web analytics
  

Pemulihan Ekonomi Indonesia Mulai Terlihat di Kuartal Ketiga

Rabu, 23 September 2020 19:28 WIB
Bisnis - Finansial, Pemulihan Ekonomi Indonesia Mulai Terlihat di Kuartal Ketiga, Pemulihan Ekonomi,Ekonomi Indonesia,Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)

Ilustrasi -- Pemulihan Ekonomi. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pertumbuhan ekonomi di Tanah Air kemungkinan besar akan berada di zona resesi.

Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Raden Pardede namun melihat tren pemulihan ekonomi sudah mulai dilihat pada kuartal ketiga.

Tren yang dimaksud adalah pertumbuhan negatif ekonomi pada kuartal ketiga akan membaik dibandingkan periode April hingga Juni. Hal ini tergambarkan dari proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani pada kuartal ketiga yang tumbuh negatif 2,9 persen sampai minus 1,1 persen.

"Itu adalah salah satu catatan penting yang harus dilihat," ucap Raden dalam Webinar Arah Kebijakan Pemerintah: Keseimbangan Antara Kesehatan Dan Ekonomi, Rabu (23/9/2020).

Raden mengungkapkan, beberapa indikator ekonomi lainnya juga sudah menunjukkan adanya pemulihan. Misalnya, kenaikan indeks manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang berada pada level 50,8 pada bulan lalu. Indeks di atas 50 menggambarkan adanya ekspansi pada sektor pengolahan.

Selain itu, indikator lain seperti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, dan yield surat utang negara (SUN) disebutkan Raden menunjukkan perbaikan secara bertahap. Meski belum kembali ke level sebelum pandemi Covid-19, tren pemulihan sudah mulai terlihat.

"Rupiah yang sempat hampir Rp 16.500 per dolar AS waktu itu, sekarang di posisi Rp 14.000an, pernah juga yield SUN mencapai 8,5 persen, sekarang di level sekitar 7 atau 6,7 persen, ada perbaikan di situ," kata Raden.

Pemerintah berharap, kontraksi hingga 5,32 persen pada kuartal kedua akan menjadi titik terendah ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Selanjutnya, tren pemulihan bisa terus terjadi, meskipun secara bertahap.

Raden menambahkan, pertumbuhan negatif tidak hanya terjadi pada Indonesia. Banyak negara mengalami situasi serupa di tengah tekanan penyebaran virus corona, mulai dari negara berkembang seperti India hingga negara maju Amerika Serikat (AS).

Saat ini, Raden menuturkan, tugas utama pemerintah, masyarakat maupun semua pemangku kepentingan adalah memiliki optimisme ekonomi Indonesia mampu terus tumbuh. "Kita harus kerja keras, sehingga kuartal empat lebih baik dari kuartal ketiga, dan kuartal pertama 2021 lebih baik dari kuartal keempat," ujarnya.

Agar pemulihan lebih optimal, Raden menyebutkan, vaksin Covid-19 menjadi kunci utama. Tanpa penemuan vaksin, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi Indonesia akan sulit kembali. Dampak berikutnya, tingkat pemulihan pun tidak bisa optimal seperti yang diharapkan.

Oleh karena itu, Raden mengatakan, gabungan dan keseimbangan antara penanganan kesehatan dengan ekonomi menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. "Gabungan antara kita perbaiki kesehatan kita, kesehatan dasar, itu yang bisa membuat ekonomi kita kembali," tuturnya.

Pemerintah telah menggelontorkan stimulus penanganan Covid-19 dan PEN sebesar Rp 695,2 triliun. Jumlah tersebut diharapkan mendorong perekonomian RI sebagai bentuk intervensi pemerintah.

Dari total pagu anggaran PC-PEN mencapai Rp 695,2 triliun itu, hingga 16 September 2020 total realisasinya mencapai 36,6 persen atau Rp 254,4 triliun. Alokasi perlindungan sosial, mencapai Rp 134,45 triliun atau 60,6 persen dari pagu mencapai Rp 203,9 triliun.

Adapun realisasi yang berada di bawah 50 persen per 16 September 2020 di antaranya insentif usaha dari Rp 120,61 triliun baru terealisasi Rp 22,23 triliun atau 18,43 persen, pembiayaan korporasi masih nol persen dari pagu Rp 53,6 triliun. Kemudian belanja realisasi kesehatan mencapai Rp 18,45 triliun atau 21,1 persen dari pagu Rp 87,5 triliun, sektoral kementerian/lembaga dan pemda Rp 20,53 triliun atau 42,2 persen dari pagu Rp 106,11 triliun dan dukungan UMKM terealisasi Rp 58,74 triliun atau 47,6 persen dari pagu Rp 123,46 triliun.

"Tanpa intervensi pemerintah akan terjadi resesi luar biasa," imbuh Raden yang juga Tim Asistensi Menko Perekonomian itu.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 yang dilakukan pemerintah merupakan sebuah langkah agar masyarakat dan dunia usaha bersiap diri dalam menghadapi situasi terburuk. "Pengumuman resesi versi pemerintah merupakan cara komunikasi agar masyarakat dan dunia usaha bersiap diri menghadapi situasi yang terburuk,” kata Pengamat ekonomi INDEF Bhima Yudhistira.

Tak hanya itu, Bhima menuturkan tujuan lain dari revisi yang dilakukan oleh pemerintah juga merupakan langkah agar pasar keuangan tidak kaget terhadap pengumuman resmi mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal II. “Jadi pasar harapannya sudah price in,” ujarnya.

Bhima memperkirakan potensi terjadinya resesi pada tahun ini menunjukkan adanya tekanan yang sangat dalam pada perekonomian baik di sektor keuangan maupun sektor riil. Oleh sebab itu, ia memperkirakan akan terjadi gelombang PHK yang merata hampir di semua sektor mulai perdagangan, transportasi, properti, sampai industri sebagai upaya melakukan efisiensi pekerja untuk menekan biaya operasional.

“Jadi estimasinya ada 15 juta PHK sampai akhir tahun. Tak terkecuali banyak start up akan berguguran,” katanya.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers