web analytics
  

Peneliti Unpad Kritisi 'Hard Selling' Wisata di Tengah Pandemi

Kamis, 1 Oktober 2020 18:21 WIB Nur Khansa Ranawati
Umum - Nasional, Peneliti Unpad Kritisi 'Hard Selling' Wisata di Tengah Pandemi, wisata pandemi Covid-19,hard selling,Universitas Padjadjaran,Unpad,pariwisata,COVID-19

Sejumlah warga mengunjungi wisata Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Minggu (21/6/2020). Kawasan wisata di Kabupaten Bandung mulai dipadati pengunjung yang hendak menghabiskan akhir pekan pada era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Saat ini, pemerintah Indonesia tengah gencar melakukan upaya pemulihan kondisi perekonomian di berbagai sektor yang terpukul pandemi Covid-19. Berbagai program dan insentif diberikan, tak terkecuali untuk sektor pariwisata sebagai salah satu penyumbang devisa negara terbesar.

Sejumlah hal telah dilakukan guna mendorong pariwisata kembali menggeliat, termasuk dengan menggelontorkan dana milyaran rupiah bagi para influencer untuk mempromosikan wisata di berbagai tempat. Meskipun, kenyataannya angka kasus positif Covid-19 terus mengalami peningkatan hingga saat ini sejak awal kemunculannya di Indonesia.

Cara pemerintah yang terkesan hanya berupaya melakukan hard selling di tengah situasi kesehatan yang tengah krisis tersebut pun memicu banyak reaksi di masyarakat. Hal tersebut diungkap peneliti komunikasi dan media Universitas Padjajaran, S. Kunto Adi Wibowo, Ph.D.

Melalui analisa big data di media sosial, ia menangkap maraknya percakapan netizen yang memperbincangkan langkah pemerintah untuk menangani sektor pariwisata di tengah pandemi. Baik dalam sentimen yang negatif maupun positif.

"Sejak Agustus hingga September ada banyak percakapan negatif di media sosial dimana masyarakat bingung, hal apa yang sebenarnya harus dilakukan. Apakah pergi travelling atau tetap diam di rumah," ungkap Kunto dalam paparannya di konferensi internasional The 2nd Padjadjaran Communication Conference Series : The Role of Communication Science in Enhancing Collaborative Action yang digelar secara daring, Kamis (1/10/2020).

Maraknya percakapan tersebut menyusul pemberitaan di berbagai media massa yang menyatakan angka kasus positif Covid-19 di Provinsi Bali kembali melonjak di akhir September 2020, setelah pemerintah setempat membuka kembali wilayahnya untuk wisatawan domestik. Kebijakan tersebut banyak menuai sentimen negatif dari percakapan-percakapan yang dipantik berbagai influencer di media sosial.

"Banyak orang berpikir bahwa program promosi tempat-tempat wisata lewat influencer untuk mengajak masyarakat pelesir dalam situasi pandemi adalah hal yang tidak tepat," ungkapnya.

Kunto juga meneliti adanya kecenderungan peningkatan jumlah press rilis yang diterbitkan pihak pemerintah lewat Kementerian Pariwisata RI untuk media massa dan masyarakat. Jumlah press rilis yang meningkat secara eksponensial dari Februari ke Maret dan Maret ke April tersebut menunjukan adanya urgensi dari pihak pemerintah untuk melakukan komunikasi publik terkait situasi terkini sektor pariwisata.

Namun, komunikasi yang dilakukan dinilai belum mampu membawa titik terang bagi masyarakat sesuai dengan harapan yang diinginkan. Kunto menilai hal ini terjadi karena pemerintah tidak dapat memprediksi kemunculan pandemi sebagai suatu krisis yang suatu saat harus dihadapi.

"Kita tidak siap untuk krisis. Hal yang sudah kita persiapkan adalah bencana-bencana alam seperti gempa atau tsunami. Tapi tidak dengan pandemi. Sehingga ujung-ujungnya yang dilakukan pemerintah adalah melakukan bisnis seperti biasa, mempertahankan ekonomi dengan promosi (hard selling)," ungkapnya.

Pentingnya Mengekspos Human Interest

Ia mengatakan, hal terbaik yang dapat dilakukan pemerintah terkait komunikasi publik di sektor pariwisata selama pandemi adalah dengan menyentuh aspek kemanusiaan. Pemerintah dinilai dapat mengekspos cerita para pelaku usaha pariwisata yang berusaha bertahan di tengah pandemi.

"Kita harus dapat membuat orang sadar bahwa kita memiliki resilience, memiliki kemampuan untuk bertahan. Hal yang paling penting adalah terus menginformasikan langkah konkrit yang harus dilakukan di tengah pandemi, dan secara kontinyu menyatakan bahwa kita berada dalam situasi ini bersama-sama," ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Kunto memberikan contoh komunikasi publik yang disampaikan melalui media video. Dalam video  tersebut diceritakan kisah salah satu destinasi wisata legendaris Kota Bandung, Saung Angklung Udjo yang harus berubah menjadi 'pasar kaget' sementara untuk membantu ekonomi warga sekitarnya.

"Dengan cara ini kita bisa sekaligus mendapat manfaat soft-selling, yakni membangun empati pada masyarakat yang ujungnya bisa memancing kolaborasi. Ini yang harus kita tekankan kepada pemerintah agar bisa mengkomunikasikan cara orang-orang bertahan ketimbang hanya promosi hard-selling," paparnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang mengarah pada aksi (Call to Action) terkait hal yang harus dilakukan di bidang pariwisata selama pandemi. Misalnya dengan aktif mengkampanyekan penggunaan masker, physical distancing dan protokol kesehatan lainnya. 

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers