web analytics
  

Menjaga Ideologi Pancasila dari Ancaman Ideologi Radikal

Kamis, 1 Oktober 2020 13:47 WIB Netizen Mohamad Ully Purwasatria, M.Pd
Netizen, Menjaga Ideologi Pancasila dari Ancaman Ideologi Radikal, Ideologi Pancasila,Ideologi Radikal,G30S,Khilafah,HTI

Perisai Pancasila. (Wikipedia)

Mohamad Ully Purwasatria, M.Pd

Pengajar di Temasek Independent School Bandung

AYOBANDUNG.COM -- Setiap tanggal 1 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hal ini dilatarbelakangi oleh Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965.

Peristiwa yang memakan korban beberapa petinggi Angkatan Darat di antaranya Jenderal Ahmad Yani, Mayjen R Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswodiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Maka dari insiden tersebut, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto menetapkan setiap tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Pada momentum hari Kesaktian Pancasila, menjaga ideologi Pancasila sebagai ideologi resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi satu keharusan. Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang telah banyak upaya untuk menggantikan Ideologi Pancasila dengan berbagai ideologi radikal.

Selain peristiwa G30S tahun 1965, terdapat Peristiwa Madiun tahun 1948 oleh Partai Komunis Indonesia yang dipimpin oleh Musso, Peristiwa pemberontakan di Jawa Barat oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) oleh S.M Kartosoewirjo tahun 1949 dengan upaya untuk menggantikan Ideologi Pancasila dengan Islam, hingga ancaman saat ini dengan muncul ide mengganti ideologi Pancasila oleh ideologi khilafah dan kelompok radikal lainnya.

Hal tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan, mengapa terdapat upaya untuk menggantikan ideologi Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia? Jika dilihat dari poin-poin Pancasila secara teoritis seperti Ketuhanan yang maha esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sudah mewakili apa yang diperlukan oleh semua masyarakat Indonesia, baik hak maupun kewajiban.

Seperti kebebasan dalam beragama yang terwakili oleh sila pertama, saling bergotong royong dalam kehidupan bermasyarakat dalam suka maupun duka yang diwakili oleh sila kedua, dapat berteman dengan tidak memandang suku bangsa, agama, ras, dan antar golongan yang diwakili oleh sila ketiga, berdaulat dalam pemerintahan negara, baik jadi eksekutif, legislatif dan yudikatif yang diwakili oleh sila keempat, dan keadilan untuk masyarakat dalam pemerataan sosial, ekonomi, hukum yang diwakili oleh sila kelima.

Munculnya kelompok radikal dengan upaya untuk menggantikan ideologi Pancasila adalah banyaknya penyimpangan pelaksanaan yang terjadi seperti ketidakadilan hukum, meningkatnya kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik, dibungkamnya kebebasan dalam berpendapat.

Kemudian, rasisme masih berkembang luas dalam masyarakat Indonesia, juga ketimpangan ekonomi pada masyarakat. Sehingga banyak masyarakat yang tidak puas atas pelaksanaan dari Ideologi Pancasila tersebut yang kemudian mereka mencari ideologi yang ideal sesuai dengan diinginkan.

Upaya Menjaga Ideologi Pancasila dari Ancaman Ideologi Radikal

Berangkat dari permasalahan di atas sebenarnya menjaga Ideologi Pancasila dari ancaman Ideologi Radikal tidak sulit, jika dilaksanakan atas kesadaran dari masing-masing pribadi masyarakat. Kesadaran itu akan muncul, jika semua masyarakat Indonesia peduli terhadap pentingnya menjaga Pancasila sebagai Ideologi Bangsa.

Kita mengenal dengan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pada masa Presiden Soeharto dengan dibentuknya Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) pada bulan maret 1979.

Pemerintah saat itu mewajibkan setiap pegawai negeri dan anggota masyarakat untuk ikut kegiatan penataran tersebut, kurang lebih pelaksanaannya selama 19 tahun hingga tahun 1998.

Kemudian juga pada masa Pemerintahan Presiden Joko Widodo mendirikan lembaga Bidang Pemantapan Ideologi Pancasila (BPIP) pada tahun 2016 dengan bertujuan untuk menangkal Ideologi Radikalisme di Indonesia dengan sasaran implementasinya meliputi sekolah, lembaga pemerintahan, hingga organisasi kemasyarakatan. (Sumber tirto.id).

Dalam dunia persekolahan pun baik dari Sekolah Dasar (SD) sederajat, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat terdapat mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang dapat menguatkan Ideologi Pancasila dengan ditunjang oleh mata pelajaran Sejarah Indonesia pada jenjang SMA sederajat sebagai memperkuat Ideologi Pancasila.

Namun semuanya tidak akan artinya jika realita pelaksanaan di dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan ke dalam nilai-nilai pancasila. Dengan memberikan contoh yang baik dari pemerintah dalam memperkuat Ideologi Pancasila kepada masyarakat seperti pemberantasan korupsi, penanganan perekonomian secara merata, menyelesaikan kasus rasialisme dengan seadil-adilnya, penegakan hukum yang seadil-adilnya, penanganan kasus radikalisme secara efektif, maka ideologi Pancasila akan terbebas dari ancaman radikalisme.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Masa Kecil Anak Zaman Now!

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:40 WIB

Masa kecil merupakan pengalaman atau peristiwa yang terjadi saat masih anak- anak. Masa ini biasanya hanya datang satu k...

Netizen, Masa Kecil Anak Zaman Now!, Permainan Tradisional,anak zaman now

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:32 WIB

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen, Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat, fesyen lambat,Fesyen,Kerusakan Lingkungan

Interpretasi dalam Geowisata

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 19:40 WIB

Daya tarik geowisata Jawa Barat adalah jawaranya.

Netizen, Interpretasi dalam Geowisata, Interpretasi,geowisata,Jawa Barat

Akankah Bandung Jadi Kota Gurun?

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 10:00 WIB

Sekitar 50 tahun terakhir ini, Kota Bandung telah kehilangan banyak pohon.

Netizen, Akankah Bandung Jadi Kota Gurun?, Bandung,Kota Gurun,degradasi lahan,Banjir Bandang

Koresponden Bintang Hindia

Netizen Rabu, 16 Juni 2021 | 13:07 WIB

Koresponden Bintang Hindia

Netizen, Koresponden Bintang Hindia, kartawinata,raden kartawinata,koresponden bintang hindia,pers,wartawan

Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Netizen Senin, 14 Juni 2021 | 22:15 WIB

Lalu apa saja peran yang dapat dilakukan oleh Psikolog Forensik saat melakukan pendampingan anak korban kekerasan seksua...

Netizen, Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Psikolog Forensik,Kasus,kekerasan seksual,Anak,anak di bawah umur

Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi...

Netizen Jumat, 11 Juni 2021 | 13:05 WIB

Pada Oktober 2014, sebuah laporan menyatakan ada penemuan paket diduga bom di Jatinegara, Jakarta Timur.

Netizen, Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi Bom, Paket Album Super Junior,Mamacita,Bom,Super Junior,ELF

Menurunkan Angka Kematian Ibu

Netizen Kamis, 10 Juni 2021 | 17:15 WIB

Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini berkaitan dengan kaum ibu adalah masih tingginya angka kematian ibu...

Netizen, Menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Ibu,AKI,Ibu

artikel terkait

dewanpers