web analytics
  

Dampak Jalan Pasar Baru Ditutup-buka, Pedagang Diambang Kebangkrutan

Selasa, 29 September 2020 07:37 WIB M. Naufal Hafizh
Bandung Raya - Bandung, Dampak Jalan Pasar Baru Ditutup-buka, Pedagang Diambang Kebangkrutan, Penutupan Jalan Otista,Pasar Baru Bandung,Pedagang Pasar Baru Demo,Penutupan Jalan Pasar Baru

Seorang penjual kerudung di sekitaran Pasar Baru sedang menunggu pembeli di sela penutupan jalan pagi di Jalan Otto Iskandardinata, Kota Bandung, Selasa (22/9/2020). Beberapa penjual kaki lima di Pasar Baru mengalami penurun omzet akibat sepi pembeli karena jalan ditutup. Salah seorang penjual kerudung mengatakan, mengalami penurunan sampai 50% dari pendapatan sebelumnya. (Ayobandung.com/Ryan Suherlan/Magang)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Sedikitnya 5 ruas jalan di Kota Bandung dibuka-tutup sejak Jumat (18/9/2020) untuk menekan angka penyebaran virus corona. Salah satunya Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) tempat berdirinya Pasar Baru. Namun, kebijakan ini menimbulkan dampak ekonomi, lebih kurang, 60% pedagang terancam bangkrut.

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru Iwan Suhermawan mengatakan, dampak penutupan Jalan Otista sangat dirasakan pedagang, terutama dari sisi ekonomi dan sosial.

"Para pedagang Pasar Baru saat ini sedang mencoba untuk mengatasi kesulitan-kesulitan mereka, akibat dari pemberlakuan PSBB berkali-kali di bulan-bulan yang lalu, itu sangat memukul telak para pedagang Pasar Baru dan sekitarnya," ujarnya kepada Ayobandung.com, Selasa (22/9/2020).

Iwan menuturkan, 60% para pedagang di Pasar Baru berada diambang kebangkrutan. Selain itu, banyak lapak yang kosong karena pedagang tidak mampu membayar sewa lapak.

"Jujur saja, para pedagang yang ada di dalam Pasar Baru ini efek dari PSBB kemarin itu, hampir 60% mereka sudah di ambang kebangkrutan. Jadi bisa dilihat di dalam pasar baru begitu banyak jongko-jongko (lapak) yang kosong, penyewa-penyewa yang tidak dilanjutkan lagi menyewa tempatnya. Ini semua efek dari pandemi Covid-19 sangat luar biasa ketika PSBB kemarin," kata Iwan.

Setelah melewati masa PSBB beberapa bulan lalu, kata Iwan, para pedagang mulai menjajakan dagangannya. Namun, adanya pemberlakuan buka-tutup di Jalan Otista, membuat para pedagang harus memutar otak kembali.

Tak Hanya Pedagang

Selain pedagang, para tukang becak yang biasa beroperasi di Pasar Baru pun terdampak secara ekonomi dari adanya buka-tutup jalan.

Salah seorang tukang becak yang berada di Pasar Baru, Jalan Otista, Darmin (54), mengatakan, penutupan Jalan berdampak pada penghasilannya.

Sebelum diberlakukan penutupan jalan, Darmin bisa mendapatkan penumpang hingga 8 kali per hari. Namun, saat ini, dia hanya mendapatkan setengahnya.

"Kalau dulu sehari itu bisa dapat Rp80.000, kalau sekarang lebih sedikit. Mungkin karena jalan ditutup jadi mereka lebih milih jalan kaki," ujarnya kepada Ayobandung.com, Kamis (24/9/2020).

Unjuk Rasa

Buka-tutup jalan yang telah dilakukan selama 11 hari hingga Senin (28/9/2020), mendapat penolakan dari sejumlah pedagang di Pasar Baru dan pedagang kaki lima. Mereka berunjuk rasa di Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Senin (28/9/2020), sekira pukul 09.30 WIB. Mereka berharap Pemerintah Kota Bandung meninjau ulang penutupan jalan tersebut.

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B) Iwan Suhermawan mengatakan, "(Unjuk rasa) itu sebetulnya aksi di luar kontrol HP2B, tapi saya juga tidak bisa melarang dan mencegah. Ini adalah keinginan para pedagang untuk melakukan aksi penolakan dan penutupan Jalan Otista yang menurut mereka sangat memberatkan, efeknya kepada pedagang Pasar Baru dan sekitarnya," ujarnya.

Iwan mengatakan, telah memberikan surat keberatan penutupan jalan Ke Tim Gugus Tugas Kota Bandung.

"Iya spontan, karena kita juga sama himpunan pedagang juga, kan dengan caranya sendiri, dengan cara konstitusional dengan mengirimkan surat secara formal ke PD Pasar, lalu ke Dewan agar aspirasi kita didengar. Tapi kan sampai saat ini Pemerintah Kota Bandung sendiri belum merespons surat-surat nota protes dari kita," ujarnya.

Bandung Zona Oranye

Hingga Kamis (24/9/2020), Kota Bandung masih berada di zona oranye atau risiko sedang penyebaran corona penyebab Covid-19.

Wali Kota Bandung Oded M Danial mengatakan, hal tersebut menyebabkan pihaknya masih akan sangat berhati-hati melakukan relaksasi sektor ekonomi. Selain itu, skema buka-tutup jalan juga masih berlanjut.

"Kota Bandung masih di level oranye atau terkendali. Kami masih sangat berhati-hati dalam membuka sektor-sektor yang akan direlaksasi," ungkap Oded dalam konferensi pers di Balai Kota Bandung, Kamis (24/8/2020).

"Buka-tutup jalan masih akan dilaksanakan untuk membatasi aktivitas warga yang berpotensi menimbulkan kerumunan," katanya.

Pihaknya hanya akan memprioritaskan relaksasi sektor ekonomi yang memiliki risiko penyebaran corona rendah dengan dampak sosial ekonomi besar. Sejauh ini, belum ditemukan adanya klaster baru di sektor-sektor ekonomi yang direlaksasi.

Sementara itu, angka reproduksi kasus corona di Kota Bandung mengalami peningkatan dari 2 minggu lalu. Per 23 September, angka reproduksi naik menjadi 1,22 dari sebelumnya 0,81.

"Kasus masih terkendali tapi angka produksi meningkat. Per 23 September naik menjadi 1,22," ungkap Oded.

Daftar ruas jalan di Kota Bandung yang ditutup

Menurut informasi resmi dari Humas Setda Kota Bandung, buka-tutup jalan dilakukan

  1. Mulai Simpang Otista - Suniaraja s/d Otista - Asia Afrika;
  2. Mulai dari Simpang Asia Afrika - Tamblong s/d Asia Afrika - Cikapundung Barat;
  3. Mulai dari Purnawarman - Riau s/d Purnawarman – Wastukencana;
  4. Mulai dari Merdeka - Riau s/d Merdeka – Aceh;
  5. Mulai dari Merdeka - Aceh s/d Merdeka – Jawa.

Waktu penutupan jalan

Waktu penutupan jalan dilakukan 3 kali sehari. Pertama, pukul 09.00 WIB-11.00 WIB, dilanjutkan pukul 14.00 WIB-16.00 WIB, kemudian pukul 21.00-06.00 WIB.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers