web analytics
  

4 Pesantren di Kota Bandung Ditinjau, Imbas Klaster Kuningan dan Tasik

Jumat, 2 Oktober 2020 13:27 WIB Fichri Hakiim
Bandung Raya - Bandung, 4 Pesantren di Kota Bandung Ditinjau, Imbas Klaster Kuningan dan Tasik, Klaster pesantren Jabar,Klaster pesantren Covid-19,klaster pesantren Tasikmalaya

Ilustrasi rapid test Covid-19. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kementerian Agama Kota Bandung akan meninjau ulang operasional Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di 4 pesantren Kota Bandung. Hal itu berkaitan dengan adanya temuan klaster pesantren di Kuningan dan Tasikmalaya.

Humas Kemenag Kota Bandung, Agus Saparuddin, mengatakan ada sebanyak 4 pesantren di Kota Bandung yang menggelar KBM.

"Iya, akan ditinjau ulang juga, maka dari itu hasil keputusan nanti arahan dan pertimbangan Pak Kanwil Kemenag Jabar," ujarnya ketika dikonfirmasi, Jumat (2/10/2020).

Agus menuturkan, nantinya keputusan operasional 4 pesantren tersebut dilanjutkan atau diberhentikan, berdasarkan pertimbangan Kanwil Kemenag Jabar. Tak hanya itu, nantinya akan disesuaikan atas pertimbangan Wagub Jabar, Ruzhanul Ulum.

Ia menjelaskan, jika harus dihentikan, maka operasional pesantren akan dihentikan untuk sementara waktu.

"Jika kemudian sesuai dengan statemen Pak Wagub harus dihentikan dulu, ya kita hentikan. Kalau kemudian tetap tapi dengan sangat memperhatikan protokol kesehatan, ya kita laksanakan," jelas Agus.

Hari ini, lanjut Agus, Kanwil Kemenag Jabar akan menggelar pertemuan guna membahas temuan klaster pesantren di Tasikmalaya serta Kuningan.

Nantinya, dalam pertemuan itu akan dibahas pula mengenai kegiatan Hari Santri Nasional. Hari Santri Nasional (HSN) jatuh pada 22 Oktober.

"Terkait Husnul Khatimah dan hari santri seperti apa, jadi kita masih belum ada gerakan atau planning ini harus bagaimana, karena dengan pandemi Covid-19 ini kita harus hati-hati ya. Jangan sampai pesantren menjadi klaster baru pandemi Covid-19," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, pesantren menjadi klaster dengan angka kasus tertinggi di Tasikmalaya.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers