web analytics
  

Ribuan Warga di Kuningan Kekurangan Air Bersih Sejak September

Sabtu, 3 Oktober 2020 10:11 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Ribuan Warga di Kuningan Kekurangan Air Bersih Sejak September, kekurangan air bersih,kemarau,Musim Hujan

Ribuan warga di sejumlah desa Kabupaten Kuningan kekurangan air bersih sebagai dampak musim kemarau tahun ini. (Pixabay)

KUNINGAN, AYOBANDUNG.COM -- Ribuan warga di sejumlah desa Kabupaten Kuningan kekurangan air bersih sebagai dampak musim kemarau tahun ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan Indra Bayu menyebut, kondisi itu terjadi pada sedikitnya 3 desa di 2 kecamatan.

"Ada 3 desa, yaitu Desa Sukasari dan Cihanjaro di Kecamatan Karangkancana serta Desa Cileuya di Kecamatan Cimahi," tuturnya.

Tercatat 762 kepala keluarga (KK) yang terdiri atas 2.393 jiwa yang tinggal di 3 desa dan terdampak kekurangan air bersih.

Dari jumlah itu, 570 KK atau 1.740 jiwa tersebar di Desa Sukasari dan Cihanjaro. Sementara 361 KK atau 1.236 jiwa tinggal di Desa Cileuya.

"Sudah sejak September 2020 (kekurangan air bersih)," kata dia.

Untuk ini, pihaknya rutin mendistribusikan bantuan air bersih. Sejauh ini, 20.000 liter air bersih telah disalurkan bagi warga Desa Cihanjaro serta masing-masing 15.000 liter bagi warga Desa Sukasari dan Cileuya.

Ke-3 desa itu sendiri kerap menjadi langganan kekurangan air bersih setiap kemarau tiba. Pada 2019, ke-3 desa mengalami kondisi serupa bersama warga di 16 desa lain di Kabupaten Kuningan.

Prediksi BMKG

Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, musim penghujan di Indonesia akan masuk pada akhir Oktober 2020 dimulai dari wilayah Indonesia Barat.

Sementara untuk puncak musim penghujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan terjadi di bulan Januari dan Februari 2021.

"Sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari 2021, yaitu sebanyak 248 ZOM (72,5%)”, ujar Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam keterangannya.

Menurut datanya, peralihan angin monsun diprediksi akan dimulai dari wilayah Sumatra pada Oktober 2020, lalu wilayah Kalimantan, kemudian sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara pada November 2020 dan akhirnya Monsun Asia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 hingga Maret 2021.

"Musim hujan pada bulan Oktober 2020, diprediksi terjadi di sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Pada bulan November 2020 diprediksi menyentuh sebagian Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Sementara sebangian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT dan Papua akan masuk awal musim hujan di bulan Desember 2020," imbuhnya.

Dwikorita menambahkan, perlunya upaya mitigasi oleh para pemangku kepentingan dan Pemerintah Daerah yang wilayahnya diprakirakan akan mengalami musim hujan lebih maju atau lebih basah.

"Mitigasi tersebut dengan melakukan pengelolaan tata air yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, antara lain dengan upaya memenuhi dan menyimpan air lebih lama ke danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya, serta penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih," katanya.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers