web analytics
  

Bekas Mal-mal Alun-alun Pernah Jadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan

Jumat, 2 Oktober 2020 16:24 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Baheula - Baheula, Bekas Mal-mal Alun-alun Pernah Jadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan, Gedung Palaguna Nusantara,Gedung Miramar,Sejarah Bandung,Bandung Baheula

Potret lahan bekas Gedung Palaguna Nusantara. Dulu, ada gedung lain yang berdiri di sebelahnya, yakni Gedung Miramar. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, bangunan lawas Gedung Miramar merupakan kantor De Express. (Dokumentasi serbabandung.com)

REGOL, AYOBANDUNG.COM – Perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka dari Belanda dilakukan dengan berbagai bentuk. Salah satunya lewat media.

De Express adalah surat kabar berbahasa Belanda yang didirikan pada 1 Maret 1912 di Bandung. Pemimpin umumnya adalah Ernest Douwes Dekker, seorang Belanda yang gigih mengkritik kolonialisme Belanda.

Meskipun berbahasa Belanda, De Express terbit dengan ideologi nasionalisme dan patriotisme yang dianut Dekker.

Surat kabar ini kemudian menjadi media utama mengadvokasikan ideologi partai Dekker. Partai itu bernama Indische Partij, berdiri pada 25 Desember 1912.

Bukan hanya Dekker, partai politik ini dipimpin pula oleh Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo. Dari pendirian Indische Partij, istilah “Tiga Serangkai” pun populer sebagai julukan ketiga pemimpin partai.

Sang pemimpin De Express Dekker, yang pula dikenal sebagai Setiabudi, sudah tidak asing lagi dengan advokasi nasionalisme. Sebelum mendirikan surat kabar revolusionernya, dia bekerja di perkebunan kopi lereng Gunung Semeru. Kemudian, akibat konflik, dia dimutasi ke perkebunan gula di Kraksaan.

Pada masa itu, pabrik gula selalu berkonflik dengan para petani akibat hak irigasi air. Setiabudi pun mengambil sikap: Dia menganggap perkebunan merampas hak petani dan ia mengundurkan diri.

Itu merupakan salah satu perjuangan nasionalisme pertamanya. Bakatnya sebagai wartawan kritis pun terwujud lewat tulisan “Cara Bagaimana Belanda Paling Cepat Bisa Kehilangan Tanah Jajahannya?” di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant.

Akhirnya, bakat penulisan kritis dan semangat juangnya mendorongnya membuat De Express. Salah satu isi paling terkenal De Express adalah tulisan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), “Als ik een Nederlander was”.

Dalam Bahasa Indonesia, tulisan itu berarti “Andai Aku Seorang Belanda” dan berisi sindiran kemerdekaan Belanda. Belanda merayakan kemerdekaannya dari Prancis tapi di lain sisi mereka juga menjajah Indonesia.

Tulisan itu terbit di De Express pada 13 Juli 1913 dari kantornya di Alun-alun Bandung. Sejak pendirian, De Express memang tidak luput dari daftar pengawasan pemerintah Belanda. Namun, saat tulisan itu terbit, keputusan pemberangusan De Express oleh Belanda pun bulat.

Alhasil, baik Indische Partij dan De Express harus bubar pada tahun 1913. Bangunan tempat De Express dikelola pun tidak lagi digunakan oleh koran revolusioner tersebut.

Bertahun-tahun kemudian, jauh setelah akhirnya Indonesia merdeka, bangunan itu masih berdiri di Jalan Alun-alun Timur Bandung. Kini, bangunan tersebut sudah menjadi tidak lebih dari tanah kosong.

Namun, bukan berarti bangunan yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan Tiga Serangkai itu belum pernah berjaya. Setelah kemerdekaan, bangunan bekas De Express itu disulap menjadi salah satu mal pertama Bandung.

Ialah Gedung Miramar, mal yang dirumorkan menjadi mal pertama di Bandung dengan eskalator.

Tidak familier dengan namanya? Gedung Miramar dulu terletak tepat di sebelah Gedung Palaguna Nusantara, mal lawas Bandung yang populer pada tahun 1980-an.

Sayangnya, Gedung Miramar dirobohkan menjadi lapang kosong setelah perlahan-lahan kehilangan pengunjung. Gedung Palaguna Nusantara pun menyusul, meskipun bertahan lebih lama ketimbang gedung sebelahnya.

Tanah kosong itu pernah menjadi tempat berpijaknya Tiga Serangkai Indonesia, melawan tekanan Belanda dan memperjuangkan nasionalisme.

Tidak semua bangunan bersejarah mampu bertahan melewati waktu, sayangnya. (Farah Tifa Aghnia)

Sumber: Komunitas AleutSerbabandungHistoriaHaluan, Radiobuku.com

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers