web analytics
  

Nurdin M. Noer, Jurnalis Senior yang Dijuluki Wartawan Infanteri

Kamis, 1 Oktober 2020 19:54 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Nurdin M. Noer, Jurnalis Senior yang Dijuluki Wartawan Infanteri, Nurdin M Noer,Wartawan,Jurnalis

Jurnalis senior sekaligus pemerhati budaya Cirebon, Nurdin M. Noer. ((ist))

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Pemerhati budaya Cirebon yang juga jurnalis senior, Nurdin M. Noer mendapat julukan wartawan infanteri karena kesukaannya berjalan kaki. Kini, sosok rendah hati yang penuh atensi pada kebudayaan Cirebon itu telah berpulang, meninggalkan warisan berupa kata tak terbatas.

Nurdin mengembuskan napas terakhirnya pada usia 67 tahun. Dia meninggal dunia di tengah perawatannya di RS Siloam Putra Bahagia, Kota Cirebon, Rabu (30/9/2020) sekitar pukul 23.35 WIB.

Pria kelahiran Cirebon, 8 Maret 1954 ini dikenal sebagai jurnalis Pikiran Rakyat (PR) Bandung sekitar akhir 1981. Di sana, dia mengasuh rubrik sastra lan budaya pada koran mingguan Pikiran Rakyat Edisi Cirebon, yang kemudian berganti menjadi harian umum Mitra Dialog dan kini dikenal dengan nama Kabar Cirebon.

Sebelum itu, sepanjang 1974-1981, dia sempat aktif menulis sebagai kolumnis atau penulis lepas yang menyoroti isu-isu kebudayaan pada sejumlah media massa, seperti Pikiran Rakyat, Berita Buana, Merdeka, Pos Film, dan Sinar Harapan. Tak hanya menulis, dia juga aktif sebagai penyiar radio.

Sepanjang 1991-2001, Nurdin menjadi staf peneliti pada Litbang Pikiran Rakyat Bandung. Bersamaan itu, dia meneliti masalah "Hubungan Sipil Militer" pada NSEAS (Network for South East Asian Sunday), Jakarta.

Sejak 2001, Nurdin kemudian ditugaskan menjadi Manajer Penelitian dan Pengembangan PT Berkah Pikiran Rakyat yang menaungi Kabar Cirebon sampai masa pensiunnya pada 2008.

Rampung berkegiatan di bawah naungan PR, dia tetap aktif menulis di berbagai media massa. Sampai kini, sedikitnya 4.000 tulisan telah dimuat di beragam media massa.

Di bawah 'bendera' Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Nurdin bahkan sempat melahirkan buku berjudul "Menusa Cerbon, Sebuah Pengantar Budaya" pada 2009. Selain itu, ada pula "Bulan Tanpa Awan" (2000) dan "Membangkitkan Ekonomi Jalur Pantura" (sebagai editor-2003).

Dia pula melahirkan kamus Basa Cerbon-Sunda (Cerbon-Dermayu-Sunda). Tak jarang Nurdin berkolaborasi dengan pemerhati budaya lokal lain, seperti dari Kabupaten Indramayu, untuk mencetakkan karya-karya.

Belakangan, setelah tak lagi banyak menulis, Nurdin kemudian mengambil peran sebagai narasumber-narasumber pada karya-karya jurnalistik, salah satunya Ayocirebon.com, maupun pemateri pada beragam kesempatan yang mengulas ihwal kebudayaan Cirebon. Sembari itu, hari-harinya diisi pula dengan mengoreksi kamus Basa Cerbon.

Kegiatan terakhir itu dilakoninya mengingat Nurdin dipercaya sebagai Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon sampai kepergiannya.

Menurut sang anak, Dessy Persia Lestari (33), selama sekitar setengah bulan terakhir sebelum mendapat perawatan di rumah sakit, Nurdin tak bisa lagi berjalan hingga membatasi aktivitasnya.

"Kondisi kesehatan bapak kritis sejak April sampai sekarang (sebelum meninggal). Sebelum enggak bisa jalan, bapak sempat lemas di kamar mandi pada 17 September lalu," bebernya kepada Ayocirebon.com, Kamis (1/10/2020).

Kondisinya terus menurun akibat penyakit diabetes yang dideritanya. Sang ayah kemudian mengalami sesak nafas dan terdapat keluhan pada ginjal hingga harus dirawat di rumah sakit.

Kabar itu sendiri sempat mengejutkan banyak jurnalis di Cirebon. Mereka bahkan berinisiatif membuka donasi bagi Nurdin dan keluarga.

Sayang, belum genap sehari donasi dibuka, Sang Khalik punya rencana lain. Nurdin dipanggil untuk menghadap-Nya sebelum donasi disalurkan.

Meski begitu, donasi direncanakan masih terbuka hingga 2 hari ke depan. Donasi yang terkumpul tetap akan diberikan kepada pihak keluarga.

Nurdin meninggalkan seorang istri yang dinikahinya pada 1981, Sri Amanah Saraswati serta 2 anak, Moh. Rendra Manfaluthi dan Dessy. Dalam kesempatan itu, Dessy sendiri mengenang harapan sang ayah.

"Bapak berharap anaknya ada yang meneruskan cita-cita bapak sebagai pemerhati budaya," ungkapnya.

Karena itu, semasa hidup sang ayah kerap memintanya belajar menjadi seorang jurnalis, membaca buku, termasuk buku-buku karya Nurdin, mengikuti diskusi, hingga menjadi pembicara.

Hanya, ketika kondisi media melesu, semangat Nurdin pun sempat terdampak. Meski ringkih di usia senja, bagi Nurdin, menulis dan menjadi pemateri kebudayaan Cirebon merupakan upayanya untuk terus mengoptimalkan fungsi otak.

"Bapak itu enggak pernah mengeluarkan banyak kata-kata, banyak hal yang dipendam. Tapi, bapak pengen aku kritis dan melahirkan karya seperti dirinya," tutur Dessy yang sempat pula aktif sebagai jurnalis pada Mitra Dialog (sekarang Kabar Cirebon).

Dia pun kini berusaha menjawab harapan sang ayah.

Sementara, seorang kawan Nurdin yang pernah bernaung di PR Bandung, Wasikin Marzuki mengenang sosoknya sebagai pekerja yang ulet dan penulis yang baik.

"Tulisan-tulisan soal kebudayannya luar biasa. Saya kira sampai sekarang belum ada sosok yang menggantikannya," kata pria yang pernah menjabat sebagai pemimpin perusahaan Kabar Cirebon ini saat dihubungi Ayocirebon.com.

Wasikin atau akrab disapa Hawas (kependekan dari Haji Wasikin), bahkan menilai Nurdin sebagai guru dengan kerapnya almarhum memberikan pelatihan-pelatihan dan membagi ilmu kepada jurnalis-jurnalis muda.

Dia terbilang keranjingan menulis hingga rela mengorbankan waktu-waktu emasnya untuk melakukan kesukaannya itu.

Secara pribadi, Hawas memandang Nurdin sebagai individu yang baik, rendah hati, dan vokal menyuarakan pendapatnya.

Hawas pun mengungkap salah satu memori paling diingatnya ihwal Nurdin, yang membuatnya dikenal sosok rendah hati. Sepanjang hidupnya, Nurdin dikenal lebih suka berjalan kaki ketimbang berkendara dengan sepeda motor atau mobil.

Menurut Hawas, bukannya takut berkendara, Nurdin hanya lebih suka berjalan kaki ketimbang naik sepeda motor atau mobil untuk menuju suatu lokasi. Angkutan umum menjadi pilihan utama Nurdin bila tak berjalan kaki.

"Sebagai wartawan, Nurdin itu saya sebut wartawan infenteri," kenangnya setengah berseloroh.

Menutup pembicaraan, Hawas pun memanjatkan doa bagi Nurdin, "Selamat jalan, Pak Nurdin. Satu kata, semoga husnul khotimah, aamiin."

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers