web analytics
  

Cerita Guru Honorer Rintis Usaha Kaligrafi Bermodalkan Insentif Kartu Prakerja

Jumat, 25 September 2020 21:31 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bandung Raya - Bandung, Cerita Guru Honorer Rintis Usaha Kaligrafi Bermodalkan Insentif Kartu Prakerja, Guru Honorer,Kartu Prakerja,Cara mendaftar Kartu Prakerja gelombang 9

Kartu Prakerja. (prakerja.go.id)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Salah satu program subsidi dari pemerintah untuk masyarakat di tengah pandemi Covid-19 adalah program Kartu Prakerja. Program ini pertama kali diluncurkan pada Maret 2020.

Program Kartu Prakerja diselenggarakan sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres 36 Tahun 2020) yang ditujukan sebagai bantuan biaya pelatihan bagi masyarakat yang tengah mencari pekerjaan.

Terlebih, sejak pandemi Covid-19 melanda banyak masyarakat yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sejak pertama kali diluncurkan, Program Kartu Prakerja diklaim telah memberikan manfaat untuk memulai usaha dan membantu keuangan.

Merintis Usaha Kaligrafi

Setidaknya, manfaat Program Kartu Prakerja dirasakan masyarakat yang membutuhkan. Salah satu penerima manfaat program itu adalah Asep Hari Ismail yang sebelumnya merupakan guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Cimonce, Sukajadi, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.  

Asep menjadi satu dari banyaknya peserta yang dinyatakan lolos Program Kartu Prakerja gelombang ke-4 yang diumumkan, Minggu (16/8/2020). Adapun peserta yang lolos pada gelombang ke-4 sebanyak 800.000 orang dari total pendaftar 1,2 juta orang.

Dampak pandemi Covid-19 memang membuat pendapatan Asep menurun drastis. Asep pun akhirnya mendaftarkan diri pada program tersebut untuk gelombang keempat Agustus 2020 lalu.

Saat menerima insentif Kartu Prakerja senilai Rp600.000, Asep memutuskan untuk menggunakannya sebagai modal usaha. Asep memutuskan merintis usaha kaligrafi kecil-kecilan atau sekadar membeli alat-alat lukis untuk pekerjaan sampingannya itu.

"Insentif udah cair satu kali, baru bulan (September) ini aja. Kalau saya kemarin dipakai buat beli alat-alat, dipakai modal buat bikin kaligrafi. Ada yang pesan kaligrafi, terus disuruh bikin dekorasi masjid saya bikin aja. Untung ada modal," kata Asep kepada Ayobandung.com, Jumat (25/9/2020).

Pria berusia 34 tahun itu pun lantas tidak menyia-nyiakan kesempatan usai dinyatakan sebagai peserta program Kartu Prakerja. Memiliki latar belakang pendidikan jurusan Bahasa Inggris dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Asep memilih aplikasi SEKOLAHMU dalam program Kartu Prakerja untuk mempelajari keahlian Job Interview Menggunakan Bahasa Inggris. Dia mengaku sangat membutuhkan keahlian itu jika ingin melamar pekerjaan baru atau ketika ingin mengembangkan kemampuan.

"Pelatihan ikut di SEKOLAHMU. Kalau program yang saya ikutin lebih ke pembelajaran Bahasa Inggris karena pas tahu ada pelatihan Belajar Bahasa Inggris dengan cepat, wah ikutin saya. Saya udah gabung dua kali pelatihan," katanya.

Asep menuturkan, setelah peserta yang dinyatakan lolos, mereka memang akan mendapat dana subsidi awal sebesar Rp1.000.000 yang khusus digunakan untuk membayar biaya pelatihan. Saldo ini tidak dapat dicairkan.

Setelah menyelesaikan kelas pelatihan dan men-submit sertifikat, peserta kemudian akan mendapat dana insentif Rp2.400.000 yang akan diberikan secara bertahap Rp600.000/bulan selama 4 bulan. 

"Teknis pelatihan pertama harus selesai dulu sampai dapat sertifikat, dan sertifikatnya harus masuk dulu ke dashboard Prakerja. Setelah itu baru bisa ikut pelatihan lagi dan ada laporan tiap sekali pelatihan," katanya.

"Setahu saya juga, ada survei setelah seminggu pencairan. Disurvei nanti uangnya dipakai buat apa aja. Apa buat bayar kontrakan kah? buat bayar listrik, bayar apa aja, terserah kita. Misal dipakai modal usaha, keluar berapa, penghasilan jadi berapa, itu disebutin," ungkap Asep.

Modal Rp600.000 Mana Cukup?

Di sisi lain, ada cerita menarik ketika Asep mendapatkan pelatihan dari program Kartu Prakerja berupa materi video. Asep mengatakan, selama mengikuti kelas ia merasa bosan. Namun selama mengikut kelas tak ada ada kendala teknis. Ia mengaku materi yang didapatkan bisa meningkatkan skillnya.

"Kalau saya sengaja ngambil pelatihannya yang gampang, biar bisa ngisinya. Soalnya ada soal khusus diakhir pelatihan. Tapi materi videonya kadang diskip karena membosankan. Tapi karena saya juga ngambil pelatihan yang dasar dulu jadi masih bisa. Setidaknya saya bisa ikut pelatihan dan dapat sertifikat, dan tahu cara presentasi menggunakan Bahasa Inggris buat job interview" katanya.

Sejatinya, Asep berkeinginan mendapatkan penghasilan lebih dengan usaha rintisannya itu. Namun tantangannya adalah modal usaha. Karenanya, ia berharap program insentif itu bisa diubah menjadi program pemberian modal usaha bagi masyarakat.

"Kalau mau buka usaha mah butuh modal, kalau untuk modal usaha Rp600.000 mana cukup. Mungkin ya buat modal receh-receh aja. Sekarang misalnya Rp600.000 dikasih buat modal usaha mana cukup," katanya.

Namun Asep menilai, insentif yang diberikan setidaknya bisa dimanfaatkan. Meski jumlahnya tak besar, dia memandang insentif ini bisa digunakan masyarakat untuk menabung atau menjadi bekal usaha yang bisa dimulai dengan modal yang sedikit.

"Kalau saya rasa lanjutkan lagi aja program ini. Terutama untuk mereka yang memang butuh karena walaupun nominalnya gak banyak, tapi setidaknya bisa membantu. Kecil tidak masalah, yang penting semua ke bagian," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers