web analytics
  

70% Masker KN95 China Dinilai Tidak Penuhi Standar Filtrasi

Rabu, 23 September 2020 10:03 WIB
Umum - Internasional, 70% Masker KN95 China Dinilai Tidak Penuhi Standar Filtrasi, KN95,Masker KN95

Masker KN95 (Istimewa)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Seperti namanya, masker KN95 dimaksudkan untuk menyaring 95 persen partikel aerosol. Namun, organisasi keselamatan pasien nonprofit ECRI mengeluarkan peringatan bahaya tinggi terhadap masker ini.

Sebuah analisis menemukan, 70 persen masker KN95 yang diimpor dari China tidak memenuhi standar filtrasi.

Kekurangan masker N95 memaksa rumah sakit mencari alternatif untuk melindungi petugas kesehatan yang merawat pasien Covid-19. Rumah sakit PUN ikut antre menunggu masker KN95. Rumah sakit AS membeli ratusan ribu masker KN95 yang diproduksi di China selama enam bulan terakhir.

“Kami menemukan banyak masker KN95 China yang tidak efektif melawan penyebaran Covid-19. Penggunaan masker yang tidak memenuhi standar AS, dapat menempatkan risiko infeksi pasien dan tenaga medis di garis depan,” ujar presiden dan Kepala Kantor Eksekutif ECRI, Dr Marcus Schabacker.

ECRI menguji hampir 200 masker dari 15 model pabrikan berbeda yang dibeli oleh beberapa rumah sakit terbesar di negara tersebut. Schabacker mengatakan, ada unsur tidak konsisten di antara masker yang dibuat oleh pabrikan yang sama.

"Kami prihatin dengan keselamatan pekerja tenaga medis dan pasien saat menggunakan KN95 dalam kondisi lingkup berisiko tinggi dan itulah mengapa kami menginformasikan peringatan bahaya," kata dia.

Selain masalah filtrasi, pakar kesehatan masyarakat mengkritik masker KN95, karena masker ini tidak bisa menutup rapat wajah. Masker N95 dilengkapi tali ke kepala dan leher (headloop), sementara KN95 hanya dicantelkan ke telinga (earloop).

"Penting untuk disadari, penutup yang sangat rapat di wajah kita dan dapat memberikan perlindungan adalah masker N95. Ini karena sifat penyaringan berkualitas tinggi dari masker itu sendiri,” kata seorang dokter di Lenox Hill Hospital New York, Robert Glatter, dikutip dari USA Today, Selasa (23/9).

Schabacker mengatakan, analisis ECRI mencoba melepas tali ke telinga inferior KN95 dan membuat tali yang lebih rapat lagi saat menguji model masker KN95. Hasilnya menunjukkan, meskipun masker KN95 diganti tali ke kepala dan leher, masker tersebut tidak akan melindungi tenaga medis sebaik masker N95.

Dia mengklarifikasi bahwa ini hanya berlaku untuk masker KN95 yang diproduksi di China. Karena ada beberapa masker KN95 yang diimpor dari Korea Selatan. Schabacker mengatakan, penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan pengujian masker KN95. Dia menyarankan untuk terus menggunakan masker N95.

 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers