web analytics
  

Kabupaten Cirebon Zona Merah, 24 Kecamatan Berisiko Tinggi

Rabu, 30 September 2020 13:56 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Kabupaten Cirebon Zona Merah, 24 Kecamatan Berisiko Tinggi, Corona Cirebon,Update Corona Cirebon,Kasus corona Cirebon,Cirebon Hari Ini,covid-19 cirebon,kasus covid-19 cirebon,Zona Merah Cirebon,Cirebon Zona Merah

Ilustrasi swab test Covid-19. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Lebih dari separuh kecamatan di Kabupaten Cirebon terkategori zona merah. Kota ini pun menjadi salah satu dari 5 daerah yang kini berisiko tinggi di Jawa Barat, bersanding dengan tetangganya, Kota Cirebon, yang sudah lebih dulu menyandang status itu.

Otoritas penanganan Covid-19 setempat mendata jumlah 807 kasus hingga Rabu (30/9/2020). Rinciannya, 42 orang meninggal dunia, 319 masih dalam perawatan di rumah sakit atau karantina mandiri, dan 446 orang pulih.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon Enny Suhaeni menyebutkan, 24 kecamatan dari total 40 kecamatan di Kabupaten Cirebon kini termasuk zona merah. Sisanya, zona biru dan oranye.

"Sudah lebih dari separuh kecamatan ditemukan kasus Covid-19," katanya.

Dia mengakui, di lapangan kasus terus bermunculan. Namun, kondisi itu diketahui seiring penelusuran (tracing) dan pelacakan (tracking) yang terus dilakukan pihaknya.

Mereka terutama menyasar orang-orang yang pernah berkontak dengan pasien positif. Dari situ, mencuatlah penambahan kasus yang belum usai sampai kini.

"Di Cirebon itu sebetulnya tinggi (pasien positif) karena tracing-nya juga tinggi," ungkapnya.

Sampai kini, tercatat 1.196 kontak erat di Kabupaten Cirebon. Dari jumlah itu, 711 orang masih dalam pemantauan dan 485 orang telah selesai dipantau.

Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon diketahui telah melaksanakan tes usap kepada lebih dari 1% jumlah penduduknya sebagaimana ditargetkan. Dari sekitar 2,2 juta jiwa jumlah penduduk Kabupaten Cirebon, 25.895 orang telah menjalani tes usap.

Sayang, pihaknya tak jarang menghadapi kendala teknis saat penginputan data hasil tracing dari puskesmas ke Pemprov Jabar.

"Kami ada 60 puskesmas, mereka menginput sendiri data hasil tracking. Tapi, pas mengunggah untuk memasukkan ke data provinsi, kerap gagal karena sinyal," katanya.

Bupati Cirebon Imron Rosyadi memandang, tingginya risiko Covid-19 di Kabupaten Cirebon tak lepas sebagai konsekuensi dari upaya penelusuran yang tak henti dilakukan satgas penanganan Covid-19.

"Memang ada peningkatan kasus signifikan. Bukan tanpa alasan, ini konsekuensi dari tracing dengan metode uji usap yang masif," terangnya.

Selain tes usap yang terus menerus, sosialisasi kepada warga pula tak henti dilakukan. Dia pun kembali mengimbau masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Bila tidak, dia mengkhawatirkan Kabupaten Cirebon akan terus berada di zona merah. Terlebih, sampai kini mayoritas pasien positif di Kabupaten Cirebon masih orang tanpa gejala dengan jumlah 562 orang, sedangkan yang bergejala 245 orang.

Kondisi itu dinilai mencemaskan karena potensi penyebaran lebih besar dari orang-orang tanpa gejala. Sekitar sepekan sebelumnya, Kabupaten Cirebon tidak termasuk daerah dengan risiko tinggi Covid-19.

Namun, pada Senin (28/9/2020), Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengumumkan daerah ini turut menjadi 1 dari 5 daerah yang terkategori zona merah. Bersama tetangganya, Kota Cirebon, 3 daerah lain di Jabar yang termasuk zona merah masing-masing Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kota Depok.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers