web analytics
  

Soal Gempa Megathrust dan Tsunami 20 Meter, BMKG Minta Warga Tak Panik

Senin, 28 September 2020 05:56 WIB Firda Puri Agustine
Umum - Regional, Soal Gempa Megathrust dan Tsunami 20 Meter, BMKG Minta Warga Tak Panik, Tsunami 20 Meter,Tsunami Selatan Jawa,Gempa Megathrust

[Ilustrasi] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tidak panik terkait riset potensi gempa megathrust yang memicu tsunami hingga 20 meter di selatan Jawa. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tidak panik terkait riset potensi gempa megathrust yang memicu tsunami hingga 20 meter di selatan Jawa.  

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, kecemasan dan kepanikan publik mengenai hal itu terjadi karena adanya masalah kesalahpahaman saja.  

"Ini masalah sains komunikasi yang masih terus saja terjadi, karena hingga saat ini masih ada gap atau jurang pemisah antara kalangan para ahli dengan konsep ilmiahnya dan masyarakat yang memiliki latar belakang dan tingkat pengetahuan yang sangat beragam," kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (27/9/2020).

Para ahli dalam menciptakan model potensi bencana sebenarnya ditujukan untuk acuan upaya mitigasi. Namun sebagian masyarakat memahaminya kurang tepat, seolah bencana akan terjadi dalam waktu dekat. 

"Kasus semacam ini tampaknya masih akan terus berulang, dan pastinya harus kita perbaiki dan akhiri," ujarnya.

Kepanikan masyarakat akibat informasi potensi gempa megathrust sebelumnya sudah sering terjadi, dan terus berulang sejak peristiwa tsunami Aceh 2004. Gaduh akibat potensi gempa megathrust dan tsunaminya selalu muncul setiap para ahli mengemukaan pandangan mengenai potensi gempa dan tsunami.

"Kami berharap masyarakat terus meningkatkan literasi, selanjutnya tidak mudah 'kagetan' setiap ada informasi potensi bencana," kata Daryono. 

"Masyarakat juga jangan mudah terpancing dengan judul berita dari media yang dengan bombastis memberitakan potensi bencana," kata dia.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers