web analytics
  

Mengenal Bekasem, Olahan Ikan Laut Khas Cirebon

Jumat, 25 September 2020 14:06 WIB
Gaya Hidup - Kuliner, Mengenal Bekasem, Olahan Ikan Laut Khas Cirebon, Bekasem,Makanan khas Cirebon,Kuliner Cirebon,Berita Cirebon,Cirebon Hari Ini

Keluarga dan Abdi dalem Keraton Kacirebonan, saat membuat bekaseman. (dok. Keraton Kacirebonan)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Status zona merah penyebaran Covid-19 yang disandang Kota Cirebon membuat perayaan Maulid Nabi tahun ini digelar tanpa melibatkan banyak orang.

Meski begitu, Keraton Kacirebonan tetap melakukan tradisi bekaseman yang nantinya disajikan dalam malam puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Namun bedanya tahun ini bekaseman, itu tidak diarak, melainkan untuk kegiatan adat internal Keraton Kacirebon dan tidak melibatkan tamu undangan.

Bekasem merupakan olahan ikan laut yang biasa disajikan pada malam puncak perayaan Maulid Nabi. Bekasem adalah ikan laut yang diolah melalui proses fermentasi.

Bahannya sendiri ikan-ikan segar yang terdiri dari kakap, tongkol, tenggiri, dan ikan laut berukuran besar.

Setelah dibersihkan dan dipotong kecil-kecil, ikan kemudian dicampur dengan garam dan gula merah yang sudah dihaluskan. Selanjutnya ikan-ikan itu dimasukkan ke dalam guci atau gentong untuk diawetkan kurang lebih selama satu bulan dan disimpan di dalam kamar jimat Keraton.

"Bekasem ini nantinya akan disajikan sebagai salah satu lauk bersama nasi jimat di malam puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad. Meski akan digelar secara internal di dalam Keraton," kata Sultan Kacirebonan Pangeran Abdul Gani Natadiningrat baru-baru ini.

Proses tersebut, lanjut Pangeran Abdul Gani dimulai pada setiap tanggal 5 Safar. Karena menurutya, proses pembuatan bekasem ini membutuhkan waktu cukup lama, dan akan dibuka pada tanggal 12 Rabiul Awal yang merupakan malam puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad.

"Ikan bekasem ini akan disajikan dengan piring jimat dan dibawa ke Masjid Keraton. Tapi, bedanya tahun ini tidak diarak, hanya langsung dibawa ke Masjid untuk kegiatan adat internal Keraton saja," katanya.

Pangeran Abdul Gani mengatakan, dipilihnya ikan dalam tradisi bekasem ini karena Cirebon ini dikenal sebagai penghasil ikan laut. Terlebih lagi, dulu para wali tidak memakan daging, hanya makan buah sayur-sayuran, dan ikan laut.

"Maka dari itu, tradisi bekasem dengan menggunakan ikan laut ini, tetap pertahankan hingga sekarang, untuk menjaga warisan budaya Cirebon," katanya.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers