web analytics
  

3 Daerah di Jawa Barat Kembali Masuk Zona Merah

Rabu, 23 September 2020 09:19 WIB Nur Khansa Ranawati
Umum - Regional, 3 Daerah di Jawa Barat Kembali Masuk Zona Merah, Zona Merah Covid-19,Zona merah Jawa Barat,Kabupaten Karawang,Kota Cirebon,Kota Bekasi

Ilustrasi Swab Test. (Dok Humas Pemprov Jabar)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Zona resiko Covid-19 di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat mengalami perubahan seiring dengan dinamika kasus positif di lapangan. Saat ini, tercatat ada 3 wilayah yang masuk ke dalam zona merah alias resiko tinggi.

Ketiga daerah tersebut adalah Kabupaten Karawang, Kota Cirebon dan Kota Bekasi. Masing-masing memiliki skor 1,62, 1,80, dan 1,70. Dari data tersebut, Kota Bekasi menjadi satu-satunya daerah yang masih berada di zona merah di antara wilayah Bodebek.

"Resiko tinggi tiga kabupaten dan kota. Kota Bekasi masuk resiko tinggi, skor 1,70," ungkap Ketua Divisi Perencanaan, Riset, dan Epidemiologi Gugus Tugas Covid-19 Jabar Taufik Budi Santoso melalui keterangannya, Selasa (22/9/2020).

Adapun pemetaan zona tersebut didasarkan pada data yang diambil pada 14-20 September 2020. Selain zona merah, terdapat 14 wilayah di zona oranye atau resiko sedang dan 10 wilayah zona kuning atau resiko ringan.

Pada periode sebelumnya yakni 7-13 September, terdapat 4 daerah di Jabar yang masuk zona merah. Daerah tersebut meliputi Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi dan Kota Cimahi.

Acara Muludan di Kota Cirebon Dilarang  
Akibat dari penetapan zona merah ini, Pemkot Cirebon melarang acara Muludan yang diperingati setiap tahun. Otoritas setempat pun menyarankan opsi bagi pihak keraton sebagai upaya pelestarian budaya.

Ke-3 keraton di Cirebon hanya dibolehkan melaksanakan ritual Maulid Nabi Muhammad SAW secara internal, bila tetap berkehendak melakukannya.

Peniadaan aktivitas muludan salah satunya terutama berlaku bagi kegiatan pasar rakyat di sekitar keraton, yang selama ini rutin digelar sebulan sebelum Maulid Nabi. Puncak muludan sendiri ditandai dengan tradisi Panjang Jimat di 3 keraton, masing-masing Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

"Kami tidak merekomendasikan Muludan dengan pertimbangan untuk menjaga keselamatan masyarakat Kota Cirebon," kata Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis, Selasa (22/9/2020).

Dia mengingatkan, kasus Covid-19 di Kota Cirebon sampai kini masih menunjukkan peningkatan. Untuk mencegah perluasan penyakit menular ini, pihaknya meminta ke-3 keraton menyadari situasi sekarang.

Azis menyebut, tidak ada jaminan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dilaksanakan ketika muludan digelar. Dia memastikan, Pemkot Cirebon berkomitmen melakukan upaya pencegahan guna menekan pandemi.

Klaster Industri Karawang 
Sementara itu Kabupaten Karawang, jumlah kasus Covid-19 klaster industri di Kabupaten Karawang meningkat. Hingga Selasa (22/9), total sudah ada 194 pekerja yang dinyatakan positif Covid-19.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karawang Yayuk Sri Rahayu mengatakan lingkungan industri memang menjadi titik yang rawan penyebaran Covid-19. 

“Yang positif sudah ada 194 karyawan dari 90 perusahaan,” kata Yayuk kepada Republika.co.id, Selasa (22/9).

Yayuk menururkan saat ini masih ada 76 orang yang dalam perawatan. Sementara, 115 pekerja sudah dinyatakan sembuh, serta tiga orang meninggal dunia.

Ia mengatakan penyebaran Covid-19 di klaster industri menjadi salah satu perhatian utama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Karawang. Jika ditemukan pekerja yang positif Covid-19 pihaknya langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan.

Menurutnya, Dinkes melakukan penelusuran dan tes swab pada orang yang kontak erat dengan pekerja yang dinyatakan positif. Selain itu, kantor tempat bekerja disterilkan terlebih dahulu.

“Untuk sekarang tidak ada perusahaan yang ditutup secara total,” ujarnya.

Ia mengatakan penerapan protokol kesehatan sudah dilakukan dengan baik oleh perusahaan sesuai anjuran pemerintah mulai dari penyediaan sarana cuci tangan, handsanitizer dan pengukuran suhu. Namun, potensi penyebaran Covid-19 bisa juga terjadi dari faktor luar perusahaan.

“Protokol kesehatan di perusahaan sebenarnya lumayan bagus. Namun bisa didapat dari perjalanan, jemputan, ataupun kontak dengan tamu yang datang ke perusahaan,” tuturnya.

Masih bermunculannya pekerja yang positif di lingkungan industri, kata dia, membuat perusahaan dan karyawan harus ekstra disiplin melaksanakan protokol kesehatan di perusahaan dan di luar perusahaan. Hal itu termasuk menjaga jarak antar satu pekerja dan pekerja lainnya.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers