web analytics
  

Mengenal Arie Frederik Lasut yang Namanya Terukir di Museum Geologi

Kamis, 24 September 2020 12:40 WIB Fira Nursyabani
Bandung Baheula - Baheula, Mengenal Arie Frederik Lasut yang Namanya Terukir di Museum Geologi, Arie Frederik Lasut,Arie Frederik Lasut biografi,Museum Geologi,Sejarah Arie Frederik Lasut, bandung baheula

Museum Geologi Bandung. (Ayobandung.com/Ridwan Firdaus/magang)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pengunjung Museum Geologi Bandung pasti pernah melihat prasasti Arie Frederik Lasut di ujung tangga naik ke lantai dua. Siapa sebenarnya Arie Frederik Lasut

Menurut buku Wisata Parijs van Java karya Her Suganda, Arie Frederik Lasut adalah Kepala Jawatan Tambang dan Geologi pertama periode 16 Maret 1946-7 Mei 1949. Kini lembaga itu bernama kini Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen Pertambangan dan Energi.

Ia lahir pada 6 Juli 1918 di Desa Kapataran, dekat Tondano, Sulawesi Utara, sebagai anak kedua dari delapan bersaudara.

Situs resmi Museum Geologi mencatat, Arie pernah bersekolah di sekolah berbahasa Belanda, dan lulus AMS (Algemeene Middlebare School).

Dia juga sempat mengenyam perguruan tinggi kedokteran di Jakarta, kemudian pindah ke sekolah teknik di ITB Bandung. Namun ketiadaan biaya membuatnya gagal menjadi dokter dan insinyur.

Arie Frederik Lasut (dok. Museum Geologi)

Her Suganda menulis, karier Arie di bidang geologi diawali setelah menyelesaikan kursus asisten geologi pada Dienst van den Mijnbouw (Dinas Pertambangan) pada 1939. Pada zaman pendudukan Jepang, lembaga itu berganti nama menjadi Chisitsu Chosajo.

Arie berjuang di medan pertempuran dan bergabung dengan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), sebuah laskar rakyat yang anggotanya berasal dari Sulawesi.

Dalam perjuangannya itu, Arie sering memasok bahan-bahan kimia untuk membuat bom molotov yang diperlukan oleh para pejuang kemerdekaan. Bahan-bahan kimia itu diperoleh dari laboratorium geologi.

Selain itu Arie juga tergabung dalam KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan terlibat dalam berbagai perundingan dengan Belanda untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia.

Ia tak hanya mengangkat senjata sebagai Komandan Kompi BS (Berdiri Sendiri) 16, Kesatuan Reserse Umum X, tetapi juga melakukan diplomasi sebagai anggota Delegasi Indonesia yang dipimpin Mohamad Roem dalam berunding dengan Van Roijen.

Saat Belanda masuk kembali ke Bandung dengan membonceng pasukan sekutu, ia menyelamatkan dokumen ilmu dan hasil penelitian tambang yang sangat penting.

Jalur yang dilalui untuk menyelamatkan dokumen tersebut dimulai dari Museum Geologi, Toko Onderling Belang Jalan Braga 3, Tasikmalaya, Solo, Magelang, dan Yogyakarta.

"Ia dibantu rekannya Amsir, Rd Soebroto, S Masdar, dan lainnya," tulis Her Suganda.

Meski dijanjikan banyak fasilitas oleh Belanda, Arie tetap menolak untuk bekerja sama. Pada 7 Mei 1949 pukul 10.00, ia ditembak mati oleh Belanda di Desa Gentan, Pakem, Yogyakarta. 

"Jenazahnya ditemukan terbujur mengenakan celana dan kaus putih serta tangannya memegang granat," demikian tertulis di situs Museum Geologi.

Atas jasa-jasanya dalam menyelamatkan dokumen geologi dan pertambangan, Arie Frederick Lasut ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 012/T.K/1969 tanggal 20 Mei 1969.

Prasasti untuk mengenang jasa-jasa Arie dipasang di tangga menuju lantai 2 Museum Geologi di Bandung dan diresmikan pada 15 Agustus 1985.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers