web analytics
  

Bandara Husein Sastranegara, Awalnya Bernama Lapangan Terbang Andir

Selasa, 29 September 2020 14:51 WIB Fira Nursyabani
Bandung Baheula - Baheula, Bandara Husein Sastranegara, Awalnya Bernama Lapangan Terbang Andir, Bandara Husein Sastranegara Bandung,Husein Sastranegara,Sejarah Bandara Husein Sastranegara,Lapangan Terbang Andir,Pangkalan Udara Andir

Bandara Husein Sastranegara. (Ist)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Bandara Internasional Husein Sastranegara kebanggaan warga Kota Bandung ternyata sudah ada sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda. Pada awalnya bandara ini bernama Lapangan Terbang Andir atau Luchtvaart Afdeling/Vliegveld Andir.

Menurut situs resmi Husein Sastranegara International Airport, sebelum Perang Dunia II, pada 1918 Pemerintah Hindia Belanda membangun sarana militer berupa landasan udara di wilayah Cipagalo, Kelurahan Sukamiskin. Namun karena kontur tanahnya becek, landasan udara kemudian dibuat kembali di wilayah Andir pada 1921.

Secara berkala, peralatan penerbangan dari Sukamiskin dipindahkan ke Andir. Pada 1928, Lapangan Terbang Andir mulai melayani penerbangan sipil rute Bandung-Batavia.

Dikutip dari situs resmi TNI AU, selain menjadi landasan udara, Lapangan Terbang Andir juga menjadi pusat perawatan mesin pesawat. Pesawat yang digunakan pada masa itu di antaranya jenis Avro, Glenn Martin, Jeger dankoelhoven.

Memasuki Perang Dunia II, pada 1942, Lapangan Terbang Andir sempat diambil alih oleh Jepang sampai 1945. Setelah itu bandara sempat vakum dari 1945 saat Indonesia merdeka sampai 1949.

Setelah ada pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) dari Belanda pada 27 Desember 1949, terjadi serah terima pangkalan-pangkalan udara secara berangsur-angsur.

Lapangan Terbang Andir merupakan yang pertama diserahterimakan dari Belanda ke Angkatan Udara RI (AURI), yakni pada 20 Januari 1950.

Hanya, serah terima tersebut hanya berlaku bagi Lapangan Terbang Andir sebelah utara pada Maret 1950. Yang diserahkan dari lapangan sebelah utara meliputi fasilitas penerbangan, termasuk hanggar tiga pesawat C-47 Dakota, tiga pesawat latih Harvard, dan tujuh pesawat Piper Cub (Capung).

Sedangkan Lapangan Terbang Andir sebelah selatan baru diserahterimakan pada 12 Juni 1950. Serah terima dilakukan Mayor EJ Van Kappen mewakili pemerintahan kerajaan Belanda dan dari pihak AURI diwakili  Mayor Udara Wiwiko Soepono yang menjabat sebagai Ketua Sub Panitia Penerimaan Material.

Penumpang menuruni pesawat di Bandara Husein Sastranegara, Cicendo, Kota Bandung, Kamis (10/9/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Setelah itu bandara tersebut diambil alih oleh TNIAU sebagai pangkalan militer pada 1969 sampai 1973. Baru setelah 1973 bandara tersebut berubah menjadi bandara penerbangan komersial.

Pada 1974 mulai dilakukan kegiatan pelayanan lalu lintas dan angkutan udara komersial secara resmi yaitu dengan berdirinya kantor Perwakilan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan nama Stasiun Udara Husein sastranegara Bandung untuk kepentingan kegiatan penerbangan komersial  sipil.

Selanjutnya pada 1983 berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 68/HK 207/PHB-83 tanggal 19 Februari 1983 klasifikasi Pelabuhan Udara ditingkatkan dari kelas III menjadi klas II.

Pada 1994 dilaksanakan Pengalihan Pengelolaan Bandar Udara dari Dephub kepada PT Angkasa Pura II sesuai PP RI Nomor 26 Tahun 1994 tanggal 30 Agustus 1994 tentang Penambahan Penyertaan modal Negara RI ke dalam Modal saham PT Angkasa Pura II.

 

Perintis TNI AU yang Gugur

Nama Husein Sastranegara diambil dari nama Opsir Udara I Husein Sastranegara, pilot militer TNI AU yang gugur saat latihan terbang di Yogyakarta pada 26 September 1946. Namanya diabadikan menjadi nama bandara berdasarkan Keputusan Kasau No. 76 Tahun 1952.

Husein Sastranegara lahir di Cianjur pada 20 Januari 1919. Ia merupakan salah satu perintis TNI AU bersama dengan Agustinus Adisucipto, Halim Perdanakusuma, Abdulrahman Saleh, dan Iswahyudi.

Namun Husein Sastranegara hanya dapat menyumbangkan tenaganya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam waktu lima bulan saja setelah Angkatan Udara RI resmi didirikan.

Husein Sastranegara. (Ist)

Situs TNI AU menyebutkan, Husein Sastranegara merupakan keturunan ningrat Priangan dan golongan menengah Bumputera. Ayah Husein, Raden Demang Ishak Sastranegara adalah seorang Pangreh peraja (Demang) zaman Belanda dan pernah menjabat sebagai wedana Ujungberung, pejabat bupati di Tasikmalaya selama 17 bulan, dan patih Tasikmalaya.

Sang ayah adalah putra tunggal Raden Askad Sastranegara, seorang Onder Collecteur Pensiun Sumedang. Sedangkan ibunya Raden Katjih Lasminingroem, putri Raden Wiranata, Onder Collecteur Pensiun Cicalengka. Mereka menikah di Kadungora Garut pada 16 Oktober 1907.

Mula-mula Husein sekolah di Europese Legere School (ELS) di Bandung. Setelah itu ia melanjutkan sekolah di Hoger Burger School (HBS) di Bandung, tapi kemudian pindah ke HBS KW DRI di Jakarta.

Begitu lulus HBS pada 1939 Husen menjadi mahasiswa di Technische Hoge School (THS) di Bandung (sekarang ITB).

Saat Perang Dunia II pada 1939, Pemerintah Hindia Belanda memberi kelonggaran kepada pemuda Indonesia untuk mencoba karier di bidang penerbangan militer. 

Tanpa ragu Husein mengambil keputusan meninggalkan bangku kuliahnya dan mendaftarkan diri ke sekolah Militare Luchvaart School atau disebut juga Luchtvaart di Kalijati, Subang pada 1939.

Husein termasuk salah satu dari 10 orang pemuda pribumi yang diterima untuk mengikuti pendidikan perwira penerbang. Namun, hanya lima orang yang berhasil mendapat brevet penerbang, yakni Husein Sastranegara, Ignatius Adisutjipto, Sambodja Hurip, Sulistiyo, dan Sujono.

Sayangnya, Husein gagal meneruskan pendidikan penerbang di Bandung. Bersama dengan dua orang rekannya, yakni Sujono dan Sulistyo, Husein hanya mendapat KMB (Kleine Militaire Brevet) atau lisensi menerbangkan pesawat–pesawat bermesin tunggal.

Sedangkan yang mendapatkan GMB (Groote Militaire Brevet ) hanya Agustinus Adisutjipto dan Sambudjo Hurip.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers