web analytics
  

Mengajarkan Anak Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ

Rabu, 23 September 2020 09:14 WIB Netizen Joko Awal Suroto
Netizen, Mengajarkan Anak Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ, Pendidikan,IQ,EQ

Pendampingan dalam belajar untuk menumbuhkan IQ, EQ, dan SQ. (Dokumen penulis)

Joko Awal Suroto

Guru SD Negeri Mustikajaya VII Kota Bekasi

AYOBANDUNG.COM -- Baru-baru ini terjadi tindak kriminal sadis oleh sarjana di salah satu apartemen, Jakarta Pusat.

Pelaku selama kuliah tercatat sebagai mahasiswa pintar dan pernah mengikuti Olimpiade Kimia tingkat provinsi. Dia juga mengajar sejumlah mahasiswa di almamaternya dan beberapa kampus lain. Karena adanya pendemi Covid-19 yang bersangkutan tidak dapat lagi melakukan aktivitas tersebut sehingga mengalami himpitan ekonomi.

Tindakan kriminal yang dilakukannya tergolong kejam dan sadis tanpa perasaan. Dia bersekongkol melakukan pemerasan dan penipuan kepada korban hingga mengeksekusi dan memutilasinya.

Kejadian itu barangkali bisa menjadi contoh bagi kita bahwa kecerdasan emosional juga penting selain kecerdasan intelektual.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasa, What do I feel, orang menyebutnya EQ atau Emosional Quotient dan itu tidak pernah  diajarkan di bangku sekolah SD, SMP, SMA atau bahkan sampai Universitas apalagi kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual atau SQ atau Spiritual Questient atau Spiritual Inteligent, itulah kemampuan untuk mendengarkan suara hati, hati nurani yang dalam sebagai seorang manusia dan memahami siapa jati diri dan suara hati fitrah yang terdalam atau Who am I.

Hampir sebagian dari kita terbiasa mengabaikan emosi dan terbiasa mengabaikan hati nurani sambil mengatakan bahwa emosi dan hati tidak berpikir tapi ini otak yang berpikir dan inilah yang terjadi seorang intelektual berpendidikan melakukan persekongkolan jahat hingga mengesekusi dan memutilasinya.

Peristiwa keji ini menyadarkan kita sebagai seorang mualim (guru), ternyata tidak cukup mengajarkan anak kita, generasi kita hanya IQ, Inteligent Questient atau kecerdasan intelektual atau nilai akademik yang itu sudah jelas dan berdasarkan sebuat penelitian hanya berperan 10–20 persen saja tingkat keberhasilannya. Tanpa adanya kecerdasan emosional atau kemampuan merasa dan tanpa adanya kecerdasan spiritual atau kemampuan mendengar hati nurani yang terdalam, sulit untuk disebut sebagai makhluk intelektual. Semoga menjadi pelajaran besar bahwa Inteligent Quetient (IQ), dengan Emosional Quetint (EQ) dan Spiritual Questient (SQ) sebagai kecerdasan paripurna yang harus dikombinasikan. Mengajar tanpa hati nurani berarti tidak mengajar sama sekali.

Kita mengetahui bahwa pendidikan dilakukan dengan hati lewat rasa kasih sayang, keikhlasan, keagamaan (spiritual) dan suasana kekeluargaan.

Guru sebagai seorang mualim tidak dibatasi tempat dan waktu dalam mendidik murid sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Seorang guru harus ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para siswanya sepanjang waktu.

Demikian pula tempat pendidikannya tidak terbatas hanya di dalam kelas saja, dimanapun seorang guru berada, dia harus sanggup memainkan perannya sebagai seorang pendidik sejati. Seorang muallim (guru) profesional yang bukan guru-guruan seharusnya memiliki niat yang baik, niat yang tulus dalam menjalankan profesinya.

Dalam perjalanannya sebagai seorang guru profesional tidak mengharapkan imbalan atau balasan yang lebih baik dan lebih bagus dari profesinya. Menjadi guru apabila tidak disertai dengan niat yang tulus maka pekerjaannya hanya sebatas mendapatkan upah atau tunjangan guru/sertifikasi dari yang yang dikerjakannya, tak ada imbalan selain itu. Niat yang tulus sangatlah menentukan.

Jika bekerja sebagai guru dengan niat yang tulus iklhlas maka akan mendapat dua imbalan, yaitu imbalan di dunia dan imbalan di akhirat kelak. Di samping itu kita akan mendapatkan peserta didik yang memiliki kecerdasan IQ, EQ, dan SQ yang seimbang sebagai hasil dari ketulusan kita sebagai seorang muallim (guru) dalam mengajar dan mendidiknya, dimana siswa banyak meniru dan menaladani semua yang diperbuat oleh guru. Seperti semboyan pendidikan kita ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayani.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers