web analytics
  

BANDUNG HARI INI: Antara G30S, Pembantaian Massal, dan Pengaruh Ibrahim Adjie di Jawa Barat

Rabu, 30 September 2020 11:40 WIB Tri Joko Her Riadi
Bandung Raya - Bandung,  BANDUNG HARI INI: Antara G30S, Pembantaian Massal, dan Pengaruh Ibrahim Adjie di Jawa Barat, G30S,G30S/PKI,Pembantaian Massal,Ibrahim Adjie,Bandung,Bandung Hari Ini,Sejarah Bandung,Bandung 30 September

Sampul film Pemberontakan G30S/PKI ((ist))

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Peristiwa berdarah pada tahun 1965 yang kemudian terkenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) merupakan sebuah tonggak menentukan yang mengubah perjalanan bangsa . Itulah insiden yang diyakini sebagai salah satu awal keruntuhan kekuasaan Sukarno sebagai presiden Republik Indonesia. Suharto, yang menggantikannya, kemudian berkuasa selama 32 tahun. Di sepanjang pemerintahan yang otoriter itu, berulang kali terjadi peristiwa berdarah dalam skala yang berbeda-beda.

Bukan hanya pergantian kekuasaan, G30S juga diikuti dengan pembantaian massal yang sampai hari ini masih menyisakan trauma mendalam. Jumlahnya tidak pernah bisa dipastikan, namun ada beberapa pernyataan yang menyebut angkanya mencapai paling sedikit 500 ribu orang.

Mereka yang namanya dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), partai merah yang dituding mendalangi G30S, mengalami penyiksaan yang mengerikan. Setelah Suharto dengan Orde Baru-nya tumbang pada Mei 1998, barulah orang bisa membaca dan menyaksikan banyak kisah, riset, atau memoar tentang kejahatan kemanusiaan tersebut.

Salah satu fakta sejarah menarik terkait G30S dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya adalah sedikitnya, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali, kasus pembantaian massal pengikut PKI di Jawa Barat. Gelombang ‘pembersihan’ itu menyapu Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Namun, tidak Jawa Barat. Nama Ibrahim Adjie disebut-sebut. 

Pengaruh Ibrahim Adjie

Ada beberapa cerita tentang Jawa Barat, termasuk Bandung, yang nisbi bersih dari kasus pembantaian massal pasca G30S. Salah satunya datang dari catatan Ayik Umar Said atau biasa ditulis A. Umar Said.

Umar Said merupakan wartawan Indonesia yang memimpin harian Ekonomi Nasional sekaligus pengurus Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Ketika G30S meletus, Umar Said sedang berada di Aljazair mewakili Indonesia dalam sebuah konferensi internasional. Ia memutuskan tidak pulang ke Tanah Air dan bermukim di Tiongkok selama tujuh tahun sebelum menghabiskan sisa hidup di Perancis setelah memperoleh suaka politik.

Dalam blog pribadi yang ditulis 24 September 2009 lalu, Umar Said menceritakan pertemuan dan wawancaranya dengan Ben Anderson pada 10 dan 23 September 1996. Ben Anderson adalah sejarawan ahli Indonesia dengan salah satu buku babonnya yang amat terkenal “Imagined Communities”.  

Kepada Umar Said, Ben menceritakan percakapannya dengan Ibrahim Adjie yang ketika G30S meletus menjabat Pangdam Siliwangi yang bermarkas pusat di Bandung. Dalam pengakuan sang jenderal, ia sendirilah yang memberi komando agar jangan sampai ada pembantaian massal di Jawa Barat.

“Karena mereka bagaimana pun ini sebagian besar orang biasa, orang-orang kecil. Akan mengerikan kalau mereka itu dibunuh. Saya sudah kasih perintah kepada semua kesatuan di bawah saya, orang ini ditangkap, diamankan. Tapi jangan sampai ada macem-macem,” begitu ucapan Ibrahim Adjie yang disalin Umar Said.

Pengaruh Ibrahim Adjie ampuh di lapangan. Para anak buah menjalankan perintahnya. Betul ada kejadian di Indramayu, tapi itu tidak meluas.

Pendukung Sukarno

Ibrahim Adjie dilahirkan di Bogor pada 34 Februari 1924. Di sepanjang karier militernya, ia dikenal sebagai seorang pendukung Sukarno atau Sukarnois sejati.

Ibrahim Adjie ada di antara pasukan Siliwangi yang melakukan long march pada 1948. Pada 1960, ia dipercaya Sukarno sebagai Panglima Kodam VI/Siliwangi. Dua tahun kemudian, Ibrahim Adjie menunaikan amanat untuk memadamkan perlawanan yang dikobarkan Kartosoewirjo di Priangan.

Sejak hari-hari pertama di sekitaran prahara 1965, Sukarno secara pribadi meminta Ibrahim Adjie untuk melindungi presiden dan keluarganya. Sang Panglima Siliwangi pun menunjukkan kesetiaannya.

Dalam buku “Mengapa G30S PKI Gagal: Sebuah Analisis” (2005) karangan Mayjend (Purn) Samsudin, diceritakan bagaimana Ibrahim Adjie mengumpulkan pejabat sipil, militer, serta pimpinan partai politik dan organisasi massa di aula Kodam, di Bandung. Kesimpulannya bulat: rakyat Jawa Barat mendukung Bung Karno.

Jurnalis Belanda Willem Oltmans, dalam bukunya “Bung Karno Sahabatku” (2001), mengutip sepucuk surat yang ditulis Sukarno untuk istrinya Ratna Sari Dewi pada 10 Oktober 1965. Sang presiden bercerita tentang penolakan para staf Kodam Siliwangi terhadap rencana penarikan Ibrahim Adjie ke Jakarta. Ia sedang mendiskusikan hal itu secara rahasia di Istana Bogor.

“Benar, Siliwangi adalah benteng saya yang paling kuat. Saya harus dekat dengannya dan sangat penting bagiku,” tulis Sukarno dalam surat tersebut.

Sebagai konsekuensi dari loyalitasnya pada Sukarno, Ibrahim Adjie tersingkir dari percaturan politik dan militer tingkat elite. Pada 1966, ia dikirim Suharto ke London sebagai Duta Besar Indonesia untuk Inggris selama empat tahun. Di London itulah, beberapa jurnalis, sejarawan, dan peneliti tentang Indonesia berkunjung dan mengorek keterangan darinya.

Pulang ke Indonesia, Ibrahim Adjie tidak pernah lagi bisa masuk ke lingkaran politik. Ia memilih menekuni dunia usaha.

Di Bandung, namanya saat ini diabadikan sebagai nama jalan utama di kawasan Kiaracondong.

Suasana Kebon Waru

Perlakuan terhadap orang-orang yang ditahan terkait G30S di Bandung dan sekitarnya tergambar dari cerita H. Suparman Amirsyah dalam buku memoarnya “Sebuah Catatan Tragedi 1965: Dari Pulau Buru sampai Mekah” (2006). Suparman merupakan pemimpin umum harian Warta Bandung yang dituduh dekat dengan kelompok kiri.

Dari sel Denpom (Detasemen Polisi Militer), Jalan Jawa, Suparman dijebloskan ke Kamp Tahanan Kebon Waru sejak 6 November 1965. Pemeriksaan di penjara ini tidak sekejam interogasi di kamp-kamp ilegal lain.

Di Kamp Tahanan Kebon Waru, kunjungan keluarga dilakukan secara leluasa. Inilah kesempatan bagi para tahanan memperpanjang hidup lewat kiriman makanan atau uang karena tidak ada jatah makanan mereka peroleh dari pengelola tahanan.

Selama tinggal di Kebon Waru, Suparman tidak mengalami satu kali pun kekerasan fisik. Namun ia menderita akibat kepergian dua anggota keluarganya. Pertama, si sulung berumur delapan tahun meninggal karena sakit difteri. Berikutnya, sang istri meninggalkannya untuk kawin dengan orang lain. Kabar yang membuat Suparman pingsan.

“Setelah peristiwa itu, selama berbulan-bulan saya mengalami depresi berat. Dada rasanya seperti ditindih batu besar,” tulisnya.

Pada 18 Juli 1970 petang, Suparman bersama ribuan tahanan lain dari berbagai daerah di Jawa Barat diangkut ke Nusakambangan dengan kereta api. Di barak-barak di Nusakambangan itulah, Suparman pertama kalinya bertemu dengan para tahanan lain dari berbagai penjuru negeri. Dari Salemba, Jakarta, datang gerombolan pemuda dan para pucuk pimpinan surat kabar kiri dengan tubuh kurus-kering. Penjara di ibu kota itu memang dikenal kejam. Para tahanannya diisolasi dan dibiarkan menderita lapar.

“Dalam situasi berebutan air di depan pintu barak, sulit kita membedakan antara manusia dan bebek. Karena haus dan lapar, manusia lupa pada kemanusiaannya. Berebutan dan berdesakan. Persis seperti bebek yang kehausan,” tulisnya.

Pada 20 Oktober 1970, Suparman ada di perut kapal “Tobelo” yang berlayar menuju Pulau Buru mengangkut ribuan tapol gelombang kedua. Empat hari kemudian, ia tiba di Namlea dan tinggal di pulau tersebut selama delapan tahun.

Pada 26 Desember 1978, Suparman bersama ribuan tapol lain menaiki kapal “Gunung Jati” yang bergerak meninggalkan Buru. Mereka tiba di pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta, lima hari kemudian. Menaiki kereta, Suparman tiba di Bandung pada 30 Desember 1978 sore dan segera digiring ke penjara Kebon Waru.

Baru keesokan harinya, Suparman dan ribuan tapol lain mengikuti upara pelepasan di GOR (Gelanggang Olah Raga) Saparua.

Editor: Tri Joko Her Riadi

artikel terkait

dewanpers