web analytics
  

Donald Trump Dipilih Lagi?

Sabtu, 26 September 2020 20:11 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Donald Trump Dipilih Lagi?, Donald Trump,Pemilihan Presiden Amerika,World Health Organization (WHO),Cina,corona

Presiden AS Donald Trump. (Reuters)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Presiden AS Donald Trump kembali menyerang Cina dalam pidato tahunan di Sidang Majelis Umum PBB, 23 September 2020. Dalam kesempatan itu dia menuntut agar dilakukan tindakan terhadap Cina karena menyebarkan wabah Covid-19 ke dunia.

Sebaliknya, Dubes Cina untuk PBB membalas dan menyatakan Trump telah menciptakan masalah bagi dunia. Mengapa Amerika Serikat memiliki kasus dan kematian yang paling banyak dikonfirmasi. Lebih dari 200 ribu kematian terjadi akibat CoVID-19. Paling banyak di dunia!

Serangan secara virtual itu merupakan yang paling akhir sejak kritikan tentang menipulasi nilai tukar yuan terhadap dolar AS, defisit perdagangan, saling menutup konsulat jenderal, isu hak cipta, pembatasan bahkan larangan dunia pendidikan bagi pelajar Cina, dan tuduhan Cina mendominasi laut Cina Selatan  

Gagasan Awal

Tanda-tanda ketidaksenangan Trump terlihat sejak masa kampanye kepresidenan pada 2015-2016. Katanya, negara kita mengalami permasalahan yang serius. Kita tidak lagi unggul. Cina dan Jepang merupakan pesaing serius di bidang ekonomi.

Selain soal perdagangan, Trump juga menyebut bahaya radikalisme di Timur Tengah serta kedatangan orang-orang Meksiko untuk mencari pekerjaan. Untuk itu kita harus membangun dinding besar di perbatasan bagian selatan.

Amerika Serikat tidak lagi pemenang dalam masalah-masalah internasional. Negara-negara lain mengambil keuntungan dari kelemahan Amerika Serikat. Untuk itu negara kita perlu berunding untuk memperoleh perjanjian yang lebih baik dengan negara lain, katanya.

Para pengamat ketika itu mencemaskan gagasan tersebut. Trump berusaha membebaskan AS dari komitmen internasional. Tidak ada petunjuk dia ingin melanjutkan kebijaksanaan luar negeri seperti semasa Perang Dunia II.

Colin Dueck, pengajar di George Mason University, menyatakan kebijaksanaan luar negeri akan menjadi bencana bagi AS sendiri, sekutu-sekutu di luar negeri dan pemberi suara.

Janji yang Direalisasikan

Semasa berkampanye dan dalam pidato pelantikan sebagai presiden ke 45 pada Januari 2017, Donald John Trump menegaskan kembali akan mendahulukan kepentingan nasional, America First, dalam rangka Make America Great Again yang seringkali disingkat menjadi MAGA.

Ternyata janji dan tagline kampanye dilaksanakan. Korea Selatan dan Jepang membayar bagian yang lebih besar sebagai konsekuensi kehadiran sedikitnya 35 ribu tentara AS di Korea dan 54 ribu di 23 pangkalan di Jepang. Seoul membayar US$990 juta atau Rp14 triliun, Jepang diminta membayar dari US$2 miliar menjadi US$ 8 miliar atau Rp112,55 miliar per tahun.

Trump juga berencana mengurangi jumlah tentaranya di Jerman dari 34.500 menjadi 25 ribu orang. Namun belakangan dicurigai rencana itu bertujuan meminta Jerman meningkatkan anggaran militer, serta terkait pemindahan pasukan AS ke Polandia.

Kebijaksanaan luar negeri Trump kerap dicemaskan karena mengurangi semangat globalisme dan mendahulukan uniteralisme. Sebagaimana diperlihatkan dalam tekadnya untuk keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Trump menuduh WHO menjadi boneka Cina dan gagal menangani penyebaran virus Corona. PBB sudah menyatakan AS akan keluar dari keanggotaan WHO pada 6 Juli 2021.

Amerika Serikat dewasa ini berutang US$ 200 juta kepada WHO. Diperkirakan hal itu pula yang menyebabkan Trump, yang lulusan sekolah bisnis Wharton, Universitas Pennsylvania, punya gagasan untuk mundur.

Akal Sehat

Berbagai kebijaksanaan Trump yang terkait membela reputasi dan kehormatan negara telah menimbulkan kecemasan di dalam negeri. Langkah-langkahnya yang kontroversial membangkitkan kritik di mana-mana. Meskipun ternyata tidak salah.

Berbeda dengan presiden-presiden Amerika terdahulu yang hanya janji saja, Trump memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Tindakan ini semula diperkirakan memperlemah Israel, tetapi kenyataannya makin kuat. Beberapa waktu lalu Israel membuka hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab.

Washington juga bersikap keras terhadap China yang telah memperoleh banyak manfaat dari berbagai kemudahan yang diberikan Amerika Serikat. Sebagai pebisnis, Trump meminta timbal balik dari pihak Cina dengan melancarkan tekanan yang belum pernah dilakukan presiden-presiden AS sebelumnya.

Hasilnya, kedua negara telah mencapai persetujuan perdagangan tahap pertama pada Rabu, 15 Januari 2020. Cina sepakat meningkatkan pembelian sejumlah produk pertanian, energi, manufaktur serta jasa senilai US$ 200 miliar dalam waktu dua tahun, di samping menurunkan tarif bea masuk produk-produk AS ke China.

Trump masih mengecam China sebagai sumber pandemi CoVID-19. Suatu cara untuk mengalihkan tekanan pemilih kepada Cina, bukan terhadap dirinya. Sebagai catatan, sejak Januari lalu tercatat lebih 200 ribu orang tewas di AS karena virus Corona.

Pada November mendatang, rakyat AS akan memilih pasangan Donald Trump/Mike Pence atau Joe Biden/Kamala Harris. Sepertinya Trumps cs di atas angin karena kebijaksanaanya yang kontroversial telah memberi manfaat ekonomis di dalam negeri.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers