web analytics
  

HUT Kota Bandung ke-210, Dari Danau Purba Menjadi Ibu Kota

Jumat, 25 September 2020 15:54 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, HUT Kota Bandung ke-210, Dari Danau Purba Menjadi Ibu Kota, Gunung Purba Sunda,Danau Purba Bandung,Gunung Sunda,cekungan bandung,Sejarah Bandung,sejarah kemunculan Kota Bandung,Daendels,Jalan Raya Pos,Dalem Kaum,RA Wiranatakoesemoah III,RA Wiranatakoesoemah IV,Gedung Sate,kampus ITB,Bandung Utara,Tahura Juanda

[Ilustrasi] Kota Bandung merayakan hari jadinya ke-210, Jumat (25/9/2020). Kota yang kini dihuni oleh 2,3 juta penduduk tersebut menyimpan banyak sejarah sejak awal kemunculannya. (Ayobandung.com/Attia Dwi Pinasti)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung merayakan hari jadinya ke-210, Jumat (25/9/2020). Kota yang kini dihuni oleh 2,3 juta penduduk tersebut menyimpan banyak sejarah sejak awal kemunculannya.

Dataran tinggi Bandung pada awalnya merupakan kaldera Gunung Purba Sunda yang kemudian menjadi Danau Purba Bandung. Danau tersebut merupakan danau yang terbentuk pada kurang lebih 105 ribu tahun silam di kala Pleitosen.

Diperkirakan, danau purba ini muncul akibat dari meletusnya Gunung Sunda dengan kekuatan yang besar sehingga Cekungan Bandung terbentuk. Dari cekungan inilah muncul danau purba yang kemudian mengering sekitar 16 ribu tahun lalu. Saat ini, bukti geologi Danau Purba Bandung dapat ditemukan di sekitar kawasan Padalarang.

Sementara itu, sejarah kemunculan Kota Bandung dapat ditarik ke era kolonial Belada, tepatnya pada masa ketika perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda H.W Daendels terealisasi pada 25 September 1810. Berdasarkan penuturan Sudarsono Katam dalam buku "Album Bandung Tempo Dulu", kala itu, Daendels memerintahkan Bupati Ukur RA. Wiranata Koesoema II (1794-1829) untuk memindahkan Ibu Kota Kabupaten Tatar Ukur dari Krapyak (sekarang Baleendah) ke arah utara sejauh 11 km.

Daerah tersebut tak lain adalah arah sekitar tepi Jalan Raya Pos atau Grote Postweg. Jalan tersebut adalah jalan yang dibangun Daendels sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer di ujung Jawa Barat ke Panarukan di Jawa Timur.

Di daerah Priangan, Jalan Raya Pos mulai dibangun pada 1808. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Asia Afrika-Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati.

Bupati yang mengemban perintah Daendels tersebut dikenal sebagai Dalem Kaum, dan selanjutnya dikenang sebagai tokoh pendiri Kota Bandung. Kala itu, ibu kota yang baru berdiri di Jalan Raya Pos dinamai Bandong.

Pembangunan fisik Kota Bandung sendiri mulai giat dilakukan sejak masa pemerintahan RA Wiranatakoesemoah III (1829-1846) dengan julukan Dalem Karanganyar. Pembangunan kala itu disebut masih dilakukan dengan taraf yang sederhana.

Kemudian, pembangunan terus berlanjut ketika RA Wiranatakoesoemah IV (1846-1874) atau Dalem Bintang naik jabatan. Kala itu, rumah-rumah beratap ilalang disebut perlahan mulai berganti genting. Hal ini terus berlanjut dan semakin masif terjadi di masa pemerintahan R.A.A Martanegara (1893-1918) yang juga dikenal sebagai Bapak Pembangunan Bandung.

Peta awal pembangunan Kota Bandung yang tertua yang diketahui sampai saat ini adalah Plan der Negorij Bandong (1825). Penyebutan nama Kota Bandung kala itu masih berupa "Bandong", namun diketahui mulai berubah menjadi Bandoeng pada sekitar 1847, dan kemudian berganti ejaan menjadi Bandung sejak ejaan "oe" dihilangkan pada 1947.

Perubahan Kota Bandung dari kota yang kecil menjadi kota yang besar dan tertata rapi mulai terjadi pada 1915, seiring dengan perpindahan pusat militer dari Batavia ke Bandung. Hal tersebut merupakan bagian dari persiapan pemerintah Hindia Belanda untuk menjadikan Bandung sebagai ibukota pemerintahan.

Secara bertahap, bangunan-bangunan dengan arsitektur monumental dan menjadi landmark Kota Bandung hingga saat ini mulai dibangun satu per satu. Seperti Gedung Sate pada 1920, kampus ITB (Technise Hoogeschool) pada 1920, sarana penelitian vaksin Bio Farma pada 1933, PT Pindad, Markas Kodam III Siliwangi, dan sebagainya.

Aktivitas pembagunan kota kala itu dikepalai oleh seorang mantan tentara V.L Slots, yang menduduki jabatan sebagai Directeur Gemeentelijk Bouwbedrijf. Ia banyak dibantu oleh arsitek J. Gerber.

Sejak lama, pemerintah Hindia Belanda juga banyak melakukan upaya perlindungan dan pelestarian warisan budaya lama Bandung. pada 1917, kawasan hutan di Bandung Utara dijadikan kawasan Hutan Lindung. Kawasan tersebut kaya dengan jenis flora dan fauna langka juga unik. Pada masa itu, hewan-hewan seperti kancil, meong congkok, lutung hingga surili masih dijumpai di kawasan utara.

Sejumlah situs dan artefak peninggalan zaman megalitik juga ditemukan di kawasan hutan ini seperti perkampungan purba, kapak, mata panah, dan lain-lain. Kawasan tersebut dibangun menjadi Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda sejak November 1984.

Selepas berbagai gedung dan fasilitas publik dibangun, kehidupan di Kota Bandung terus bertumbuh. Area Kota Bandung yang sempat dijadikan tempat tinggal dan pusat kegiatan para juragan perkebunan teh atau Preanger Planters juga menjadi pemicu berkembangnya kegiatan ekonomi di kota ini. 

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers