web analytics
  

HUT Kota Bandung ke-210, Pengamat Nilai Pemkot Harus Inovatif Tangani Corona

Jumat, 25 September 2020 16:09 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, HUT Kota Bandung ke-210, Pengamat Nilai Pemkot Harus Inovatif Tangani Corona, Corona Bandung,Update Corona Bandung,HUT ke-210 Kota Bandung

Kasus penyebaran virus corona di Kota Bandung yang terus meningkat. Akibatnya fasilitas kesehatan (ruang isolasi) terus terisi. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Hari ini, Jumat (25/9/2020), Kota Bandung menginjak usia ke-210. Lima hari sebelumnya, yakni 20 September 2020, masa pemerintahan Wali Kota Bandung Oded M. Danial dan Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana juga tepat memasuki tahun kedua.

Dalam dua momentum tersebut, terdapat satu isu besar yang masih menyita fokus Pemerintah Kota Bandung, yakni pandemi corona. Pandemi global yang telah berlangsung selama 6 bulan ini dinilai perlu ditangani dengan lebih inovatif agar kemaslahatan warga Kota Bandung tetap terjamin.

"Covid-19 itu ujian kepemimpinan, mengendalikan Covid-19 sebaiknya harus dilakukan dengan lebih kreatif," ungkap pengamat pemerintahan sekaligus guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Padjajaran, Muradi, Jumat (25/9/2020).

Muradi menilai, selama ini bantuan yang digelontorkan Pemkot Bandung bagi warga kota yang terdampak pandemi baru berupa bantuan yang memang diinstruksikan pemerintah pusat seperti jaring pengaman sosial dan bantuan sembako. Di luar itu, kata dia, belum ada insiasi lebih dari Pemkot Bandung yang bersifat lokal dan otentik, disesuaikan dengan kebutuhan warga kotanya.

"Misalnya untuk seniman-seniman yang selama ini terdampak, apa solusinya? Itu belum terlihat. Bagaimana menstimulasi para seniman di Kota Bandung agar bisa tetap berkarya di tengah pandemi. Padahal Kota Bandung kan selama ini dikenal sebagai kota kreatif," ungkapnya.

Dia mengatakan, hal tersebut bisa dilakukan dengan menggaet dinas terkait untuk melakukan pameran-pameran atau pertunjukan seni secara visual. Bantuan spesifik serupa, kata dia, sebaiknya juga dapat diberikan pada kelompok masyarakat lain seperti kelompok pemuka agama, pedagang kaki lima, dan sebagainya.

"Di situlah butuh kejelian dari pemimpin. Kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Semarang dan Jogjakarta juga bisa," ungkapnya.

"Memang ada bantuan-bantuan yang sifatnya terbatas pada mekanisme keuangan yang dikelola APBD, tapi perlu juga stimulasi-stimulasi lain yang muncul dari langkah cerdas dan kreatif," katanya.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers