web analytics
  

3 Penyebab Anak Menjadi "Matre" dan Cara Penanggulannya

Minggu, 4 Oktober 2020 05:37 WIB Andres Fatubun
Umum - Unik, 3 Penyebab Anak Menjadi "Matre" dan Cara Penanggulannya, Keluarga,Tips,Konsumerisme

Ilustrasi. (Pera Detlic/Pixabay )

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Apakah Anda selalu memberi sesuatu yang diminta anak hanya karena ingin melihatnya senang? Hati-hati, lho. Kebiasaan ini bisa membuat anak jadi materialistis. Supaya hal ini tidak terjadi penting diketahui cara mencegahnya.

Materialistis merupakan sikap seseorang yang memandang kebahagian atau pencapaian dari sisi materi semata. Anak yang materialistis kemungkinan besar akan membawa sifat ini hingga ia dewasa. Ia juga akan tumbuh menjadi seseorang yang narsistik dan tidak pernah merasa puas.

Selain itu, anak dengan sikap materialistis percaya bahwa memiliki barang berkualitas tinggi adalah definisi kesuksesan. Ia juga bisa merasa harga dirinya ditentukan oleh harga barang atau produk yang ia miliki.

Penyebab Sikap Materialistis pada Anak
Sikap materialistis pada anak tidak muncul begitu saja. Sebuah penelitian menyatakan bahwa orang tua yang terlalu mengasihi anak dan menuruti segala kemauannya dapat menyebabkan anak menjadi materialistis.

Berikut ini adalah beberapa kebiasaan yang bisa membuat anak jadi materialistis:
1. Memberikan penghargaan dalam bentuk materi
Terlalu sering menjanjikan materi, misalnya memberi ponsel baru atau mainan mahal jika anak meraih sesuatu, bisa membuatnya jadi materialistis. Hal ini akan mengajarkan anak bahwa tujuan utamanya bekerja keras adalah untuk mendapatkan materi, bukan untuk mencapai prestasi.

2. Memberikan hadiah sebagai tanda cinta
Sifat materialistis pada anak bisa terbentuk jika orang tua sering memberikan hadiah kepada anak sebagai tanda cinta, dalam kata lain memanjakannya. Ini akan membuat anak beranggapan bahwa dicintai berarti mendapatkan hadiah.

3. Menghukum anak dengan mengambil harta benda
Menghukum anak dengan cara menyita ponsel atau video game-nya nyatanya dapat mengajarkan anak bahwa ia membutuhkan harta benda untuk merasa lebih baik. Perilaku orang tua seperti ini bisa membuat anak jadi materialistis.

Selain ketiga hal di atas, pengaruh media juga bisa membuat seorang anak jadi materialistis. Berbagai iklan yang dapat dilihat anak di televisi atau internet dapat membentuk pola pikirnya. Anak bisa dibuat percaya bahwa gaya hidup dan benda di iklan dapat memberi kepuasan dan membuat hidup menjadi lebih baik.

Cara Mencegah Anak Menjadi Materialistis
Sifat materialistis pada anak tentu dapat berpengaruh buruk pada kehidupannya kelak. Oleh karena itu orangtua perlu menerapkan pola asuh yang tepat guna mencegah anak bersikap materialistis.
Berikut ini adalah panduannya:
1. Tanamkan rasa syukur pada diri anak
Bersyukur merupakan sikap menerima segala hal yang sudah diberikan dan dijalani. Sikap ini akan mencegah anak memandang materi sebagai kebahagiaan. Cara paling sederhana agar anak mengerti arti bersyukur adalah dengan melatihnya mengucapkan terima kasih.

Cobalah dorong anak untuk mengucapkan “terima kasih” kepada orang yang membantu mereka. Selain itu juga harus memberikan contoh kapan dan bagaimana seseorang harus mengucapkan terima kasih agar anak dapat menirunya.

2. Luangkan waktu berkualitas dengan anak
Menunjukkan rasa cinta bukan hanya dengan materi saja, kan? Anda bisa mengajak anak melakukan aktivitas bersama yang menyenangkan. Sebagai contoh, pergi berlibur, jalan-jalan di taman, berkebun, atau memasak. Hal ini juga akan membuat anak merasa dicintai.

3. Hindari menjanjikan hadiah atas keberhasilan anak
Memberikan hadiah pada anak memang keputusan orangtua. Akan tetapi, bukan berarti ia boleh diberikan segala hal yang diinginkannya. Selain itu, jangan terlalu sering menjanjikan hadiah sebagai penghargaan atas pencapaiannya. Biarkan anak fokus pada proses dan melakukan yang terbaik bukan karena hadiah.

4. Ajarkan anak mengenai konsekuensi alami
Jika Anda masih sering mengatakan, “Kalau kamu tidak belajar, nanti Bunda sita handphone kamu,” anak jadi tidak mengerti akan konsekuensi yang sebenarnya. Jadi mulai ganti ucapan seperti itu menjadi, “Kalau kamu tidak bejalar, nanti nilai ulangannya tidak bagus.”

5. Ajarkan anak untuk mengenali perbedaan kebutuhan dan keinginan
Ajarkan anak untuk membedakan apakah ia membutuhkan atau hanya menginginkan suatu barang. Bantu ia memahami mana hal yang harus diprioritaskan dan mana yang tidak. Tentunya ini harus dimulai dengan bahasa yang sederhana dan mudah ia mengerti.

Sifat materialistis bukanlah sifat yang elok untuk dilihat. Sifat ini juga bisa mencederai kehidupan sosial anak nantinya. Jika Anda merasa anak memperlihatkan sifat materialistis, tidak usah sedih dulu.

Membentuk atau mengubah sifat lebih mudah dilakukan saat masa kanak-kanak ketimbang saat sudah dewasa. Jadi mumpung anak masih kecil, masih ada kesempatan untuk memperbaiki sikapnya. Mulailah lakukan cara-cara di atas untuk mencegah ataupun memperbaiki sifat materialistis pada dirinya.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers