web analytics
  

BANDUNG HARI INI: Kota Sepi, Militer Siap Tempur

Kamis, 1 Oktober 2020 10:46 WIB Tri Joko Her Riadi
Bandung Raya - Bandung, BANDUNG HARI INI: Kota Sepi, Militer Siap Tempur, Bandung Hari Ini,Bandung,Sejarah Bandung,Bandung 1 Oktober,G30S

Foto sampul buku “Sebuah Catatan Tragedi 1965: Dari Pulau Buru sampai Mekah” (2006) (Tri Joko Her Riadi)

Pada 1 Oktober 1965 pagi, kebingungan terjadi di mana-mana. Termasuk Bandung. Informasi tentang apa yang terjadi di Jakarta, yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S), masih simpang-siur.

Bukan hanya apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah para pelakunya, keberadaan dan nasib Presiden Sukarno juga menjadi perbincangan. Orang bertanya-tanya apa yang mungkin akan terjadi kemudian, menyusul insiden tiba-tiba tersebut. 

Suasana di Kota Bandung pada 1 Oktober 1965 itu tergambarkan salah satunya dalam buku memoar Suparman Amirsyah “Sebuah Catatan Tragedi 1965: Dari Pulau Buru sampai Mekah” (2006). Suparman merupakan pemimpin umum harian Warta Bandung yang dituduh dekat dengan kelompok kiri.

Sebagai jurnalis, Suparman wajib mengikuti setiap perkembangan yang terjadi. Apalagi iklim politik nasional di bulan-bulan itu memang sedang panas-panasnya. Pagi itu, pukul 06.00 WIB, ia sudah mendengarkan berita di radio yang mengumumkan bahwa Dewan Revolusi yang dipimpin oleh Letkol Untung telah mengambil alih kekuasaan.

Kota Sepi

Kantor harian Warta Bandung terletak di Jalan Naripan, kawasan Braga. Suparman berjalan ke kantornya dan mendapati suasana kota yang demikian sepi. Ia kemudian sengaja melintas di beberapa ruas jalan utama di jantung kota dan mendapati suasana serupa.

“Suasana kota hari Jumat itu betul-betul sepi. Nyenyet. Saya coba menelusuri jalan-jalan di pusat kota, mulai Jalan Braga terus ke utara ke halaman Balai Kota Bandung, belok kiri ke Jalan Wastu Kencana, rumah kediaman Panglima kodam Siliwangi,” tulis Suaprman dalam memoar setebal 343 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Bandung tersebut.

Dari Wastu kencana, Suparman bergerak ke Jalan Riau, sekarang Jalan R.E Martadinata, lalu belok ke Jalan Aceh.

Hendak pulang ke kantor, Suparman bertemu dengan Ramadhan K.H, wartawan sekaligus seniman, di sebuah warung bakso di Gang Telepon, Jalan Braga. Keduanya berbincang tentang insiden yang baru saja meletus di Ibu Kota.

“Tapi hanya sekadar berandai-andai karena kebetulan sama-sama tidak memperoleh informasi yang jelas sebelumnya. Bahwa rumor tentang akan adanya kudeta yang dilakukan oleh Dewan Jenderal memang di kalangan wartawan sudah beredar lama. Tapi mengenai Dewan Revolusi memang ini betul-betul suatu kejutan yang tidak terduga,” tulisnya.

Militer Bersiap

Meski suasana kota sepi dari hilir-mudik orang, Suparman mengingat ketatnya penjagaan oleh militer di beberapa lokasi strategis. Di depan pintu gerbang rumah kediaman Pangdam Siliwangi yang ketika itu dijabat Ibrahim Adjie, misalnya, sebuah panser siaga dengan Meriam-meriamnya dihadapkan ke jalan raya.

Di Markas Besar Kodam Siliwangi, para tantara juga bersiaga. Tiga panser disiapkan, selain para tentara ada dalam posisi siap tempur.

“Beberapa panser siaga di sepanjang markas Kodam, di depan, kiri, dan kanannya. Tentara yang siap tempur dengan helm dan senjata bayonet terhunus nampak siaga mengawasi setiap gerak-gerik yang terjadi,” tulisnya.

Kegentingan di hari-hari pertama setelah peristiwa G30S itu menjalar ke mana-mana. Suparman mengisahkan bagaimana Ibrahim Adjie mengeluarkan pengumuman agar siapa pun yang mengetahui keberadaan Sukarno segera melaporkannya ke Kodam Siliwangi. Sang Jenderal menunjukkan kesetiaannya pada Sang Presiden.

Dalam buku “Mengapa G30S PKI Gagal: Sebuah Analisis” (2005) karangan Mayjend (Purn) Samsudin, dikisahkan bagaimana Ibrahim Adjie mengumpulkan pejabat sipil, militer, serta pimpinan partai politik dan organisasi massa di aula Kodam, di Bandung. Kesimpulannya bulat: rakyat Jawa Barat mendukung Bung Karno.

Ditangkap, Ditahan, lalu Dibuang

Menyusul peristiwa G30S, terjadi penangkapan besar-besaran terhadap semua nama yang dituding menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), partai tertuduh pelaku utama upaya kudeta. Di Bandung, ribuan orang dijebloskan ke penjara. Suparman salah satunya.

Selama ditahan di Kebon Waru, Suparman mengaku tidak mengalami satu kali pun siksaan fisik. Namun ada para tahanan politik lain yang mengalaminya. Suparman melihatnya sendiri atau mendengar dari kesaksian sesama tahanan.

Bagi Suparman, penderitaan datang lewat kepergian dua anggota keluarganya. Pertama, si sulung berumur delapan tahun meninggal karena sakit difteri. Berikutnya, sang istri meninggalkannya untuk kawin dengan orang lain. Kabar yang membuat Suparman pingsan.

“Setelah peristiwa itu, selama berbulan-bulan saya mengalami depresi berat. Dada rasanya seperti ditindih batu besar,” tulisnya.

Dari Kebon Waru, Suparman bersama ribuan tahanan politik lain dikirim ke Pulau Buru. Ia menghabiskan delapan tahun hidupnya di kamp konsentrasi ala Orde Baru tersebut.

Editor: Tri Joko Her Riadi

artikel terkait

dewanpers