web analytics
  

Manfaat Menulis di Buku Tulis bagi Anak

Kamis, 1 Oktober 2020 05:38 WIB
Gaya Hidup - Sehat, Manfaat Menulis di Buku Tulis bagi Anak, Literasi anak,Belajar dari Rumah,Dampak Covid-19

Ilustrasi menulis (istimewa)

AYOBANDUNG.COM--Pandemi Covid-19 menuntut proses belajar mengajar di sekolah berubah drastis dan lebih banyak mengandalkan pembelajaran digital. Tapi menurut Head of Domestic Business Unit Cultural APP Sinar Mas, Santo Yuwana, konsep belajar jarak jauh menggunakan layar gadget memang baik, tapi literasi anak juga perlu dibangun.

Kata Santo, kebiasaan seperti menulis di buku tulis juga bisa meningkatkan literasi anak, khususnya menambah kreativitas dan menggerakan saraf motorik mereka.

"Menulis di buku tulis mempunyai manfaat yang besar terhadap kemajuan cara berpikir, kreativitas, motorik dan pembangunan karakter anak-anak ke depannya, yang mana harus dibudidayakan meski era digitalisasi telah merambah," ujar Santo melalui rilisnya yang diterima Suara.com, Rabu (30/9/2020).

Sebelum pandemi, arus digitalisasi memang sudah menjamah para pelajar. Tapi setelah pandemi menjadi kian masif dan tidak bisa dihindarkan, pelajar bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan layar dan mencatat juga di smartphone maupun komputer.

Padahal mencatat di gadget, fokus mudah sekali teralihkan, dan mengundang multitasking.

"Banyak peneliti telah menyarankan bahwa mencatat dengan gadget dinilai kurang efektif dibandingkan mencatat dengan tulisan tangan untuk belajar, meskipun komputer atau smartphone digunakan hanya untuk membuat catatan, penggunaannya menghasilkan pemrosesan yang lebih dangkal," terang Santo.

Hal ini sesuai dengan penelitian Princeton University dan University of California oleh Pam A. Mueller and Daniel M. Oppenheimer pada 2014 lalu.

Di sisi lain, berdasarkan keterangan The Conversation.com, mengungkap bagaimana mencatat dengan tulisan tangan melibatkan keterlibatan kognitif dalam meringkas, memparafrasekan, mengatur, memetakan konsep dan kosakata sehingga mengubah informasi menjadi pemahaman yang lebih mendala.

"Oleh dari itu, para pelajar membutuhkan keterampilan kognitif dalam pembelajaran yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk memproses informasi dan terhubung dengan hasil belajar yang lebih baik," ungkap Santo.

Minat belajar anak yang rendah selama pandemi Covid-19 ini juga terbukti dari survei yang dilakukan oleh UNICEF pada Mei dan Juni 2020 melalui U-Report.

Terungkap dari total 3.767 responden, 87 persen di antaranya menginginkan untuk kembali ke sekolah yang dinilai lebih efektif untuk belajar karena adanya bimbingan secara langsung dari guru.

Selain itu, belum lagi melihat Indonesia yang berada dalam urutan enam terbawah yaitu peringkat ke 72 dari 77 negara dilihat dari survei kemampuan pelajar, menurut lembaga penilaian pendidikan internasional Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Dudung Ridwan

artikel terkait

dewanpers