saya bisa menggunakan dus sebagai wadah belanjaan saya. Dan itu gratis!

Dengan rasa lega saya lalu berjalan keluar untuk membungkus belanjaan saya. Bagi saya ini adalah langkah nyata terhadap komitmen untuk tidak menggunakan kantong plastik. Kejadian ini seakan menegur saya bahwa untuk melakukan perubahan tidak harus dengan melakukan hal besar. Semangat go green adalah semangat pemanfaatan barang bekas menjadi sesuatu yang berguna.

Selain itu, bisa menjadi contoh tindakan nyata terhadap komitmen pengurangan kantong plastik untuk berbelanja yang menurut saya lebih efektif dibanding kantong plastik berbayar. Percuma saja berapa pun mahal harga yang dipatok, jika barang (dalam hal ini kantong plastik) tersedia maka konsumen akan membelinya. Tapi jika barang tidak disediakan, maka itu konsumen tidak akan membeli. Dan itu akan berpengaruh terhadap konsumsi kantong plastik.

Jika peritel besar telah melakukan “sesuatu” untuk mengurangi sampah plastik, maka saatnya bagi kita untuk lebih sadar lingkungan. Cintai bumi kita, ubah kebiasaan dan mari berubah untuk hidup yang lebih baik (sehat).

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers