web analytics
  

Soal Riset Gempa Megathrust dan Tsunami 20 Meter, Ini Langkah Jabar

Kamis, 1 Oktober 2020 06:10 WIB M. Naufal Hafizh
Bandung Raya - Bandung, Soal Riset Gempa Megathrust dan Tsunami 20 Meter, Ini Langkah Jabar, Gempa Megathrust,Tsunami 20 Meter,Tsunami Pangandaran,Riset Gempa Megatrust dan tsunami 20 meter,Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),Mitigasi Bencana

[Ilustrasi] Adanya kajian gempa megathrust hingga potensi tsunami 20 meter, menurut BMKG, sebagai upaya upaya mitigasi dari para ahli. Hal itupun dilakukan Disparbud Jabar. BMKG pun meminta masyarakat tidak panik. (Pixabay)

Adanya kajian gempa megathrust hingga potensi tsunami 20 meter, menurut BMKG, sebagai upaya mitigasi dari para ahli. Hal itupun dilakukan Disparbud Jabar. BMKG pun meminta masyarakat tidak panik. 

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Menanggapi kajian gempa megathrust hingga potensi tsunami 20 meter yang dilakukan Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat (Jabar) menyusun sejumlah langkah strategis.

"Kajian tersebut sangat penting karena dibuat oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan walaupun masih prediksi hal yang paling logis saat ini adalah menyiapkan berbagai kebijakan untuk menekan potensi dampak yang terjadi," kata Kepala Disparbud Jawa Barat, Dedi Taufik, di Bandung, Rabu (30/9/2020).

Dia mengatakan, di kawasan Pantai Selatan, banyak destinasi wisata andalan Jawa Barat untuk menarik kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.

"Kami tentu akan membahas hal ini dengan pemerintah kabupaten/kota termasuk para pelaku industrinya. Terutama mengenai manajemen krisis yang harus terus diaktifkan dengan baik, termasuk membentuk masyarakat yang juga sadar bencana," kata dia.

Hasil kajian mengenai tsunami tersebut menyebabkan kepanikan di beberapa pelaku industri pariwisata Jawa Barat dan calon wisatawan. Persepsi yang terbentuk tsunami akan terjadi sebentar lagi.

"Tentunya kami tetap menganggap hasil kajian ini penting, kita tidak boleh anti atau menolak mentah-mentah karena ada pakar yang terlibat dalam penelitian. Tugas kita kan menekan potensi kerusakan dan korban jika memang itu terjadi," ujar dia.

Informasi utuh dan mitigasi bencana 

Di sisi lain, lanjut Dedi Taufik, ada indikasi bahwa informasi mengenai kajian tersebar tanpa data yang utuh dan rencananya Disparbud Jawa Barat akan melakukan sosialisasi dengan menggandeng para pakar (yang terlibat dalam penelitian) agar informasinya utuh, termasuk menggandeng BPBD membahas mitigasi.

Ketika disinggung mengenai usaha investor atau pengusaha tetap berkegiatan di pantai selatan, Dedi Taufik menilai hal itu bergantung pada komitmen semua pihak, termasuk pemerintah daerah.

“Semua harus bisa meyakinkan kembali pasar investor dengan cara promosi dan memasarkan kembali produk-produk investasi pariwisata Jawa Barat bagian selatan,” kata dia.

Sebelumnya Guru Besar bidang Seismologi di Institute Teknologi Bandung (ITB), Sri Widiyantoro mengatakan, ada kemungkinan gempa besar disertai tsunami di wilayah Indonesia, terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Hal itu diungkap olehnya dalam webinar dengan judul ‘Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java’ pada Rabu (23/9/2020).

Dia menyebut ada wilayah minim gempa atau seismic gap (bagian dari sesar yang pernah menghasilkan gempa bumi) di laut selatan Jawa. Wilayah ini berpotensi melepaskan gempa dengan magnitudo yang lebih besar ketika ia aktif kembali.

Tidak adanya gempa besar dengan magnitudo 8 atau lebih dalam beberapa ratus tahun terakhir mengindikasikan ancaman gempa tsunamigenik dahsyat di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Untuk mengetahuinya, tim kemudian melakukan simulasi selama tiga jam dengan inversi data GPS.

Hasilnya, Jawa Barat di selatan Banten berpotensi dihantam tsunami setinggi 20 meter, jika mengacu pada ulang tahun gempa 400 tahun sekali.

BMKG minta masyarakat tenang

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tidak panik terkait riset potensi gempa megathrust yang memicu tsunami hingga 20 meter di selatan Jawa.  

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, kecemasan dan kepanikan publik mengenai hal itu terjadi karena adanya masalah kesalahpahaman saja.  

"Ini masalah sains komunikasi yang masih terus saja terjadi, karena hingga saat ini masih ada gap atau jurang pemisah antara kalangan para ahli dengan konsep ilmiahnya dan masyarakat yang memiliki latar belakang dan tingkat pengetahuan yang sangat beragam," kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (27/9/2020).

Para ahli dalam menciptakan model potensi bencana sebenarnya ditujukan untuk acuan upaya mitigasi. Namun sebagian masyarakat memahaminya kurang tepat, seolah bencana akan terjadi dalam waktu dekat. 

"Kasus semacam ini tampaknya masih akan terus berulang, dan pastinya harus kita perbaiki dan akhiri," ujarnya.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers