web analytics
  

BANDUNG HARI INI: 210 Tahun Bandung, dari Daendels ke Teknopolis

Jumat, 25 September 2020 09:20 WIB Fira Nursyabani
Bandung Raya - Bandung, BANDUNG HARI INI: 210 Tahun Bandung, dari Daendels ke Teknopolis, HUT Kota Bandung,HUT ke-210 Kota Bandung, Sejarah Kota Bandung,sejarah gedung Sate,Daftar nama Wali Kota Bandung,Nama-nama Wali Kota Bandung,Bandung Hari Ini,Teknopolis,Bandung,Sejarah Bandung,Bandung 25 September

Pengendara melintas di dekat bunga tabebuya yang mekar di Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu (9/10/2019). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Selamat ulang tahun Kota Bandung! Pada 25 September 1810 atau tepat 210 tahun lalu, Kota Bandung resmi berdiri atas prakarsa the founding father R. A. Wiranatakusumah II yang menjabat sebagai Bupati Bandung ke-6.

Disarikan dari situs resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Kota Bandung lahir pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Saat itu pemimpinnya adalah gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811).

Sejarah berdirinya Kota Bandung

Daendels melalui sebuah surat pada 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung R. A. Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibu kota kabupaten ke daerah Cikapundung, mendekati Jalan Raya Pos (Groote Postweg).

Jalan Raya Pos adalah jalan sejauh 1.000 km yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Asia Afrika - Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya. 

R. A. Wiranatakusumah II ternyata sudah merencanakan untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung ke tepi barat Sungai Cikapundung, pusat kota Bandung sekarang.

Alasan pemindahan ibu kota itu antara lain, Krapyak (Dayeuhkolot) tidak strategis sebagai ibu kota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan.

Sekitar akhir 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekati lahan bakal ibu kota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung) pada lahan Gedung Pakuan sekarang.

Satu tahun kemudian, Kota Bandung diresmikan. Dan pada 1 April 1906, Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz dengan luas wilayah sekitar 900 ha.

Hingga usianya yang sekarang, Kota Bandung sudah memiliki 27 wali kota. Lihat daftarnya di sini.

Calon Ibu Kota Hindia-Belanda

Sejak sekitar tahun 1920-an, Bandung disiapkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai ibu kota baru menggantikan Batavia yang udaranya membuat gerah dan rawa-rawanya menyimpan wabah. Persiapan itu tidak main-main. 

Satu per satu gedung-gedung pemerintahan didirikan kota yang berjarak 140 kilometer di tenggara Jakarta ini. Dimulai dari markas militer, lalu menyusul kantor-kantor layanan strategis, mencakup infrastruktur, transportasi, dan telekomunikasi.

Pada 1924, gedung pemerintahan yang sekarang sohor dengan nama Gedung Sate, diresmikan. Bangunan hasil perkawinan arsitektur Barat dan Timur yang tepat menghadap Gunung Tangkuban Perahu ini disebut-sebut sebagai salah satu bangunan terindah di Hindia Belanda.

Melengkapi gedung-gedung pemerintahan, Technische Hoogeschool yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) dibuka pada 1920. Setahun berselang, dibuka Rumah Sakit Borromeus di Jalan Dago. Pada 2025 giliran lapangan udara Andir, yang sekarang menjadi Bandara Internasional Husein Sastranegara, mulai melayani penerbangan.

Bandung sedang sibuk bersolek. Gedung-gedung baru melengkapi sekian banyak infrastruktur yang sudah dibuat jauh-jauh hari. Jalan Raya Pos Daendels dibangun pada awal abad ke-19, disusul kereta api pertama yang masuk ke Bandung pada penghujung abad. Bandung tumbuh pesat sebagai kota modern yang dikelilingi perkebunan di pegunungan Priangan.

Semua pembangunan tersebut, termasuk pemindahan ibu kota, tentu saja dilakukan demi kepentingan kolonial. Udara Bandung yang sejuk membuat para penguasa asal Eropa nyaman mengelola daerah jajahannya. Bukit-bukit yang mengeliling kota di dasar cekungan danau purba ini memberikan jaminan keamanan dari serangan luar.

Sejarah kemudian mencatat, rencana pemindahan ibu kota dari Batavia ke Bandung yang sudah separuh jalan ini kandas akibat depresi besar dunia atau zaman malaise yang dimulai pada 1929. Kegagalan tersebut menyisakan gedung-gedung berarsitektur indah yang sampai hari ini kokoh berdiri sebagai warisan cagar budaya.

Ratusan Cagar Budaya 

Kota Bandung memiliki ratusan bangunan bersejarah yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Sudah ada peraturan daerah (perda) khusus yang mengatur upaya pelestariannya. Salah satu landmark yang cukup terkenal, yakni Gedung Sate, yang kini menjadi kantor Gubernur Jawa Barat.

Gedung Sate Bandung. (Ayobandung.com/Irfan Al Faritsi)

Gedung Sate dibangun pada 1920–1924 di Wihelmina Boulevard (Jalan Diponegoro) dan merupakan karya monumental dari arsitek Ir. Gerber. Ulasan lebih lengkap tentang sejarah Gedung sate ada di sini.

Cekungan yang Dikelilingi Gunung

Kota Bandung memiliki kondisi geografis yang unik. Secara morfologi regional, Kota Bandung terletak di bagian tengah “Cekungan Bandung” atau Bandung Basin.

Cekungan Bandung ini dikelilingi oleh gunung berapi yang masih aktif dan berada di antara 3 patahan, yakni di utara patahan Lembang, di barat patahan Cimandiri, dan di selatan patahan dengan jalur Baleendah dan Ciparay hingga Tanjungsari. 

Kota Bandung. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Luas wilayah Kota Bandung yang mencapai 16.729,65 Ha ini juga dilalui oleh 15 sungai sepanjang 265,05 km.

Dengan kondisi itu, Kota Bandung tentunya diintai banyak potensi bencana. Namun tak bisa dipungkiri Bandung tetap menjadi primadona bagi para pelancong dan surga bagi penikmat fesyen dan kuliner.

Antara Gedebage dan Teknopolis

Setiap wali kota yang memimpin Bandung memiliki gagasan dan realisasinya masing-masing. Dada Rosada, misalnya, menggulirkan rencana pengembangan kawasan Gedebage sebagai pusat kemajuan baru. Bukan hanya dari sisi ekonomi, kawasan timur Kota Bandung ini digadang-gadang sebagai calon lokasi pusat pemerintahan yang baru menggantikan kota lama di Sumur Bandung. 

Ridwan Kamil, yang menggantikan Dada pada 2013, menggulirkan konsep teknopolis, sebuah konsep penataan ruang secara tematik lewat pengembangan bisnis dan industri berbasis teknologi tinggi. Rencana ini tertuang dalam dokumen resmi tata ruang.

Ada berbagai janji yang pernah diucapkan terkait rencana pengembangan konsep teknopolis di Gedebage ini. Mulai dari kehadiran perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka dunia hingga peluang menciptakan ratusan ribu pekerjaan. 

Rencana yang digulirkan Ridwan menjadi kontroversi di awal pengenalannya. Salah satu tudingan terkait dengan keberadaan salah satu pengembang perumahan yang menguasai ratusan hektare di kawasan tersebut. Konsep teknopolis disebut sebagai akomodasi kepentingan tertentu. 

Ridwan Kamil dalam beberapa kali wawancara membantah tudingan bahwa teknopolis identik dengan pengembang tersebut. Justru pengembang itu yang akan jadi bagian dari teknopolis.

Setelah Ridwan terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat pada 2018 lalu, belum diketahui bagaimana kejelasan keberlanjutan konsep pengembangan kawasan tersebut. 

'Kembang yang tengah Layu'

Bandung dikenal akan keindahannya sehingga mendapat julukan Kota Kembang. Bandung memang cantik dan 'harum' bagai bunga yang menarik perhatian wisatawan.

Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung, sebanyak 7,4 juta wisatawan lokal dan mancanegara mampir ke kota ini setiap tahunnya. 

Kedai kuliner dan factory outlet tersebar ke seluruh penjuru Bandung. Semuanya bergeliat seiring dengan terus bertumbuhnya kreativitas anak-anak muda Bandung yang tak berujung.

Namun di ulang tahunnya yang ke-210, kembang itu tengah layu. Wisatawan ke Kota Bandung mengalami penurunan pesat akibat munculnya pandemi Covid-19, padahal 30% penghasilan asli daerah (PAD) Kota Bandung berasal dari sektor pariwisata.

Tentu masalah tak hanya dari Covid-19. Masih banyak hal yang perlu dibenahi bersama.

Selamat ulang tahun, Kota Bandung. Semoga kembang itu bisa bermekaran kembali.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers